Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Api di Bukit Menoreh seri 1 - 13

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka.

“Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.”

Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar la berdesis, “Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. la berjalan terus ke arah orang yang terbaring itu. Dengan cekatan ia memijit-mijit beberapa bagian dari sisi luka itu, kemudian mengambil sebungkus ramu-ramuan obat-obatan dari dalam bajunya.
Terdengar orang itu berdesis, kemudian mengerang semakin keras.

“Memang agak pedih,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan akan dapat menolongmu,” berkata Kiai Gringsing sambil mengusap luka itu dengan ramuan obatnya.

Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Bawalah orang ini ke tepi hutan. Carilah air untuknya, dan bawalah ke banjar desa bersama orang-orang lain yang terluka.”

“Kiai,” potong Sumangkar, “apakah artinya ini?”

Kiai Gringsing berpaling. Dipandanginya wajah Sumangkar dalam kesamaran gelap malam.

“Biarlah aku mencoba menolong jiwanya. Aku adalah seorang dukun. Aku tidak dapat melihat seseorang yang berjuang melawan maut tanpa berbuat apa-apa. Sedang kalian masih saja bertengkar tanpa ujung pangkal. Sehingga aku tidak tahan lagi bersembunyi sambil mendengar keluhan ini.”

“Lalu, maksud Kiai seterusnya.”

“Biarlah Agung Sedayu kembali ke Sangkal Putung. Akulah yang akan mengambil alih tugasnya,” sahut Kiai Gringsing.

Mendengar jawaban Kiai Gringsing itu wajah Sumangkar menjadi merah padam. la tahu benar arti kata-kata itu. Dan ia tahu, akibat dari kata-kata itu pula. Karena itu sesaat ia terbungkam. Bukan saja Sumangkar yang terkejut, tetapi juga Agung Sedayu terkejut. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kiai, apakah Kakang Untara akan membenarkan?”

“Kakangmu tidak akan berbuat apa-apa. Baginya, siapa saja yang melakukan perintahnya tidak ada bedanya.”

Sedayu masih ragu-ragu. la masih saja berdiri di tempatnya. Sehingga Kiai Gringsing berkata pula, “Selagi masih ada kesempatan, maka setiap jiwa yang terancam maut harus mendapat pertolongan. Adalah wajib kita berusaha, namun apabila ditentukan lain, kita manusia tidak dapat melawan kehendak-Nya.”

Tetapi Agung Sedayu masih ragu-ragu. Dan karena Agung Sedayu ragu-ragu Kiai Gringsing berkata, “Agung Sedayu, pergilah. Bukankah kau masih dapat mengenal jalan kembali. Tempat ini masih belum terlampau dalam-dalam. Kau dapat mengikuti jejak prajurit Jipang dalam-dalam arah yang berlawanan.”

“Tetapi perintah itu.”

“Serahkan kepadaku. Kakakmu adalah seorang Senapati yang cerdik. Aku tahu benar, kenapa yang diperihtahkannya adalah kau. Bukan orang lain. Padahal Untara tahu, siapakah Adi Sumangkar itu. Kakakmu pasti mempunyai perhitungan sendiri. Ia pasti, bahwa aku tidak akan melepaskan kau sendiri dalam tingkat sekarang. Sebab kakakmu segan untuk langsung meminta aku melakukan pekerjaan ini.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Agung Sedayu. Ternyata bukan dirinya sendirilah sasaran dari perintah kakaknya. “Hem,” Sedayu menarik nafas dalam-dalam.
Terdengarlah pula Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Bahkan seakan-akan orang tua itu mengeluh.

“Sekarang pergilah,” perintah Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak dapat menghindar lagi. Perintah kakaknya baginya sama beratnya dengan perintah gurunya. Namun bahwa gurunya akan mengambil alih tugasnya, telah membesarkan hatinya.

Perlahan-lahan Agung Sedayu menyarungkan pedangnya. Dan perlahan-lahan pula ia berjongkok di samping gurunya. Dengan hati-hati, orang yang terluka itu dipapahnya pada kedua tangannya.

“Berat?” bertanya Kiai Gringsing.

“Cukup berat,” sahut Agung Sedayu.

“Hati-hatilah. Kalau kau telah memberinya minum maka orang itu akan dapat kau papah pada lambungnya. Mungkin ia dapat menggantungkan dirinya pada pundakmu. Kalau tidak, kau masih harus mengangkatnya sampai kebanjar desa.”

Agung Sedayu mengangguk, jawabnya, “Baik Kiai.”

