
Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka.
“Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.”
Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar la berdesis, “Kiai Gringsing.”
Kiai Gringsing tidak menjawab. la berjalan terus ke arah orang yang terbaring itu. Dengan cekatan ia memijit-mijit beberapa bagian dari sisi luka itu, kemudian mengambil sebungkus ramu-ramuan obat-obatan dari dalam bajunya.
Terdengar orang itu berdesis, kemudian mengerang semakin keras.
“Memang agak pedih,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan akan dapat menolongmu,” berkata Kiai Gringsing sambil mengusap luka itu dengan ramuan obatnya.
Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Bawalah orang ini ke tepi hutan. Carilah air untuknya, dan bawalah ke banjar desa bersama orang-orang lain yang terluka.”
“Kiai,” potong Sumangkar, “apakah artinya ini?”
Kiai Gringsing berpaling. Dipandanginya wajah Sumangkar dalam kesamaran gelap malam.
“Biarlah aku mencoba menolong jiwanya. Aku adalah seorang dukun. Aku tidak dapat melihat seseorang yang berjuang melawan maut tanpa berbuat apa-apa. Sedang kalian masih saja bertengkar tanpa ujung pangkal. Sehingga aku tidak tahan lagi bersembunyi sambil mendengar keluhan ini.”
“Lalu, maksud Kiai seterusnya.”
“Biarlah Agung Sedayu kembali ke Sangkal Putung. Akulah yang akan mengambil alih tugasnya,” sahut Kiai Gringsing.
Mendengar jawaban Kiai Gringsing itu wajah Sumangkar menjadi merah padam. la tahu benar arti kata-kata itu. Dan ia tahu, akibat dari kata-kata itu pula. Karena itu sesaat ia terbungkam. Bukan saja Sumangkar yang terkejut, tetapi juga Agung Sedayu terkejut. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kiai, apakah Kakang Untara akan membenarkan?”
“Kakangmu tidak akan berbuat apa-apa. Baginya, siapa saja yang melakukan perintahnya tidak ada bedanya.”
Sedayu masih ragu-ragu. la masih saja berdiri di tempatnya. Sehingga Kiai Gringsing berkata pula, “Selagi masih ada kesempatan, maka setiap jiwa yang terancam maut harus mendapat pertolongan. Adalah wajib kita berusaha, namun apabila ditentukan lain, kita manusia tidak dapat melawan kehendak-Nya.”
Tetapi Agung Sedayu masih ragu-ragu. Dan karena Agung Sedayu ragu-ragu Kiai Gringsing berkata, “Agung Sedayu, pergilah. Bukankah kau masih dapat mengenal jalan kembali. Tempat ini masih belum terlampau dalam-dalam. Kau dapat mengikuti jejak prajurit Jipang dalam-dalam arah yang berlawanan.”
“Tetapi perintah itu.”
“Serahkan kepadaku. Kakakmu adalah seorang Senapati yang cerdik. Aku tahu benar, kenapa yang diperihtahkannya adalah kau. Bukan orang lain. Padahal Untara tahu, siapakah Adi Sumangkar itu. Kakakmu pasti mempunyai perhitungan sendiri. Ia pasti, bahwa aku tidak akan melepaskan kau sendiri dalam tingkat sekarang. Sebab kakakmu segan untuk langsung meminta aku melakukan pekerjaan ini.”
Terasa sesuatu bergetar di dada Agung Sedayu. Ternyata bukan dirinya sendirilah sasaran dari perintah kakaknya. “Hem,” Sedayu menarik nafas dalam-dalam.
Terdengarlah pula Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Bahkan seakan-akan orang tua itu mengeluh.
“Sekarang pergilah,” perintah Kiai Gringsing.
Agung Sedayu tidak dapat menghindar lagi. Perintah kakaknya baginya sama beratnya dengan perintah gurunya. Namun bahwa gurunya akan mengambil alih tugasnya, telah membesarkan hatinya.
Perlahan-lahan Agung Sedayu menyarungkan pedangnya. Dan perlahan-lahan pula ia berjongkok di samping gurunya. Dengan hati-hati, orang yang terluka itu dipapahnya pada kedua tangannya.
“Berat?” bertanya Kiai Gringsing.
“Cukup berat,” sahut Agung Sedayu.
“Hati-hatilah. Kalau kau telah memberinya minum maka orang itu akan dapat kau papah pada lambungnya. Mungkin ia dapat menggantungkan dirinya pada pundakmu. Kalau tidak, kau masih harus mengangkatnya sampai kebanjar desa.”
Agung Sedayu mengangguk, jawabnya, “Baik Kiai.”
Ketika Agung Sedayu kemudian berputar dan melangkah, terdengar Sumangkar menggeram. “Kiai, ternyata senapati Pajang itu tidak berkata sejujur hatinya.”
“Kenapa?” sahut Kiai Gringsing.
Agung Sedayu yang mendengar perkataan Sumangkar itu berhenti sambil berpaling. Tetapi Kiai Gringsing berkata, “Berjalan terus Sedayu. Jangan menunggu orang itu mati.”
Sedayu mengangguk. Ia melangkah kembali meninggalkan gurunya dan Sumangkar masuk ke dalam gelapnya malam yang semakin kejam.
Orang di tangannya itu masih mengerang. Bahkan terdengar ia berbisik, “Akan kau bawa kemana aku, Kisanak.”
“Mencari air,” sahut Agung Sedayu.
Orang itu terdiam. Namun perasaannya bergolak tidak menentu. la tidak tahu, apakah yang telah mendorong prajurit Pajang itu menyelamatkannya. Karena itu, maka rasa heran dan haru berkecamuk di dalam dadanya.
“Kisanak,” desisnya lirih, “bukankah bagimu lebih mudah menusukkan pedangmu ke ulu hatiku dari pada membawa aku mecari air?”
Agung Sedayu tidak menjawab. Dalam keadaan demikian Agung Sedayu sama sekali tidak teringat lagi batas antara prajurit Pajang dan prajurit Jipang. Namun perasaan kemanusiaannyalah yang telah mendesak semua persoalan yang pernah ada antara dirinya, sebagai seorang yang berada dalam barisan Pajang dan orang itu prajurit Jipang.
Sepeninggal Agung Sedayu, Kiai Gringsing berdiri berhadapan dengan Sumangkar yang masih membawa tubuh Macan Kepatihan di pundaknya. Keduanya berdiri tegak dalam jarak beberapa langkah saja.
“Kiai,” berkata Sumangkar, “kalau benar Angger Untara akan mengusahakan pengampunan kenapa Untara masih dikungkung oleh perasaan curiga.”
“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.
“Ternyata Untara masih mengirim seseorang untuk mengikuti aku. Bukankah dengan demikian, pengampunan yang dikatakan itu tidak lebih dari satu jebakan saja bagi Jipang.”
“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “kita yang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap. Sudah tentu bukan hanya Angger Untara yang bercuriga, bukankah kau bercuriga pula? Bukankah kau bercuriga bahwa perkataan Untara itu hanya sekedar sebuah pancingan.
“Kalau tidak,” sahut Sumangkar, “ia tidak akan mengirim seseorang untuk mengikuti aku.”
“Tetapi sebelum kau temukan Agung Sedayu di sini, kecurigaan telah ada di hatimu. Bukankah kau katakan bahwa kau sudah menyangka bahwa seseorang akan mengikuti jejakmu? Bukankah itu juga semacam perasaan curiga? Nah, kita sama-sama curiga. Lebih baik tidak usah aku ingkari. Tetapi kecurigaan kami didasari atas kemauan yang baik. Siapa yang menyerah, akan mendapat pergampunan meskipun tidak mutlak seperti kata-kata Angger Untara. Yang tidak mau menyerah itulah yang akan dimusnakan. Karena itu Angger Agung Sedayu harus tahu, jalan yang dapat ditempuh untuk menghancurkan mereka yang membangkang perintah.”
Sumangkar masih saja berdiri seperti patung. Namun hatinya berkata seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu pula, “kita yang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap.”