Apa yang disebut moral? Bagaimana moral seseorang berkembang? Pertanyaan ini telah menggelitik para orangtua, filsuf, pemimpin agama selama berabad-abad. Moral sendiri dapat didefinisikan sebagai tolak ukur individu dalam berperilaku baik atau buruk yang tercermin melalui pemikiran atau konsep, sikap, dan tingkah laku individu sebagai pribadi, masyarakat, maupun warga negara (Ananda, 2017). Sementara itu, perkembangan moral terdiri dari perkembangan pikiran, perasaan, dan perilaku menurut aturan dan kebiasaan mengenai hal-hal yang seharusnya dilakukan individu ketika berinteraksi dengan orang lain (Santrock, 2010). Dengan menggunakan sesi wawancara kepada anak-anak tentang serangkaian cerita yang mengandung dilema moral selama 20 tahun, Kohlberg menemukan bahwa alasan dibalik keputusan yang dikemukakan oleh anak-anak tersebut merupakan indikasi bahwa terdapat perkembangan moral yang lebih besar daripada keputusan yang telah disampaikan. Dari hasil wawancara tersebut, Kohlberg mendeskripsikan tiga level pemikiran moral, yang masing-masing level terdiri dari dua tahap. Tiga level pemikiran moral tersebut terdiri dari penalaran prakonvensional, penalaran konvensional, dan penalaran pascakonvensional. Kohlberg menyatakan bahwa orang-orang berkembang melalui tahap-tahap tersebut dengan tingkatan yang berurutan dan pemahaman moral memiliki keterkaitan dengan perkembangan kognitif (McLeod, 2013). Level terendah dari perkembangan moral adalah penalaran prakonvensional (praconventional reasoning). Dalam level ini, baik dan buruk diinterpretasikan berdasarkan hadiah dan hukuman yang bersifat eksternal. Level ini terdiri dari 2 tahap (Cherry, 2021):
- Tahap 1. Moralitas heteronomi (heteronomous morality) merupakan tahap pertama dari penalaran prakonvensional, dimana pada tahap ini pemikiran moral berkaitan dengan hukuman. Seperti misalnya seorang anak harus menyikat giginya sebelum tidur agar tidak dimarahi oleh orangtuanya.
- Tahap 2. Individualism and Exchange. Pada tahap ini, individu mempertimbangkan sudut pandang mereka dan menilai suatu tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan mereka. Individu berpikir bahwa apabila mereka baik terhadap orang lain, maka orang lain akan bersikap sama seperti mereka.
Lalu level kedua atau menengah dari perkembangan moral adalah penalaran konvensional (conventional reasoning) dimana individu menerapkan standar-standar sosial tertentu yang berasal dari pihak lain, seperti masyarakat, orang tua, atau guru. Tahapan dari level ini terdiri dari (Cherry, 2021; Santrock, 2010):
- Tahap 3. Developing Good Interpersonal Relationships. Pada tahap ini, indvidu fokus kepada bagaimana cara memenuhi harapan dan peran sosial dari orang lain. Individu juga menghargai kepercayaan, kepedulian, dan loyalitas terhadap orang lain sebagai acuan dasar dari penilaian moral. Pada tahap ini, individu seringkali mengadopsi standar moral dari orang tua atau panutan mereka.
- Tahap 4. Maintaining Social Order. Pada tahapan ini, penilaian moral didasarkan pada pemahaman mengenai ketertiban sosial, hukum, dan keadilan. Ketika membuat penilaian, individu mulai mempertimbangkan masyarakat secara keseluruhan. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan dan menghormati otoritas.
Lalu level yang terakhir dan tertinggi dari perkembangan moral adalah penalaran pasca konvensional (postconventional reasoning) dimana pada level ini individu telah mengembangkan pemahaman-pemahaman tentang prinsip-prinsip abstrak moralitas. Tahapan dari level ini adalah:
- Tahap 5. Social Contract and Individual Rights. Pada tahapan ini, individu mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan keyakinan orang lain. Aturan hukum penting untuk memelihara masyarakat, tetapi hukum harus menjamin dan melindungi masyarakat sehingga aturan ini harus disetujui oleh masyarakat.
- Tahap 6. Universal Principles. Tahapan ini merupakan tahapan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, individu mengembangkan standar moral berdasarkan hak-hak asasi manusia secara universal. Ketika dihadapkan pada sebuah konflik antara hukum dan suara hati, individu akan memutuskan bahwa suara hati sebaiknya diikuti, meskipun keputusan tersebut memiliki risiko bertentangan dengan aturan dan hukum
Semoga bermanfaat!! Sumber Gambar: https://republikseo.net/pengertian-moral/ Referensi: Ananda, R. (2017). Implementasi Nilai-nilai Moral dan Agama pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1(1), 19. https://doi.org/10.31004/obsesi.v1i1.28 Cherry, K. (2021, April 12). Kohlberg’s Theory of Moral Development. https://doi.org/10.1159/000288210 McLeod, S. (2013). Kohlberg’s Theory of Moral Development | Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/kohlberg.html Santrock, J. (2010). LIFE-SPAN Development (Ed-13). New York: McGraw-Hill.