Ketika Agung Sedayu kemudian berputar dan melangkah, terdengar Sumangkar menggeram. “Kiai, ternyata senapati Pajang itu tidak berkata sejujur hatinya.”

“Kenapa?” sahut Kiai Gringsing.

Agung Sedayu yang mendengar perkataan Sumangkar itu berhenti sambil berpaling. Tetapi Kiai Gringsing berkata, “Berjalan terus Sedayu. Jangan menunggu orang itu mati.”

Sedayu mengangguk. Ia melangkah kembali meninggalkan gurunya dan Sumangkar masuk ke dalam gelapnya malam yang semakin kejam.

Orang di tangannya itu masih mengerang. Bahkan terdengar ia berbisik, “Akan kau bawa kemana aku, Kisanak.”

“Mencari air,” sahut Agung Sedayu.

Orang itu terdiam. Namun perasaannya bergolak tidak menentu. la tidak tahu, apakah yang telah mendorong prajurit Pajang itu menyelamatkannya. Karena itu, maka rasa heran dan haru berkecamuk di dalam dadanya.

“Kisanak,” desisnya lirih, “bukankah bagimu lebih mudah menusukkan pedangmu ke ulu hatiku dari pada membawa aku mecari air?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dalam keadaan demikian Agung Sedayu sama sekali tidak teringat lagi batas antara prajurit Pajang dan prajurit Jipang. Namun perasaan kemanusiaannyalah yang telah mendesak semua persoalan yang pernah ada antara dirinya, sebagai seorang yang berada dalam barisan Pajang dan orang itu prajurit Jipang.

Sepeninggal Agung Sedayu, Kiai Gringsing berdiri berhadapan dengan Sumangkar yang masih membawa tubuh Macan Kepatihan di pundaknya. Keduanya berdiri tegak dalam jarak beberapa langkah saja.

“Kiai,” berkata Sumangkar, “kalau benar Angger Untara akan mengusahakan pengampunan kenapa Untara masih dikungkung oleh perasaan curiga.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ternyata Untara masih mengirim seseorang untuk mengikuti aku. Bukankah dengan demikian, pengampunan yang dikatakan itu tidak lebih dari satu jebakan saja bagi Jipang.”

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “kita yang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap. Sudah tentu bukan hanya Angger Untara yang bercuriga, bukankah kau bercuriga pula? Bukankah kau bercuriga bahwa perkataan Untara itu hanya sekedar sebuah pancingan.

“Kalau tidak,” sahut Sumangkar, “ia tidak akan mengirim seseorang untuk mengikuti aku.”

“Tetapi sebelum kau temukan Agung Sedayu di sini, kecurigaan telah ada di hatimu. Bukankah kau katakan bahwa kau sudah menyangka bahwa seseorang akan mengikuti jejakmu? Bukankah itu juga semacam perasaan curiga? Nah, kita sama-sama curiga. Lebih baik tidak usah aku ingkari. Tetapi kecurigaan kami didasari atas kemauan yang baik. Siapa yang menyerah, akan mendapat pergampunan meskipun tidak mutlak seperti kata-kata Angger Untara. Yang tidak mau menyerah itulah yang akan dimusnakan. Karena itu Angger Agung Sedayu harus tahu, jalan yang dapat ditempuh untuk menghancurkan mereka yang membangkang perintah.”

Sumangkar masih saja berdiri seperti patung. Namun hatinya berkata seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu pula, “kita yang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap.”

104

Terdengar Agung Sedayu menggeram. Namun hatinya menjadi semakin keras ketika ia mendengar orang Jipang itu berbisik, “Serahkan saja. Biarlah aku dibunuhnya, supaya kau selamat.”

“Tidak,” geram Agung Sedayu. Kemudian kepada Hudaya ia berkata, “Paman Hudaya, ternyata Paman Hudaya sekarang tidak seperti Paman Hudaya yang aku kenal pertama-tama aku datang. Bahkan tidak seperti Paman Hudaya lusa. Paman Hudaya sekarang ini adalah seorang yang sama sekali berbeda.”

“Tutut mulutmu,” potong Hudaya. “Lepaskan orang itu. Biarkan ia terbaring di tanah. Aku ingin mencincangnya. Kau dengar?”

“Aku dengar,” sahut Agung Sedayu, “Tetapi aku tidak akan melakukannya.”

“He,” mata Hudaya terbelalak. Sinar obor yang lemah seakan-akan telah membakar mata, sehingga memancar kemerah-merahan. “Kau berani membantah perintahku?”

“Kau tidak berhak memberikan perintah itu.”

“Kalau tidak ada Widura, Hudaya adalah orang tertua kau dengar.”

“Aku bukan prajurit Pajang. Aku tidak terkena keharusan untuk mematuhi perintah siapapun di sini. Kalau aku patuh terhadap Paman Widura, ia adalah pamanku. Dan kalau aku menurut perintah Kakang Untara, karena ia adalah kakakku. Kau bukan pamanku dan bukan ayahku. Kau tidak berhak memberikan perintah itu. Sedangkan orang lain yang berhak memberikan perintah kepadaku adalah Kiai Gringsing, guruku. Dan perintah itu berbunyi, “Selamatkan orang ini.”

Mata Hudaya menyala mendengar jawaban Agung Sedayu. Apalagi ketika Agung Sedayu menegaskan, “Bukankah begitu Paman. Bukankah Paman sendiri tadi mengatakan bahwa aku bukan seorang prajurit.”

Terdengar gigi Hudaya gemeretak. Tiba-tiba Hudaya yang telah menjadi sangat marah itu berkata pula, “Di medan perang kekuasaan berada di tangan prajurit. Setiap orang harus tunduk pada perintah. Kaupun harus tunduk meskipun kau bukan seorang prajurit.”

Agung Sedayu benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak akan menyerahkan orang ini, tetapi ia juga tidak ingin berbenturan di antara kawan sendiri. Karena itu Agung Sedayu mencoba untuk mencari cara yang sebaik-baiknya untuk ia yakin, bahwa apabila terpaksa ia harus menarik pedangnya, ia akan dapat membiarkan Hudaya terjatuh sendiri karena kepayahan. Ia dapat membiarkan dirinya diserang tanpa membalas dengan serangan. Kemampuannya akan memungkinkan berbuat demikian sampai Hudaya berhenti sendiri karena kehabisan nafas. Apalagi orang ini telah terluka. Namun dengan demikian akan tertanam bibit kebencian dan dendam di antara sesama mereka.Tetapi terasa juga betapa hatinya meronta. Perbuatan itu adalah perbuatan anak-anak. Tetapi ia harus menemukan cara.

Ketika sekali lagi ia memandangi wajah Hudaya, terasa hatinya berdesir. Wajahnya memang wajah yang gelap dan keras sejak ia melihatnya yang pertama. Tetapi wajah itu tidak pernah tampak seliar kali ini.

Tiba-tiba kembali Agung Sedayu teringat kepada Sindati. Kekerasan dan keliaran yang menyala di wajahnya, bahkan setiap saat. Anak muda itu benar-benar anak muda yang kasar dan liar. Hudaya bukanlah orang yang demikian. Kali ini ia menjadi kasar dan liar karena sebuah kejutan perasaan yang telah menggoncangkan hatinya.

Namun dengan kenangannya atas Sidanti, Agung Sedayu menemukan suatu cara untuk menahan arus kemarahan Hudaya. Ketika ia melihat Hudaya maju selangkah, Agung Sedayu kemudian berkata, “Paman Hudaya, apakah Paman benar-benar tidak dapat mencegah diri?”

“Diam!” bentaknya. “Serahkan orang itu!”

“Apakah Paman akan mencincangnya?”

“Ya, aku akan mencincangnya.”

“Baiklah,” sahut Sedayu.

Terasa orang yang menggantung di pundaknya berdesis, perlahan-lahan ia berbisik ke telinga Agung Sedayu. “Tolong, bunuh aku dahulu. Kau dapat menusuk lambungku dengan pedangmu, supaya aku segera terbunuh sebelum aku merasakan siksaan yang mengerikan.”

“Mudah-mudahan itu tidak terjadi,” sahut Agung Sedayu.

“Apa yang kau katakan?” bertanya Hudaya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menyahut, “Orang yang bernama Supa ini bertanya, apakah orang inikah yang bernama Sidanti?”

“Setan. Apakah aku akan kau samakan dengan iblis kecil itu? Aku bernama Hudaya. Sama sekali bukan Sidanti. Apakah persamaannya antara Hudaya dan Sidanti, he? Jangan membuat aku bertambah marah.”

“Maaf Paman, ia hanya bertanya.”

“Kenapa kau yang memintakan maaf untuk orang Jipang itu?”

“Maaf Paman, maksudku, pertanyaan itu tidak terlampau salah.”

Sekali lagi mata Hudaya terbelalak. Sekali lagi ia membentak, “Kenapa? Aku bukan Sidanti, tahu!”

