Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa itu Psikologi Indigenous?

Wilhelm Wundt menyadari kalau dalam penelitian psikologi terdapat banyak batasan. Menurut Wundt, proses dasar sensoris kita dalam melakukan investigasi itu banyak terbentuk dari bahasa dan budaya (Danzig, 1979). Sehingga Wundt melakukan observasi dengan sangat mempertimbangkan faktor Bahasa, budaya, dan dongeng. Kajian ini dikenal dengan volkerpsychologie yang diterjemahkan Danzig (1979) sebagai psikologi budaya atau entnospsychology (Kim, 1990).

Untuk mendefinisikan  Indigenous psychology  kita perlu menarik benang dari defenisi psikologi itu sendiri secara umum. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental (King, 2016). kemudian berkembang lagi menjadi ilmu yang mempelajari tentang fikiran (proses mental), otak, dan perilaku manusia. Karena psikologi ini general mempelajari tentang perilaku dan proses mental manusia secara general, maka harus bisa diterapkan atau diaplikasikan pada seluruh manusia dari latar belakang budaya, Bahasa, negara dan etnis apapun (Matsutomo, 2011). Namun, teori psikologi yang banyak berkembang di barat khususnya amerika, tidak selamanya bisa diterapkan pada budaya yang berbeda. Contohnya ketika pelajar-pelajar luar amerika misalnya Asia yang mempelajari psikologi disana kemudian membawa teori tersebut dan mengaplikasikannya di penelitian-penelitian pada masyarakat Asia ternyata mendapatkan hasil yang berbeda. Contohnya penelitian yang dilakukan Ichida dkk (2004) tentang konstruk Happines. Ia menemukan bahwa happiness dibarat itu (amerika utara) orang akan mendapatkan Happines itu berdasarkan pada personal achievement. Hal ini dipengaruhi oleh kecenderungan budaya orang-orang di amerika yang individualis. Sedangkan prediktornya adalah self-esteem. Namun , ketika teori ini dilakukan di Asia, happiness tidak di didominasi oleh personal achievement tapi lebih kearah sosial harmoni yang artinya dimana seorang itu mampu berfungsi produktif di lingkungan sosialnya.

Apa Indigenous psychology itu?

Indigenous psychology itu adalah salah satu pendekatan yang mempelajari fakta fenomena psikologi tergantung pada makna dan konteksnya (Kim, 1990). Indigenous psychology memiliki filosofi utama ‘’if u want to understand people, then you need understand by its context”. Sehingga kalau kita ingin mempelajari orang dari suatu budaya maka harus dipelajari oleh orang yang berasal dari budaya tersebut.

Indigenous psychology mencoba untuk memperluas batas dan substansi psikologi umum. Meskipun  Indigenous psychology  dan umum berupaya menemukan fakta, prinsip, dan hukum universal perilaku manusia, titik awal penelitiannya berbeda. Psikologi umum berusaha untuk menemukan prinsip-prinsip dekontekstual, mekanis, dan universal dan mengasumsikan bahwa teori psikologis saat ini bersifat universal (Koch & Leary, 1985). Indigenous psychology membahas ke-universalitas teori psikologis yang ada dan upaya untuk menemukan universal psikologis dalam sosial, konteks budaya dan ekologi (Kim & Berry, 1993; Yang, 2000). Indigenous psychology  merupakan pendekatan di mana konten (yaitu, makna, nilai, dan kepercayaan) konteks (yaitu, keluarga, sosial, budaya, dan ekologi) secara eksplisit dimasukkan ke dalam desain penelitian. (Kim, Yang, & Hwang, 2006).

 

Terdapat sepuluh karakteristik dari Indigenous psychology, yang dijelaskan oleh Kim, Yang, & Hwang, (2006), yaitu :

  1. Indigenous psychology menekankan pada pekajian fenomena psikologis dalam suatu konteks: familia, sosial, politik, filosofis, sejarah, percintaan, religiusitas, budaya dan ekologis. Sehingga dalam pengkajiannya psikologi indigenous akan lebih relevan dan efektif karena ada kesesuaian antara teori dan budaya.
  2. Indigenous psychology bukan studi tentang masyarakat Asli, kelompok etnis, atau orang yang tinggal di negara tertentu.
  3. Indigenous psychology adalah bagian dari tradisi ilmiah di mana aspek penting dari upaya ilmiah adalah penemuan metode yang tepat untuk fenomena yang diteliti. Hasil dari berbagai metode harus diintegrasikan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena psikologis yang dikaji.
  4. Menurut Indigenous psychology hanya penduduk asli atau orang dalam suatu budaya yang dapat memahami fenomena adat dan budaya dan bahwa orang luar hanya dapat memiliki pemahaman yang terbatas. Namun, sudut padangan internal dan sudut pandang eksternal diperlukan dalam memberikan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi tentang fenomena psikologis.
  5. Indigenous psychology berbeda dengan psikologi naïf Heider (1958), Heider (1958) mencatat bahwa dibidang perilaku interpersonal “orang biasa memiliki pemahaman yang besar dan mendalam dari dirinya sendiri dan orang lain, meskipun tidak dirumuskan atau samar-samar dipahami, memungkinkan dia untuk berinteraksi dalam waktu kurang lebih secara adaptif.”
  6. Konsep-konsep Indigenous telah dianalisis sebagai contoh-contoh Indigenous psychology. Konsep philotimo di Yunani (orang yang “sopan, berbudi, dapat diandalkan, bangga”, Triands, 1972), anasakti di India (“non detachment”,Pande & Naidu, 1992), amae di Jepang (“Indlgent dependence”, Doi, 1973), kapwa di Filiphina (“identitas yang sama dengan orang lain”, Enriquez, 1973) dan jung di Korea (“kelekatan dan afeksi yang mendalam”, Choi, Kim, & Choi, 1993) telah dianalisis dan berbagai sindroma terkait budaya) telah diintroduksikan (Yap, 1974).
  7. Para pakar Indigenous psychology yang mencari buku-buku filsafat atau keagamaan untuk menjelaskan fenomena Mereka menggunakan philosophical treaties (seperti Confusion Classics) atau buku keagamaan (Al-Quran atau Wedha) sebagai penejelasan fenomena psikologis.
  8. Indigenous psychology diidentifikasikan sebagai bagian dari tradisi ilmu budaya.
  9. Indigenous psychology menganjurkan pengaitan antara humanitas (misalnya; filsafat, sejarah, agama dan kesastraan yang difokuskan pada pengalaman manusia).
  10. Penelitian Indingenous psychology melibatkan mengambil teori, konsep, dan metode psikologis yang sudah ada dan memodifikasi mereka agar cocok dengan konteks budaya lokalnya.

 

Daftar Pustaka

Kim, U. (1990). Indigenous Psychology Science and Aplications. In R. W. Brislin (Eds.). (1990). Applied Cross-cultural Psychology. Sage

Kim, U., Yang, K. S., & Hwang, K. K. (Eds.). (2006). Indigenous and cultural psychology: Understanding people in context. Springer Science & Business Media.

King, L. A. (2016) Psikologi Umum. Penerbit Salemba Humanika

Matsumoto, D., van de Vijver, F. J. R.  (Eds.). (2010) Cross-cultural Research Methods in Psychology. Cambridge University Press.

Uchida, Y., Norasakkunkit, V., & Kitayama, S. (2004). Cultural constructions of happiness: theory and emprical evidence. Journal of happiness studies, 5(3), 223-239. DOI : 10.1007/s10902-004-8785-9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *