Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Aku Lelah Mendengar Curhatan Orang Lain

Pernahkah kalian merasa lelah untuk berempati kepada orang lain? Kok bisa ya orang lelah berempati? Mengapa hal itu bisa terjadi? Yuk kita bahas…

Compassion fatigue merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami lelah secara emosional dan fisik karena mendengar dan menghadapi situasi di mana orang lain terluka secara fisik atau emosional. Compassion fatigue pada dasarnya merupakan gejala burnout, jika terlalu banyak tenggelam dalam kondisi ini dan dibiarkan tanpa penanganan pasti akan menyebabkan individu mengalami kejenuhan (Ordway et al., 2020).

Compassion fatigue tidak hanya dialami oleh profesional tertentu, melainkan semua orang memiliki risiko mengalami hal ini. Dikarenakan perkembangan zaman, semua peristiwa yang terjadi dapat disiarkan secara langsung melalui TV, laptop, dan smartphone (Psychology Today, 2014). Tanda-tanda seseorang mengalami compassion fatigue adalah (Psychology Today, 2014):

  • Merasa terbebani oleh penderitaan orang lain
  • Menyalahkan orang lain atas penderitaan mereka
  • Mengisolasi diri sendiri
  • Kehilangan kesenangan dalam hidup
  • Sulit berkonsentrasi
  • Insomnia
  • Kelelahan fisik dan mental
  • Emosi tertahan
  • Mimpi buruk meningkat
  • Perasaan putus asa atau tidak berdaya
  • Sering mengeluh tentang pekerjaan atau hidup Anda
  • Makan berlebihan
  • Penggunaan obat-obatan atau alkohol secara berlebihan
  • Perawatan diri yang buruk
  • Mulai mendapatkan banyak keluhan tentang pekerjaan atau sikap individu
  • Denial

Dampak dari compassion fatigue dapat dilihat dari perspektif kognitif, emosi, perilaku, dan somatis. Dari perspektif kognitif, individu mungkin mengalami penurunan konsentrasi, apatis, dan meminimalisasi trauma. Dari perspektif emosional, individu mungkin merasa tidak berdaya, marah, bersalah, depresi dan mengalami mimpi yang buruk. Dari perspektif perilaku, individu mungkin menjadi lekas marah, murung, dan menarik diri. Sedangkan dari perspektif somatis, individu mungkin menjadi berkeringat, detak jantung yang cepat dan pusing (Kapoulitsas & Corcoran, 2014).

Bagi individu yang mengalami compassion fatigue, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan (Psychology Today, 2014):

  • Meningkatkan kesadaran individu terkait compassion fatigue
  • Menerima diri
  • Bertukar informasi dan perasaan dengan orang-orang yang dapat memahami individu
  • Memperjelas batasan pribadi
  • Bersikap baik kepada diri sendiri
  • Membicarakan apa yang dibutuhkan
  • Mengambil tindakan positif untuk mengubah lingkungan

 

Semoga Bermanfaatt!!

 

Sumber Gambar: https://cetc.org.au/blog/understanding-vicarious-trauma-and-compassion-fatigue/

 

Referensi:

Kapoulitsas, M., & Corcoran, T. (2014). Compassion fatigue and resilience: A qualitative analysis of social work practice: Qualitative Social Work, 14(1), 86–101. https://doi.org/10.1177/1473325014528526

Ordway, A. M., Moore, R. O., Casasnovas, A. F., & Asplund, N. R. (2020). Understanding Vicarious Trauma, Burnout, and Compassion Fatigue in High-Conflict Divorce: The Family Journal, 28(2), 187–193. https://doi.org/10.1177/1066480720904028

Psychology Today. (2014, July 28). Are You Suffering from Compassion Fatigue? | Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/high-octane-women/201407/are-you-suffering-compassion-fatigue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *