Pandemi COVID-19 berhasil mengubah semua aktivitas sehari-sehari manusia, salah satunya dalam berinteraksi. Selama masa pandemi semua kegiatan yang melibatkan orang banyak di alihkan pada sistem daring seperti sekolah, bekerja, konferensi, seminar, dll. Zoom dan G-meet merupakan aplikasi yang paling banyak digunakan sebagai aplikasi pembantu dalam melaksanakan kegiatan online.
Semua kegiatan yang tadinya offline dilaksanakan menggunakan via daring, bahkan beberapa orang ada yang menghabiskan berjam-jam didepan layar komputer mengikuti zoom meeting atau google meeting karena padatnya jadwal pertemuan yang ia miliki. Fenomena ini menarik perhatian salah seorang profesor dari Stanfrod University sekaligus direktur pendiri Stanford Virtual Human Interaction Lab (VHIL), Profesor Jeremy Bailenson . Dalam artikel peer-review pertama yang secara sistematis mendekonstruksi kelelahan Zoom dari perspektif psikologis, menurut Bailenson (2021) terdapat empat dampak utama dari obrolan video yang berkepanjangan yang menurutnya berkontribusi pada perasaan yang umumnya dikenal sebagai “Zoom Fatigue.”
“Zoom fatigue” menggambarkan kekhawatiran, atau kelelahan yang disebabkan oleh penggunaan platform komunikasi virtual secara berlebihan (Wolf, 2021). Adapun beberapa alasan mengapa seseorang bisa mengalami Zoom fatigue (Bailenson dalam Ramachandran, 2021), yaitu :
1. Pandangan yang sangat intens dengan lawan bicara
Jumlah kontak mata maupun ukuran wajah yang kita lakukan di obrolan video di layar merupakan kondisi yang tidak biasa. Dalam pertemuan normal, orang akan melihat pembicara dengan cara yang berbeda, mencatat atau mencari di tempat lain. Tetapi pada panggilan Zoom, semua orang melihat semua orang, sepanjang waktu. Seorang pendengar diperlakukan secara nonverbal seperti seorang pembicara, jadi meskipun anda tidak berbicara sekali dalam rapat, anda masih melihat wajah-wajah yang menatap anda. Jumlah kontak mata meningkat secara dramatis. “Kecemasan sosial berbicara di depan umum adalah salah satu fobia terbesar yang ada di populasi kita,” kata Bailenson. “Ketika anda berdiri di sana dan semua orang menatap anda, itu adalah pengalaman yang menegangkan.”
2. Melihat diri sendiri secara konstan
Sebagian besar platform video menunjukkan tampilan anda di kamera saat mengobrol. Tapi itu tidak wajar, kata Bailenson. “Di dunia nyata, jika seseorang mengikuti Anda berkeliling dengan cermin terus-menerus – sehingga saat anda berbicara dengan orang lain, membuat keputusan, memberikan umpan balik, mendapatkan umpan balik – anda melihat diri Anda di cermin, itu akan menjadi gila. Tidak ada yang akan mempertimbangkan itu, ”tambahnya.
Bailenson mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa ketika Anda melihat cerminan diri sendiri, Anda lebih kritis terhadap diri sendiri. Banyak dari kita sekarang melihat diri kita sendiri di obrolan video selama berjam-jam setiap hari. “Ini membebani kami. Ini membuat stres. Dan ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa ada konsekuensi emosional negatif melihat diri anda di cermin.”
3. Obrolan video mengurangi gerak sehingga suasana akan cepat terasa membosankan
Percakapan telepon langsung dan audio memungkinkan manusia untuk berjalan-jalan dan bergerak. Tetapi dengan konferensi video, sebagian besar kamera memiliki bidang pandang yang ditetapkan, yang berarti seseorang secara umum harus tetap di tempat yang sama. Gerakan dibatasi dengan cara yang tidak alami. “Ada penelitian yang berkembang sekarang yang mengatakan ketika orang bergerak, mereka berkinerja lebih baik secara kognitif,” kata Bailenson.
4. Beban kognitif jauh lebih tinggi dalam obrolan video.
ketika sedang melakukan obrolan video anda harus memastikan bahwa kepala anda berada tepat di tengah video. Jika anda ingin menunjukkan kepada seseorang bahwa anda setuju dengan mereka, anda harus melakukan anggukan yang berlebihan atau mengacungkan jempol. Hal-hal ini akan menambah beban kognitif saat anda menggunakan kalori mental untuk berkomunikasi. (Bailenson, 2021)
Referensi :
Bailenson, J. N. (2021). Nonverbal overload: A theoretical argument for the causes of Zoom fatigue. Technology, Mind, and Behavior, 2(1). DOI:10.1037/tmb0000030
Ramachandran, V. (2021). Stanford researchers identify four causes for ‘Zoom fatigue’ and their simple fixes. news.stanford.edu. Diakses pada 27 Agustus 2021 dari https://news.stanford.edu/2021/02/23/four-causes-zoom-fatigue-solutions/
Wolf, C.R. (2020). Virtual platforms are helpful tools but can add to our stress. Psychology Today. diakses 27 Agustus 201=21 dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-desk-the-mental-health-lawyer/202005/virtual-platforms-are-helpful-tools-can-add-our-stress