Kemampuan berempati merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Kemampuan ini sangat berperan dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari penjualan dan manajemen, hingga asmara dan mendidik anak, dari belas kasih hingga tindakan politik. Tiadanya empati dapat terlihat pada psikopat, kriminal, pemerkosa, dan pedofil. Lalu, bagaimana empati berkembang?
Hasil penelitian para ahli menyatakan bahwa akar empati dapat diketahui dari masa bayi. Dari mulai saat mereka lahir, bayi akan terganggu apabila mendengar bayi lain menangis (respons yang oleh beberapa orang dianggap sebagai tanda-tanda awal empati). Para ahli psikologi perkembangan anak menemukan bahwa bayi merasakan beban stress simpatetis bahkan sebelum mereka sepenuhnya menyadari bahwa entitas mereka terpisah dari orang lain. Beberapa bulan setelah mereka dilahirkan, bayi memberi reaksi terhadap gangguan orang-orang disekitarnya seolah-olah gangguan itu ditujukan kepadanya. Mereka menangis bila bayi lain menangis.
Pada umur kurang lebih satu tahun, mereka mulai menyadari bahwa gangguan itu bukan ditujukan untuk mereka melainkan untuk orang lain. Namun, mereka masih bingung tentang bagaimana mengatasi gangguan tersebut. Dalam penelitian oleh Martin L. Hoffman, seorang anak berumur satu tahun menggandeng ibunya untuk menghibur seorang temannya yang sedang menangis, meskipun ibu teman tersebut berada di ruangan yang sama. Kebingungan ini juga terlihat ketika mereka meniru kemalangan orang lain dengan tujuan untuk memahami lebih baik apa yang anak lain rasakan. Seperti misalnya, apabila jari temannya terluka, anak akan mengulum jarinya sendiri untuk mengetahui apakah ia juga terluka.
Empati berasal dari bahasa yunani “empatheia” yang berarti ikut merasakan. Namun, Titchener menggunakan istilah “mimikri motor” pada tahun 1920-an untuk mendeskripsikan empati secara teknis. Menurut Titchener, empati (mimikri motor) berasal dari peniruan secara fisik atas beban orang lain yang kemudian menimbulkan perasaan serupa dalam diri seseorang. “Mimikri motor” menghilang dari anak-anak pada usia dua setengah tahun, ketika mereka telah menyadari bahwa kepedihan orang lain berbeda dengan kepedihan mereka sendiri, dan mereka sudah lebih pintar mencari penghiburan.
Pada tahap ini dalam perkembangan mereka, kepekaan anak-anak terhadap gangguan emosional orang lain mulai berbeda. Serangkaian hasil studi Marian Radke-Yarrow dan Carolyn Zahn-Waxler menunjukkan bahwa terdapat sebagian besar hubungan antara tingkat kepekaan empati anak dengan bagaimana orangtua menerapkan disiplin pada anak-anak. Menurut hasil tersebut, anak-anak menjadi lebih berempati apabila kedisiplinan yang diberikan meliputi memberi perhatian dengan sungguh-sungguh kepada orang lain karena kesalahan atau gangguan yang disebabkan oleh kenakalan mereka. Seperti mengucapkan: “Lihat, kamu membuatnya sedih”, bukannya memarahi anak dengan mengatakan “kamu nakal banget sih”. Mereka juga menemukan bahwa empati anak-anak dibentuk dengan melihat bagaimana orang lain bereaksi bila seseorang bersedih, kemudian mereka meniru apa yang mereka lihat. Sehingga anak-anak mengembangkan respons empati mereka terutama untuk menolong orang lain yang sedang kesusahan.
Semoga Bermanfaatt!!
Sumber Gambar: https://id.theasianparent.com/empati-dan-simpati
REFERENSI:
Goleman, D. (2009). EMOTIONAL INTELLIGENCE: WHY IT CAN MATTER MORE THAN IQ. Bloomsbury.