Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Cara Mengenali Seseorang Pengidap Sindrom Munchausen yang di Salah Artikan Sebagai Mental Health

Ketika kita membahas tentang kesehatan mental tentu sebuah topik yang sangat berat untuk di jelaskan, pasal nya kesehatan mental yang terjadi pada seorang individu memiliki banyak gejala dan ciri khas yang berbeda dan sulit di bedakan antara individu normal. Di era modern seperti sekarang berbanding terbalik ketika kita membahas tentang topik ini sudah banyak sekali kasus kasus tentang kesehatan mental yang sebenarnya masih di ragukan ke validan faktanya.

Contohnya di sosial media banyak sekali pengguna-pengguna akun sosial media mengatas nama kan kesehatan mental sebagai senjata bagi mereka untuk mendapat kan kepuasan atas apa yang mereka lakukan dengan berniat mendapatkan simpatik atau perhatian karena mereka hanya kesepian, atau trauma kecil saja. Tentu lebih sulit sekarang membedakan antara individu yang benar mengalami kesehatan mental dengan yang hanya mengidap hal tersebut yang disebut Sindrom Munchausen.

Apa itu Sindrom Munchausen, Sindrom Munchausen adalah gangguan mental yang dicirikan dengan penderitanya yang sering pura-pura sakit. Kondisi ini disebut juga dengan factitious disorder dan umumnya berkaitan dengan trauma masa kecil. Sindrom yang paling sering dialami oleh orang berusia dewasa muda ini, tergolong sebagai masalah mental karena berkaitan dengan gangguan emosional yang berat. Orang dengan sindrom Munchausen bisa tampak sangat meyakinkan. Akibatnya, dokter memberikan kan penanganan yang tidak perlu, seperti obat atau operasi.

Tanda dan gejala Sindrom Munchausen

Penderita sindrom munchausen mendapatkan kepuasan tersendiri dari simpati yang diraih jika mereka berpura-pura sakit atau menjadi korban. Beberapa gejala yang menandakan kondisi ini di antaranya:

  • Memiliki riwayat pernah melakukan berbagai macam tes kesehatan, prosedur medis, bahkan operasi yang sebenarnya tidak saling berhubungan dengan kondisi kesehatan.
  • Merasakan berbagai gejala penyakit yang tidak saling berhubungan satu sama lain.
  • Meski telah melalui pemeriksaan medis secara intensif, tidak ditemukan gangguan kesehatan yang signifikan.
  • Gejala baru yang berbeda-beda, namun setelah tes medis menunjukkan hasil negatif.
  • Memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang berbagai macam penyakit.
  • Sering mengunjungi dokter, bahkan hingga ke luar kota atau ke luar negeri.
  • Kerap datang ke unit gawat darurat, biasanya di berbagai rumah sakit yang berbeda.
  • Justru meminta anjuran untuk operasi atau prosedur medis lain di tubuhnya meski tidak diperlukan.
  • Saat sakit, sulit untuk sembuh walau telah menjalani berbagai perawatan. Penyakit yang dialami pun sering kambuh tanpa alasan yang jelas.
  • Riwayat medis yang diberikan dramatis (berlebihan) tapi tidak konsisten.
  • Gejala yang dialami tidak jelas, tidak terkontrol, dan menjadi makin parah atau berubah setelah pengobatan dimulai.
  • Terdapat luka bekas operasi yang banyak
  • Pasien enggan memberi kesempatan bagi dokter untuk bertemu atau berbicara dengan keluarga, teman, atau dokter lain.
  • Mengalami masalah identitas dan kepercayaan diri.

Cara menghadapi Sindrom Munchausen

Sindrom ini muncul karena ketidak jujuran dari sang pengidap dapat di katakan bahwa cara menghadapi atau menyembuhkan nya cenderung lebih sulit, karena seseorang tersebut melakukannya secara sadar dengan niat tertentu. Namun para orang –orang terdekatnya dapat mempelajari bagaimana merespon seseorang dengan Sindrom ini, yaitu dengan tidak mendukung, maupun menyalahkan perilaku penderita sindrom tersebut secara berlebihan. Langkah ini dianggap dapat mengurangi frekuensi penderita berpura – pura sakit, karena sudah tidak ada lagi perhatian yang didapatkannya dari perilaku tersebut.

Semoga artikel ini dapat membantu.

Referensi :

https://www.sehatq.com/artikel/sindrom-munchausen-sulit-diatasi-dengan-konsultasi-psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *