Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Atribusi: Kok Orang Bisa Gitu Sih?

Pernahkah sobat Psike memikirkan mengapa seseorang berperilaku? Mengapa seseorang hendak menolong korban-korban bencana alam? Mengapa seseorang rela membantu teman-teman di sekolah untuk mengerjakan tugas bersama? Atau mengapa seorang guru mau mengajar murid-muridnya?

Kita pasti pernah menduga-duga alasan-alasan di balik seseorang melakukan perilaku kepada orang lain. Dugaan-dugaan yang kita berikan kepada orang tersebut biasanya dilandasi atas informasi-informasi yang pernah kita dapatkan sebelumnya. Hasil dugaan ini biasa digunakan untuk menebak-nebak tentang diri seseorang atau perilaku apa yang kiranya akan dilakukan orang tersebut di masa yang akan datang.

Dugaan-dugaan yang kita berikan kepada orang lain biasa dikenal dengan istilah atribusi. Atribusi melihat bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mencari tahu asal usul sebuah perilaku dari seseorang, sebagai usaha untuk dirinya mengetahui dan memahami perilaku yang dimaksud. Atribusi sendiri memiliki tiga dimensi, berikut adalah tiga dimensi atribusi:

1. Sumber Internal/Eksternal 

Atribusi internal memiliki arti bahwa sumber dari atribusi atau dugaan kita kepada orang lain berasal dari dalam diri (orang yang diduga). Contohnya kita menduga-duga seseorang berperilaku demikian akibat kemampuan atau sifat yang dimilikinya. Sedangkan atribusi eksternal berarti sumber dari atribusi tersebut berasal dari luar diri seseorang. Contohnya kita menduga-duga seseorang berhasil menyelesaikan ujian sekolah karena keberuntungan atau karena tesnya mudah.

2. Sumber Stabil/Labil

Atribusi dapat dipengaruhi oleh keadaan atau kestabilan sumber perilaku mereka. Sumber perilaku bisa saja berasal dari suatu hal yang sifatnya permanen (sifat, karakter, kepribadian) atau hal-hal yang bersifat sementara (kondisi sosial, stres, suasana hati). Misalnya ketika kita menduga seseorang yang berperilaku membanting piring ketika marah kepada kakaknya. Emosi dan perilaku yang muncul mungkin saja muncul karena saat itu orang tersebut sedang memiliki suasana hati yang buruk atau sedang stres. Bukan karena memiliki tempramen yang tinggi.

3. Sumber Terkontrol/Tidak Terkontrol

Sumber atribusi juga bisa dikaitkan dari hal-hal yang memang bisa dikontrol seseorang atau sama sekali tidak bisa dikontrol oleh orang tersebut. Sebagai contoh, hal-hal yang bisa dikontrol seperti keinginan untuk berperilaku memasak, mencuci, atau menyapu. Berbeda halnya dengan hal-hal yang tidak bisa dikontrol seperti hujan turun, bencana alam, atau kematian.

Mungkin kita pernah melakukan atribusi kepada orang lain baik itu secara sadar ataupun secara tidak sadar. Dalam menduga-duga perilaku seseorang, bisa saja kita melakukan kesalahan atas dugaan kita terhadap orang tersebut. Kesalahan mendasar dalam atribusi sering kali dilakukan akibat seseorang yang menduga-duga terlalu mementingkan sumber internal dari individu (sifat, kemampuan, atau kepribadian) dan mengabaikan peranan dari sumber esktenal (situasi, kondisi sosial, lingkungan). 

Ketika menduga-duga seseorang hendaknya didasarkan pada fakta dan disampaikan dengan bahasa yang baik dan sopan. Melakukan atribusi atau menduga-duga kepada orang lain boleh-boleh saja, asal tidak menyebarkan informasi yang tidak terpercaya dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Semoga dari penjelasan singkat mengenai atribusi sobat Psike sudah lebih paham tentang fenomena yang ada di sekitar kita. 

 

 

References:

  1. King, L. A. (2017). Psikologi umum – Sebuah pandangan apresiatif. Salemba Humanika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *