Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Tunadaksa

Sobat Psike mungkin tidak asing dengan istilah Tunadaksa. Tunadaksa merupakan istilah yang digunakan pada individu yang mengalami kecacatan atau kelainan fisik pada bagian otot, tulang, sendi, dan saraf yang disebabkan oleh penyakit, virus, ataupun kecelakaan. Seorang tunadaksa dapat mengalami kesulitan berkomunikasi, mengontrol tubuh, bergerak, dan juga dapat mengalami gangguan atau permasalahan pada perkembangannya [1].

Ciri atau karakteristik pada seorang penderita tunadaksa pada fisik mengalami cacat tubuh dan dapat pula mengalami gangguan pendengaran, gangguan bicara, dan gangguan pengelihatan. Pada aspek emosi bagi penderita tunadaksa biasanya mengalami masalah emosi seperti mudah tersinggung, mudah marah, pemalu, suka menyendiri, dan bahkan frustasi karena belum mampu menerima keadaan diri mereka. Pada penyandang tunadaksa yang memiliki kelainan pada sistem cerebral (otak), akan memiliki tingkat kecerdasan pada kategori retardasi mental hingga berbakat (gifted). Penyandang tunadaksa juga mengalami kelainan persepsi, kognisi, dan simbolisasi [2].

Tunadaksa dapat disebabkan oleh banyak faktor. Pada artikel ini penyebab tunadaksa dapat dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu [3]:

  • Pre-Natal (sebelum kelahiran)

Seseorang dapat menjadi penyandang tunadaksa dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yang terjadi ketika seorang ibu mengandung atau sebelum kelahiran. Beberapa faktor diantaranya yaitu infeksi virus, ibu mengalami kecelakaan ketika mengandung, anoxia prenatal, ibu hamil terpapar radiasi, dan gangguan metabolisme pada ibu hamil.

  • Neo-Natal (ketika melahirkan)

Selain faktor pre-natal tadi, seseorang dapat menjadi penyandang tunadaksa akibat beberapa hal yang terjadi ketika proses melahirkan. Beberapa penyebab diantaranya seperti bayi lahir sungsang, lahir premature, pendarahan otak pada bayi ketika proses melahirkan, pemakaian anastesi yang kurang tepat, dan penyalahgunaan alat bantu kelahiran.

  • Post-Natal (setelah kelahiran)

Faktor terakhir yaitu ada pada kategori post-natal atau ketika bayi telah lahir dari rahim Ibu. Beberapa penyebab tunadaksa pada kategori ini yaitu anak mengalami penyakit seperti Meningitis, Enchepalitis, Diphteria, atau Partusis. Selain faktor penyakit ada juga faktor lain seperti individu mengalami kecelakaan atau pertumbuhan tubuh (tulang) yang kurang baik.

Orang tua yang dianugerahkan anak tunadaksa dapat memberlakukan beberapa cara pengasuhan yang bisa diterapkan pada anak tunadaksa, seperti [4]:

  • Membantu anak menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungannya
  • Memotivasi anak
  • Membantu mengembangkan kreativitas dan keterampilan anak
  • Menerima anak seutuhnya
  • Memberikan tugas kepada anak sesuai dengan kemampuannya
  • Memperhatikan interaksi anak dengan orang lain agar terus berkembang

Berikut adalah penjelasan singkat mengenai tunadaksa. Sebagai seseorang yang berada di dekat mereka hendaknya kita menghargai, menghormati, dan merangkul mereka agar mereka bisa tetap terus berkembang bersama.

 

 

 

References:

  1. Pratiwi, I., & Hartosujono. (2014). Resiliensi pada penyandang tunda daksa non bawaan. Jurnal SPIRITS, 5(1), 48-54.
  2. Astati. (2009). Pengantar pendidikan luar biasa. UPI.
  3. UPI. (2009). Bimbingan anak tuna daksa. UPI.
  4. Monika, & Waruwu, F. E. (2006). Anak berkebutuhan khusus: Bagaimana mengenal dan menanganinya. Jurnal Provitae, 2(2), 17.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *