Dalam belajar ternyata tidak serta merta adanya ‘peristiwa belajar”. Salah satu tokoh bernama Robert Gagne, mengemukakan terdapat 9 peristiwa atau kejadian dalam pembelajaran. Kesembilan tahapan (fase belajar) ini harus dilakukan secara berurutan dan setiap tahap belajar perlu di dukung oleh suatu peristiwa pembelajaran tertentu agar pada setiap fase belajar menghasilkan aktivitas (proses belajar) yang maksimal dalam diri siswa. Apa sajakah itu?
1. Memelihara atau memeroleh perhatian (Gaining Attention)
Kejadian belajar pertama adalah mendapatkan perhatian. Kegiatan ini merupakan proses guru dalam memberikan stimulus kepada siswa dengan cara meyakinkan siswa bahwa mempelajari materi tersebut itu penting. Hal ini agar siswa siap melaksanakan pembelajaran yang akan diberikan dan untuk membangkitkan minat siswa terhadap apa yang akan dipelajari.
Contoh: menampilkan gambar melalui proyektor mengenai macam-macam bangun datar yang diberi label pada masing-masing gambar. Diantaranya terdapat beberapa segitiga siku-siku dalam berbagai ukuran, warna, dan posisi.
2. Menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran (Informing the learner of the objective)
Guru mengupayakan untuk memberitahu siswa akan tujuan pembelajaran. Hal ini bertujuan agar siswa memahami apa saja keterampilan yang harus mereka kuasai setelah mengikuti kegiatan belajar dan juga termotivasi untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran.
Contoh: menjelaskan kepada siswa bahwa mereka akan belajar mengidentifikasi segitiga sikusiku.
3. Merangsang ingatan tentang pelajaran sebelumnya (Stimulating recall of prior learning)
Merangsang ingatan mengenai pelajaran sebelumnya yang terkait dengan stimulus yang akan diberikan. Hal ini dapat berupa konsep, aturan, atau keterampilan. Andriyani (2008) menambahkan, dengan pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa dalam memori kerjanya, diharapkan siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan lamanya dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari.
Contoh: guru menanyakan lagi definisi segitiga siku-siku.
4. Menyajikan stimulus (Presenting the content)
Menyajikan stimulus bisa dilakukan dengan cara guru menyajikan materi pembelajaran secara menarik dan menantang. Sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung. Isi stimulus yang disajikan harus spesifik sesuai dengan hasil yang ingin dicapai.
Contoh: guru membagi siswa kedalam 4 kelompok. Dalam pembagian kelompok ini guru juga mengajak siswa untuk menghitung berapa jumlah teman dalam satu kelompoknya. Pada tiap-tiap kelompok, guru membagikan masing-masing 10 permen. Aturan mainnya tiap anggota kelompok bekerjasama menjawab pertanyaan guru mengenai penjumlahan dan pengurangan yang guru lakukan menggunakan media benda. Apabila kelompok tersebut salah maka kelompok tersebut wajib mensodaqohkan satu buah permennya kepada kelompok lain.
5. Menyediakan bimbingan belajar (Providing “learning guidance”)
Guru harus membimbing siswa dalam proses belajarnya. Sehingga siswa dapat terarah dalam pembelajarannya.
Contoh: dalam proses penghitungan/pemberian soal yang diberikan oleh guru, siswa satu kelompok diminta untuk menghitungnya sembari guru menunjukkan jumlah bilangan tersebut.
6. Menampilkan kinerja (Eliciting performance)
Meminta siswa menunjukkan kemampuan yang telah dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajarinya.
7. Memberikan umpan balik (Providing feedback)
Hal ini bertujuan untuk memperkuat pelajaran yang baru diperoleh. Umpan balik yang diberikan berupa informasi tentang tingkat kebenaran atau ketidaktepatan hasil belajar.
Contoh: menginformasikan kepada siswa apakah gambar yang dipilih sudah tepat atau belum tepat. Diiringi dengan tambahan penjelasan mengenai hal-hal yang masih belum tepat.
8. Menilai hasil kerja (Assesing performance)
Hal ini bertujuan untuk memeriksa mengenai pembelajaran yang terjadi setelah pemberian umpan balik. Hal ini dilakukan setelah pemberian stimulus tambahan.
Contoh: meminta siswa untuk memilih kembali gambar yang lain. Kemudian memberikan penilaian terhadap hasil kerjanya.
9. Meningkatkan retensi dan transfer (Enhacing retention and transfer)
Hal ini mengacu pada memindahkan kemampuan belajar ke ingatan jangka panjang dan memindahkannya ke dalam situasi baru di luar lingkungan belajar. Dapat dilakukan dengan cara mengulas kegiatan belajar yang telah berlangsung dan memberikan contoh penerapan dalam kehidupan nyata. Contoh: menyimpulkan kejadian belajar yang telah berlangsung dan memberikan contoh kejadian nyata yang berkaitan dengan bentuk segi tiga siku-siku.