Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society
Yogi 180 posts
Seorang Sufi Sejati

Di bawah pandangan ruh kemanusiaan (al-Ruh al-Insaniyyah) Sa’di Syirazi mengatakan : أَنَّ الْعَارِفَ اَوْ الصُّوفِى هُوَ الَّذِى يَخْدُمُ النَّاسَ, لاَ الَّذِى يَخْتَار الْعُزْلَةَ وَالْاِعْتِكَافَ. وَاَنَّهُ لَا بُدَّ لَهُ اَنْ يَتَزَوَّدَ بِالْعِلْمِ. وَيَطْلُبُ مِنْ كُلِّ النَّاسِ حَتَّى الْحُكَّامِ اَنْ يَتَخَلَّقُوا بِأَخْلاَقِ الدَّرْوِيشِ. ...

Jalan Bertemu Allah Dan Bidadari

Satu keluarga yang hampir saban hari hadir di masjid dan tampil bak orang baik hati, saleh dan religius, akhirnya meledakkan bom bunuh diri di depan rumah ibadah umat Kristiani di Surabaya. 13.05.2018. Tubuh mereka hancur lebur berantakan. Konon aksi itu disebut oleh para pengagumnya sebagai "Istisyhad", ingin menjadi "Syahid" (pahlawan, martir). Mereka menolak sebutan "Intihar" (bunuh diri). Karena mereka tahu Intihar itu dosa besar dan masuk neraka. Sedangkan Istisyhad dijamin masuk sorga langsung tanpa melalui proses pemeriksaan amal (bi Ghair hisab). Keluarga itu tampaknya sangat yakin bahwa "Istisyhad" itulah cara tercepat dan terbaik untuk masuk sorga dan kelak akan berada di samping Tuhan. Mereka juga yakin mati dengan cara itu kelak akan mengantarkannya bertemu dan berkumpul dengan para bidadari dan "bidadara-bidadara" yang ganteng-ganteng dan perkasa-perkasa....

Warisan Terbaik adalah Pengetahuan tentang Ketuhanan

لم يكن الموت هو الذى يقلقنى . لاننى لم اكن اعتبره نهاية . بل ما كان يقلقنى هو ان أموت من دون ان أخلّف تراثا. أريد ان انقل المعارف التى توصلت اليها الى شخص آخر . سوآء كان أستاذا ام تلميذا. ...

Sesungguhnya, Segala Sesuatu Selain Allah Pasti Akan Hilang Lenyap

Labid bin Rabi'ah, adalah penyair besar Arabia yang hidup sebelum dan sesudah kenabian Muhammad Saw. Dia dipandang sebagai penyair terbesar di antara para penyair besar Arab : Imri al-Qais, Hasan bin Tsabit, Zuhair bin Abi Sulma, Nabighah al-Dzibyani dan lain-lain. Labid (atau Lubaid) adalah seorang musyrik, kafir pagan, sebelum akhirnya masuk Islam dan menjadi penyair muslim yang baik. Saat masih musyrik ia menggubah puisi-puisi yang indah. Puisi-puisinya ini memeroleh inspirasi dari ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dipelajarinya secara tekun. Ada salah satu puisinya yang sangat terkenal yang dibacakan di hadapan Nabi Saw, dan beliau memujinya. Inilah puisi yang indah dan menggetarkan kalbu pendengarnya itu :...

Mencari Kata-kata Indah

Sudah berhari-hari, suasana jiwa dan pikiran bangsa ini tampak begitu lelah dan berat. Karena harus terus melayani celoteh kebencian mereka yang tak berpikir dan hanya mengumbar hasrat egoisme yang tak pernah terpuaskan. Dalam suasana kejiwaan bangsa seperti itu, aku menemukan kembali kata-kata indah Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi. Ia memberi nasehat penting. Katanya :...

Jangan Cemaskan Esok

Seorang teman datang untuk curhat. Wajahnya tampak lesu seperti menyimpan gelisah. Lalu bercerita dengan suara lirih dan tersendat-sendat, tentang hari esok yang tak pasti, terutama rizkinya. Ada sejumlah orang di rumah yang saban hari menunggunya: isteri dan anak-anaknya. Aku hanya bilang : keadaan psikologi cemas akan esok itu dialami banyak sekali orang di bumi ini, termasuk aku. Bukan hanya untuk alasan rizki, tetapi juga untuk alasan akan hilangnya kenikmatan hidup, ditinggal kekasih, pensiun, tua dan kematian....

Menghafal atau Menalar

Berikut adalah karya tulisan dari Kyai Husein Muhammad Ada adagium yang selalu dipegang begitu erat oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam konvensional. Yaitu :...

Risalah 76 : Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia

Aku nasehatkan kepadamu supaya kamu bergaul dengan orang kaya dengan sikap mulia dan bergaul dengan orang miskin dengan sikap sopan santun. Hendaklah kamu bersikap sopan santun dan ikhlas. Keikhlasan itu membawa kepada pandangan yang kekal terhadap Allah. Janganlah kamu menyalahkan Allah di dalam masalah keduniaan. Rendahkanlah diri di hadapan-Nya. Janganlah kamu merusak hak saudaramu. Bergaullah dengan darwisy dengan sopan santun dan berakhlak baik serta ‘bunuh’-lah diri kamu, sehingga kamu hidup kembali di dalam alam kerohanian. Orang-orang yang dekat kepada Allah itulah yang baik kelakuannya. Yang penting ialah kamu harus menjauhkan diri dari mempersekutukan sesuatu dengan Allah Yang Maha Esa. Teruslah bergaul bersama manusia dengan berpegang kepada kebenaran dan kesabaran. Dan cukuplah kamu bergaul dengan darwisy dan berkhidmat kepada para wali....

Risalah 75 : Turutilah Hukum-hukum Allah

Aku memberi nasehat kepada kamu agar kamu takut dan patuh kepada Allah. Turutilah hukum-hukum Allah dan bersihkanlah hatimu. Kontrollah dirimu, relalah dengan Tuhanmu, tolonglah orang miskin dan orang yang sedang dalam kesusahan, jagalah kesucian orang-orang kerohanian, berbuat baiklah kepada seluruh anggota masyarakat, nasehatilah para kaula muda, hindarilah permusuhan dengan rekan dan teman, janganlah suka menimbun harta benda, hindarkanlah dirimu dari berkawan dengan orang-orang yang bukan golongan yang menuju jalan kerohanian dan dari menolong mereka di dalam perkara dunia dan agama. Menurut agama, hakekat kemiskinan itu ialah kamu tidak lagi memerlukan apa-apa dari orang lain yang seperti kamu juga, sedangkan kekayaan ialah kamu berada melampaui garis keperluan mahluk seperti kamu juga. Tasauf bisa didapati bukan melalui permbicaraan atau percakapan, melainkan melalui lapar dahaga dan menjauhkan diri dari apa yang kamu sukai. Janganlah kamu menonjolkan kepandaianmu di hadapan darwisy, tapi hendaklah kamu bersikap lemah lembut. Karena, jika kamu menonjolkan kepandaianmu, maka dia tidak akan merasa senang. Dia akan senang jika kamu bersikap lemah lembut....

Risalah 74 : Perbaiki Keadaan dan Suasana Dirimu Dahulu

Masalah pertama yang patut diperhatikan oleh orang yang berakal ialah keadaan dan suasana dirinya sendiri, setelah itu barulah ia melihat atau memperhatikan seluruh mahluk dan ciptaan. Dari semua itu, dapatlah diketahui di mana sumber semua itu dan siapa yang mencipta semua itu. Sebab, mahluk itu adalah tanda Al Khaliq (yang mencipta), tanda yang menunjukkan kekuasaan Yang Maha Gagah dan menunjukkan bahwa yang menciptakan itu tentu Maha Bijaksana. Adanya mahluk menunjukkan adanya Al Khaliq, karena semua mahluk itu ada lantaran Dia menciptakannya. Inilah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra dalam ulasannya tentang firman Allah, “Dan Dia jadikan untukmu segala yang di langit dan di bumi.”...

Risalah 72 : Kami Tidak Melihat Apa-apa

Orang-orang yang beragama Islam yang pergi ke pasar dengan mematuhi kehendak agama, melakukan perintah Allah seperti pergi melakukan shalat Jum’at atau upacara-upacara keagamaan lainnya atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, terdiri atas pelbagai jenis. Ada sebagian mereka yang apabila pergi ke pasar itu melihat barang-barang yang dijual di situ untuk mengisi perut dan memuaskan seleranya, terpengaruh oleh barang-barang itu dan hati mereka terikat dengannya, sehingga mereka masuk ke dalam suatu ujian. Hal ini mungkin dapat menjatuhkan dirinya dan merobohkan agamanya, lalu ia dipengaruhi oleh hawa nafsu kebinatangan, kecuali jika Allah memelihara mereka dengan rahmat-Nya dan perlindungan-Nya serta memberi mereka kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi tarikan hawa nafsu itu. Hanya dengan pertolongan Allah sajalah mereka dapat selamat....

Rislah 70 : Dekatilah Allah dan Perbaikilah Dirimu

Mengapa kamu merasa sombong dengan perbuatanmu sendiri, bangga dengan dirimu sendiri dan mengharapkan ganjaran sambil mengatakan bahwa semua ini adalah karena kekuatan yang dikaruniakan Allah kepadamu, pertolongan-Nya dan idzin-Nya ? Jika kamu bisa mengelakkan dosa dan noda, maka hal itu adalah karena pertolongan dan perlindungan Allah. Mengapa pula kamu tidak bersyukur kepada Allah atas pertolongan dan perlindungan-Nya ? Dan mengapa pula kamu tidak menyadari bahwa kebiasaanmu menghindarkan dosa itu adalah karena karunia dan rahmat Allah ? Mengapa kamu bangga dengan sesuatu yang bukan kepunyaanmu sendiri ?...

Risalah 69 : Allah Mengetahui Mana Yang Baik dan Mana Yang Buruk

Janganlah meminta kepada Allah SWT selain ampunan atas segala dosa yang telah lalu, perlindungan dari segala dosa yang sekarang dan dosa yang akan datang, kekuatan untuk ta’at kepada Allah, kekuatan untuk dapat melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, dapat rela dengan senang terhadap kesusahan dan ketentuan takdir-Nya, dapat sabar di dalam menghadapi malapetaka, dapat mensyukuri karunia-Nya, dapat mati di dalam keadaan iman dan baik serta dapat bersatu dengan golongan para Nabi, orang-orang besar, para syuhada dan orang-orang yang diridhai, karena inilah sebaik-baiknya rekan dan teman. Janganlah kamu meminta kepada Allah perkara-perkara seperti dihindarkan dari kemiskinan dan kesusahan serta diberi kekayaan dan kesenangan. Tetapi, hendaklah kamu meminta rasa senang dengan apa yang telah ditentukan-Nya dan meminta perlindungan yang kekal untuk berada di dalam suasana dan keadaan yang telah ditentukan-Nya untukmu sampai kamu dipindahkan ke lain suasana dan keadaan atau ke lain keadaan yang berlawanan. Sebab, kamu tidak mengetahui letak kebaikan. Di dalam kayakah atau miskinkah ? Di dalam kesusahankah atau di dalam kesenangankah ? Allah merahasiakan pengetahuan tentang itu kepada kamu. Dia saja yang mengetahui baik buruknya sesuatu perkara....

Risalah 68 : Allah Menerima Permohonan Hamba Pada Masa Yang Telah Ditentukan-Nya

Apabila Allah memperkenankan permohonan dan doa seorang hamba, maka ini tidak berarti bahwa simpanan Allah itu akan berkurang, karena Allah itu Maha Kaya; dan juga tidak semestinya Allah merasa terpaksa menerima permohonan hamba itu, seakan-akan Dia takluk kepada permohonan hamba itu. Sebenarnya, permohonan atau doa hamba itu sesuai dengan kehendak Allah dan juga sesuai dengan masanya. Sebenarnya, penerimaan doa itu telah tertulis dalam azalinya, dan hanya tinggal menunggu masa dikabulkan doa itu oleh Allah. Inilah apa yang dikatakan oleh orang-orang ‘arif di dalam menerangkan kalam Allah, “Setiap saat Dia dalam keadaan baru.”...

Risalah 67 : Dunia Ini Ialah Ladang Akhirat

Apabila kamu telah dapat membunuh dan mematikan dirimu, maka Allah akan menghidupkannya kembali, ia akan melawan lagi dan minta dipuaskan hawa nafsunya serta menikmati perkara-perkara yang haram dan yang diperbolehkan. Oleh karena itu, kamu masih perlu berjuang lagi dan mengawasi diri kamu itu. Dengan demikian, balasan akan dituliskan untukmu dalam setiap kali kamu berjuang. Inilah yang disabdakan oleh Nabi SAW, “Kita baru saja kembali dari jihad yang kecil (perang melawan orang-orang kafir) dan masuk kepada jihad yang besar (melawan hawa nafsu).”...

