Menggarisbawahi teks (highlighting) pakai stabilo berwarna-warni di buku ternyata termasuk metode belajar dengan efektivitas paling rendah menurut riset psikologi. Cara yang jauh lebih efektif adalah Active Recall, menguji diri sendiri dengan pertanyaan.
Spark
Tips menulis cepat: Terapkan prinsip
"Write with the door closed, edit with the door open" (Stephen King).
Saat menulis draf pertama, ketik saja semuanya tanpa peduli salah ketik atau tata bahasa. Proses mengedit itu ada waktunya sendiri nanti.
Ada istilah menarik namanya Zeigarnik Effect. Otak kita cenderung lebih mudah mengingat tugas atau materi yang belum selesai (incomplete tasks) daripada tugas yang sudah tuntas. Makanya, belajar dicicil pakai jeda itu lebih membekas daripada sistem kebut semalam!
Menghafal sebelum tidur ternyata lebih efektif! Studi menunjukkan bahwa tidur tepat setelah mempelajari sesuatu membantu otak melakukan konsolidasi memori, sehingga informasi tersebut lebih melekat kuat di ingatan keesokan harinya.
Fakta psikologi: Membaca buku fisik (cetak) ternyata memberikan pemahaman mendalam (deep reading) yang jauh lebih baik dan retensi memori yang lebih kuat dibandingkan membaca teks yang sama lewat layar gadget.
Kutipan dari sosiolog Alvin Toffler yang selalu ngena:
"Orang yang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak bisa belajar (learn), melupakan yang tidak relevan (unlearn), dan belajar kembali (relearn)."
Tahu gak kenapa kita sering dapat ide brilian pas lagi mandi? Itu namanya The Shower Effect. Saat otak kita lagi rileks dan melakukan aktivitas autopilot, hormon dopamin dilepaskan, dan jaringan otak justru bekerja menghubungkan ide-ide kreatif.