“Maksudku,” sahut Agung Sedayu, “Pertanyaan orang ini masuk akal. Sidanti pernah mencincang Plasa Ireng di medan perang setelah ia berhasil membunuh dengan pedangnya. Sekarang orang ini mendengar keinginan yang sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti itu. Mencincang lawannya. Namun Sidanti mencincang lawan yang telah dibunuhnya sendiri dengan pedangnya di medan perang dan orang itu pada saat hidupnya adalah senopati pengapit di sayap kiri lawan, sedang orang ini adalah seorang prajurit kecil yang tak berarti. Juga tidak terbunuh di medan perang oleh tangan Paman Hudaya sendiri.”

“Cukup!” terdengar suara Hudaya melengking memecah sepi malam, menggeletar memenuhi lapangan dan halaman banjar desa. Betapa suara itu telah mengejutkan hampir setiap orang yang berdiri di regol halaman, maupun di dalam halaman.
Namun Agung Sedayu tidak terkejut. Ia memang mengharap Hudaya marah dan berteriak. Ia mengharap orang-orang yang berada di dalam banjar akan mendengar teriakan itu. Kecuali itu Agung Sedayu masih mempunyai harapan lain. Mudah-mudahan Hudaya menyadari keadaannya.

Ternyata harapan Agung Sedayu kedua-duanya berhasil. Teriakan Hudaya itu telah didengar oleh Untara dan Widura, sehingga dengan tergesa-gesa keduanya turun ke halaman. Tetapi yang lebih penting bagi Agung Sedayu adalah ketika kemudian ia melihat Hudaya itu menundukkan wajahnya. Setelah ia melepaskan tekanan yang menghimpit dadanya dengan sebuah teriakan yang menggelegar, tiba-tiba seakan-akan dadanya menjadi jernih. Tiba-tiba ia teringat pula apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti. Alangkah mengerikan. Ia pernah mengutuk habis-habisan di dalam hatinya ketika ia melihat Sidanti membelah punggung Plasa Ireng, kemudian berdiri di atas mayatnya sambil sesumbar. Ia merasa ngeri sendiri. Alangkah buasnya anak itu. Seakan-akan ia telah kehilangan segenap kemanusiaannya. Tiba-tiba dalam kegelapan pikiran hampir-hampir saja ia melakukannya pula. Hampir-hampir saja ia mencincang orang seperti apa yang dilakukan oleh Sidanti itu.

Terasa suatu desir yang tajam menggores jantung Hudaya. Hatinyapun menjadi pedih karenanya, melampaui pedihnya lukanya yang ditimbulkan oleh senjata Sanakeling.

Supa, orang Jipang yang menggantung di pundak Agung Sedayu melihat pula perubahan sikap Hudaya. Bahkan ia melihat Hudaya itu kemudian melangkah mundur. Tetapi Supa itu sama sekali tidak tahu apakah yang bergolak di dalam hati Hudaya.

Ketika Untara dan Widura hadir di tempat itu, Hudaya telah mundur beberapa langkah lagi. Bahkan ia kini telah berdiri di antara para penjaga yang merubungnya.
“Siapakah yang berteriak?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Apabila ia menyebut nama Hudaya, apakah hati orang itu tidak tersinggung kerenanya? Namun ternyata Hudaya tidak mengingkari keadaannya. Maka katanya, “Aku yang berteriak.”

“Kenapa?” bertanya Widura.

Hudaya menarik nafas. Kemudian jawabnya, “Hampir aku khilaf. Aku akan membunuh orang Jipang yang datang bersama Angger Agung Sedayu. Untunglah Angger Agung Sedayu tidak memberikannya.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu sendiri ternyata segera dapat diatasi. Tetapi bagaimana dengan janji Untara yang pernah diucapkan pada saat Tohpati meninggal. Untara, atas nama Panglima Wira Tamtama menjanjikan pengampunan bagi mereka yang menyerah. Tanggapan itu sama sekali kurang menyenangkan bagi prajurit. Seperti sikap Hudaya itu adalah suatu gambaran perasaan para prajurit Pajang. Amatlah sulit untuk melenyapkan permusuhan dalam waktu yang pendek. Apalagi pada saat-saat terakhir, korban telah berjatuhan dari kedua belah pihak, sehingga peristiwa itu seakan-akan telah membakar dendam di hati mereka.

Ternyata bukan saja Widura yang menjadi berdebar-debar karenanya. Jawaban Hudaya langsung menyentuh hati Untara pula. Hudaya adalah seorang yang telah cukup mengendap. Seorang yang memiliki pandangan yang cukup luas dan jauh. Tetapi menghadapi orang-orang Jipang dadanya seakan-akan meluap. Apalagi orang-orang lain.