Risalah 66 : Mohonlah Kepada Allah Dengan Sepenuh Keyakinanmu

Janganlah berkata, “Aku tidak meminta apa-apa kepada Allah. Sebab, jika perkara yang aku minta itu telah ditentukan untukku, maka ia pasti datang kepadaku, baik aku memintanya maupun tidak. Jika perkara itu tidak ditetapkan untukku, maka perkara itu tidak akan aku dapatkan, sekalipun aku meminta kepada-Nya.”...

Risalah 65 : Perangilah Dirimu Sendiri Karena Allah

Mengapa kamu marah kepada Allah lantaran doamu lambat diterima-Nya ? Kamu mengatakan bahwa kamu telah dilarang meminta kepada orang dan disuruh meminta kepada Allah saja. Kamu memohon kepada-Nya, tetapi Dia tidak memperkenankan permohonanmu. Inilah jawabanku untukmu, “Apakah kamu seorang yang merdeka atau seorang budak ? Jika kamu mengatakan bahwa kamu itu seorang yang merdeka, maka itu menandakan bahwa kamu adalah seorang kafir. Tetapi, jika kamu mengatakan bahwa kamu adalah budak, maka aku akan bertanya padamu, ‘Apakah kamu akan menyalahkan tuanmu sendiri lantaran ia terlambat memenuhi permintaanmu, ragu tentang kebijaksanaan dan rahmatnya kepadamu dan kepada seluruh mahluk dan ragu tentang ilmunya yang mengetahui segala perkara ?...

Risalah 62 : Cintailah Orang Yang Mencintai Kamu

Alangkah mengherankan bila kamu selalu mengatakan bahwa si Anu itu dekat kepada Allah, tetapi si Anu itu jauh dari Allah; bahwa si Anu itu diberi karunia, sedangkan si Anu itu tidak diberi; bahwa si Anu itu dikayakan, sedangkan si Anu itu dimiskinkan; bahwa si Anu itu disehatkan, tetapi si Anu itu disakitkan; bahwa si Anu itu dimuliakan, tetapi si Anu itu dihinakan; bahwa si Anu itu dipuji, sedangkan si Anu itu dicaci; dan bahwa si Anu itu dibenarkan, sedangkan si Anu itu disalahkan. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Dia itu Satu dan bahwa Yang Satu itu menyukai kesatuan di dalam perkara cinta dan menyayangi orang yang cintanya hanya satu, yaitu kepada Dia ?...

Risalah 61 : Sesungguhnya Orang Mu’min Itu Berwaspada

Setiap mu’min harus mengadakan pemeriksaan dan penelitian terlebih dahulu serta tidak boleh tergesa-gesa ketika bagian-bagiannya sampai kepadanya dan ia terima, sampai datang perintah hukum yang menyatakan bahwa bagian itu dibolehkan untuknya dan ilmu Allah yang menghalalkan dan membenarkan bahwa bagian itu adalah untuknya. Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang mu’min itu berwaspada, sedangkan orang munafik itu terus menerkam apa saja yang datang kepadanya.” ...

Risalah 60 : Kehidupan Kerohanian

Awal kehidupan kerohanian (pengembaraan kerohanian) ialah keluar dari kehendak hawa nafsu, memasuki jalan hukum (syari’at) lalu masuk ke dalam takdir, dan setelah itu kembali masuk ke dalam kehendak nafsu, tetapi masih berada di dalam lingkaran hukum. Dengan demikian, kamu dapat keluar untuk memenuhi nafsumu di dalam hal makanan, minuman, pakaian, perkawinan, perumahan, kecenderungan dan kebebasan serta masuk ke dalam hukum-hukum (syari’at) Allah. Hendaklah kamu mengikuti Al Qur’an dan Al Hadits. Allah SWT berfirman, ...

Risalah 59 : Segala Sesuatu Itu Adalah Milik Allah

Kamu berada dalam salah satu di antara dua keadaan: menderita dan sentosa. Jika kamu menderita, maka hendaklah kamu bersabar, walaupun dengan usahamu sendiri, ini adalah peringkat yang paling tinggi. Kemudian hendaklah kamu memohon supaya ridha dengan qadha’ dan qadar Allah serta lelap di dalam qadha’ dan qadar itu. Ini sesuai dengan para Abdal, orang-orang yang memiliki ilmu kebatinan dan orang-orang yang mengetahui Allah SWT. Jika kamu berada dalam kesentosaan, maka hendaklah kamu memohon supaya kamu dapat bersyukur. Syukur ini dapat dilakukan dengan lidah, dengan hati atau dengan anggota badan....