Maafkan dirimu. Tindakan pengampunan tertinggi adalah ketika kita bisa memaafkan diri sendiri atas semua luka yang telah kita buat dalam hidup. Pengampunan adalah tindakan mencintai diri sendiri. Ketika kita memaafkan diri sendiri, penerimaan diri dimulai dan cinta diri tumbuh. — Miguel Angel Ruiz Macías
Jika pengampunan hanya milik Tuhan, apakah itu artinya manusia tidak bisa melakukannya?
Tidak, nyatanya kita sebagai manusia bisa untuk memaafkan dan mengampuni.
Forgiveness atau yang dalam bahasa Indonesia disebut pengampunan adalah pelepasan rasa benci dan marah. Pengampunan artinya proses internal sukarela individu melepaskan perasaan dan pikiran dendam, kepahitan, kemarahan, dan kebutuhan untuk membalas dendam dan pembalasan terhadap seseorang yang kita yakini telah berbuat salah kepada kita, termasuk diri kita sendiri. Pengampunan adalah tingkat tertinggi dari kedamaian didalam diri. Ini ibarat ilmu bela diri secara emosional, saat kita menangkis serangan dan melucuti senjata lawan dengan kesabaran dan ketenangan dan melakukan serangan balik secara elegan dengan berdamai.
Sejatinya berbuat kesalahan adalah hal yang manusiawi, tetapi memaafkan dan pengampunan juga bagian dari sifat manusia. Pengampunan bisa menjadi hadiah untuk diri sendiri atau orang lain, seperti sesuatu yang kita terima atau bisa juga menggambarkan kualitas suatu hubungan saat seseorang harus mampu memaafkan diri sendiri untuk bisa memaafkan orang lain. Pengampunan bukanlah rekonsiliasi artinya seseorang tidak harus kembali ke hubungan yang sama atau menerima perlakuan yang sama.
Sebelum memaafkan dan mengampuni orang lain, hal yang harus kita lakukan adalah self-forgiveness atau memaafkan diri sendiri. Proses memaafkan diri sendiri adalah sebuah tantangan yang menyakitkan tetapi juga sangat berharga. Kunci dari proses ini adalah mengakui kesalahan seseorang, memahami mengapa itu terjadi, dan membantu memperbaikinya. Mulailah mengakui bahwa kita bersalah dan bertanggung jawab atas luka yang kita sebabkan. Renungkan mengapa peristiwa itu terjadi dan identifikasi bagaimana menghindari situasi serupa di masa depan. Kemudian cobalah memusatkan perhatian dan pikiran, lalu katakan atau tulis apa yang kamu rasakan. Dengan begitu, kamu akan memiliki gambaran yang jelas tentang perasaanmu sehingga akan lebih mudah untuk memaafkan.
Selanjutnya, bagaimana memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita?
Pengampunan menjadi lebih menantang ketika orang yang menyakiti kita memberikan permintaan maaf yang tidak tulus atau bahkan tidak meminta maaf. Robert Enrigh mengemukakan tentang empat langkah pengampunan. Langkah pertama adalah mengungkap kemarahan dengan cara mengeksplorasi bagaimana kitaa menghindari atau mengatasi emosi tersebut. Langkah kedua adalah membuat keputusan untuk memaafkan. Mulailah dengan mengakui bahwa mengabaikan atau menghiindar tidak akan memperbaiki keadaan dimasa depan. Langkah ketiga, yaitu menumbuhkan sikap memaafkan dengan mengembangkan rasa kasih sayang kepada orang yang menyakiti kita. Renungkan apakah tindakan yang ia lakukan didasari niat jahat atau ketidaksengajaan. Terakhir, lepaskan emosi yang terpendam dan renungkan bagaimana kita mungkin telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari pengalaman dan tindakan pengampunan itu sendiri.
Pengampunan bukanlah melupakan atau berpura-pura hal yang menyakitan itu tidak terjadi. Itu memang terjadi dan menyakitkan, tetapi kita memilih untuk fokus pada hikmah yang bisa kita ambil tanpa perlu menahan rasa sakit dihati. Pengampunan sangat penting bagi kesehatan mental mereka yang telah menjadi korban. Ini mendorong individu untuk move on daripada membuat mereka terus menerus memikirkan ketidakadilan atau trauma yang mereka alami. Pengampunan telah terbukti meningkatkan suasana hati, meningkatkan optimisme, dan menjaga dari kemarahan, stres, kecemasan, dan depresi. Seseorang bisa menjadi lebih pemaaf, tetapi hal ini tentu membutuhkan upaya berkelanjutan dan investasi energi yang signifikan jika kita ingin terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
“Jika harapan memberi kita sayap, pengampunan akan menjadi hal yang paling kita butuhkan untuk bangkit.”
Referensi:
Ponton, L., MD. (2016, May 17). What is Forgiveness? Psych Central. https://psychcentral.com/lib/what-is-forgiveness#2
Psychology Today. (n.d.-a). Forgiveness. Retrieved October 14, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/basics/forgiveness
Souders, B. M. (2021, March 4). What is Forgiveness and What Are the Benefits? PositivePsychology.Com. https://positivepsychology.com/forgiveness-benefits/