Meskipun demikian Untara masih tetap dalam pendiriannya. Pendirian itu adalah pendirian Panglima Wira Tamtama. Karena itu ia mengharap bahwa ia akan dapat memenuhinya. Namun haruslah diketemukan cara yang sebaik-baiknya, sehingga tidak terjadi peristiwa yang tidak dikehendaki. Orang-orang yang sesat itu datang kembali, namun kawan-kawan sendiri menjadi sakit hati karenanya. Apalagi ada di antara mereka yang hatinya menjadi patah dan kehilangan gairah perjuangan.
Selagi Widura dan Untara masih berdiam diri karena angan-angan mereka, terdengar Hudaya berkata, “Maafkan aku Kakang Widura. Mudah-mudahan aku untuk seterusnya dapat mengekang diri sendiri.”

Widura mengangguk. Jawabnya, “Kau ternyata sedang mengalami goncangan perasaan Hudaya. Beristirahatlah. Mudah-mudahan kau akan mendapat ketentraman hati. Juga agar lukamu tidak menjadi semakin parah karenanya.”

Hudaya mengangguk dalam-dalam. Kemudian sambil melangkah surut ia menjawab, “Baiklah. Mudah-mudahan lukaku segera dapat sembuh. Tetapi sejak tadi aku belum melihat Ki Tanu Metir yang biasanya dapat mengobati luka-luka dengan baik.”

“Ia akan segera kembali, Paman.” sahut Untara.

Hudaya tidak menjawab. Sejenak kemudian ia telah menghilang di antara beberapa penjaga yang berdiri berjejalan dengan beberapa orang prajurit dan anak-anak Sangkal Putung yang ingin melihat peristiwa itu.

Hudaya yang kemudian masuk ke dalam halaman banjar desa langsung pergi ke gandok kanan. Di antara beberapa orang yang terluka ia membaringkan dirinya. Namun angan-angannya terbang jauh menelusuri awan di langit yang tinggi. Beberapa perasaan hilir mudik di kepalanya. Sekali ia bersyukur bahwa ia telah dibebaskan dari suatu perbuatan yang buas dan liar. Namun sekali-sekali timbulah sesalnya. Kenapa orang Jipang tadi tidak saja ditikamnya sampai mati tanpa minta ijin lebih dahulu dari Agung Sedayu. Kenapa ia tidak berusaha melepaskan dendamnya atas kematian orang-orang Pajang, bahkan sahabatnya terdekat Citra Gati? Apakah orang-orang Jipang itu juga mengenal cara yang serupa atas orang-orang Pajang yang terluka? Tidak. Orang-orang Pajang yang terluka tidak pernah mengalami perawatan apapun. Apalagi perawatan, bahkan mereka sama sekali tidak dipedulikannya. Apalagi ada kesempatan, orang Jipang pasti akan berebut tidak untuk menolongnya, tetapi untuk mencincangnya.

Namun setiap kali, ia sadar atas kekhilafannya. Setiap kali ia teringat kepada Sidanti, setiap kali ia berterima kasih kepada Agung Sedayu.

Sepeninggal Hudaya, sejenak di luar regol halaman banjar desa itu menjadi senyap. Masing-masing mencoba melihat keadaan menurut pengamatan masing-masing. Beberapa orang prajurit benar-benar menyesal, kenapa mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta mencincang orang Jipang itu. Namun beberapa orang lain menyadari keadaan mereka yang sesaat tumbuh di dalam dada Hudaya.

Sejenak kemudian terdengarlah Untara bertanya, “Siapa orang yang kau bawa itu Sedayu?”

“Supa, orang Jipang,” sahut Agung Sedayu.

“Kenapa orang itu kau bawa kemari?” bertanya Untara pula.

Agung Sedayu heran mendengar pertanyaan kakaknya. Tetapi ia menjawab pula, “Aku menemukannya terluka di dalam hutan ketika aku sedang mencoba mencari jejak Paman Sumangkar.”

Untara mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “Kau tidak menjalankan perintahku. Kau harus mengikuti jejak Paman Sumangkar sampai kau menemukan tempat orang-orang Jipang berkemah. Sekarang kau kembali membawa orang yang terluka itu. Bukankah dengan demikian berarti kau melanggar perintahku?”

Api di Bukit Menoreh seri 1 - 12 _ Api di Bukit Menoreh seri 1 - 14