Pernah ngga sih kalian terlibat dalam percakapan yang kemudian berujung memicu perdebatan? Tentunya ketika hal itu terjadi, masing-masing individu berusaha untuk mempertahankan argumen masing-masing. Bahkan tidak jarang hingga menyebabkan perselisihan. Selain itu juga, adakalanya waktu dan tempat untuk membicarakan topik tersebut terasa kurang tepat. Nah, untuk mengetahui kapan dan dimana seseorang dapat memperbincangkan topik tertentu dengan tepat, serta kapan seseorang perlu menjauh dan menghindar dari topik tertentu merupakan suatu keterampilan yang penting bagi individu. Lantas bagaimana sih cara mengetahui timing yang pas untuk mengetahui kapan harus menjauh dan kapan berdebat? Disini, penulis akan memaparkan salah satu trik yang dikemukakan oleh Jonathan Herring (2012) dalam bukunya yang berjudul How to argue powerfully, persuasively, & positively. Memasuki sesi perdebatan, hal yang pertama harus disadari individu adalah esensi dari topik yang sedang dibicarakan. Apakah topik perdebatan ini benar-benar bermanfaat? Jika seandainya kita berada dalam suasana hari raya, kemudian ada salah satu keluarga yang melontarkan pertanyaan kenapa mengambil jurusan ini dan itu, kenapa belum diwisuda, dan sebagainya. Tentunya masih ada kesempatan lain untuk membicarakan masalah tersebut. Namun, jika kita memilih untuk menjawab masalah-masalah tersebut, tentunya hasil perdebatan sudah dapat ditebak, yaitu kita dan anggota keluarga yang bertanya akan sama-sama merasa jengkel. Terkadang, seseorang memiliki keterikatan emosional dengan pendapatnya sehingga akan sulit sekali untuk mengubahnya. Dan kita pun tidak bisa mengubah pendapatnya. Lalu selanjutnya adalah, pertimbangkan letak lokasi percakapan. Apakah hanya empat mata atau disaksikan oleh banyak mata? Persoalan ini dapat menjadi masalah yang krusial. Apakah argumen tersebut hanya perlu dibicarakan dengan orang yang bersangkutan ataukah lebih baik dibahas dalam kelompok? Terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
- Jika sifat dari percakapan ini bersifat rahasia, individu perlu memastikan bahwa percakapan itu bersifat pribadi.
- Saat akan membicarakan sesuatu, pertimbangkan apakah individu akan merasa lebih percaya diri jika didampingi oleh orang lain atau justru lebih nyaman ketika seorang diri? Jika ingin orang lain mendampingi kita, pertimbangkan siapa yang kiranya cocok dan dapat dipercaya?
- Suasana yang dibangun dalam pembicaraan juga turut mempengaruhi individu ketika akan menyampaikan pendapat. Apakah individu lebih senang dan nyaman mengemukakan argumentasi dalam suasana formal ataukah dalam suasana non-formal?
- Jika individu mengetahui bahwa lawan bicara yang akan diajak berdebat memiliki kemungkinan menjadi agresif dan tidak menyenangkan, akan lebih baik jika individu didampingi orang lain untuk menemani berargumentasi dengannya atau berada dalam situasi dimana banyak orang lain yang menyaksikan. Karena jika perdebatan dilakukan di tengah banyaknya orang, lawan bicara mungkin akan mengurungkan niatnya untuk mengolok-olok. Dan jika ia menyerang, akan ada kemungkinan orang lain yang akan melerai pembicaraan.
- Ketika akan menyampaikan argumen, ada baiknya individu mencari orang lain yang sepakat dengannya. Jika sepakat, argumen individu mungkin akan lebih kuat jika disampaikan oleh kelompok yang anggotanya mendukung argumentasi individu.
Kemudian hal yang perlu diperhatikan adalah kesiapan individu dalam menyiapkan informasi yang memadai. Apakah informasi yang dimiliki benar-benar memadai? Jika informasi yang dimiliki individu belum memadai, sebaiknya individu mundur terlebih dahulu untuk mempelajari persoalan tersebut lebih lanjut, atau mengumpulkan lebih banyak data. Langkah selanjutnya yang juga tidak kalah penting adalah kesiapan individu secara emosional. Karena melakukan perdebatan secara meyakinkan memerlukan waktu, perhatian, dan upaya. Ketika individu sedang berada dalam kondisi emosi yang tidak stabil, merasa letih, dan sedang tergesa-gesa perdebatan yang dilakukan pun akan menjadi sia-sia dan tidak bermanfaat. Oleh karena itu, individu sebaiknya memilih waktu dan kondisi yang tepat untuk menyampaikan argumen serta mendengarkan argumen orang lain. Sebuah diskusi finansial dalam hubungan pernikahan, tentu tidak akan berhasil jika masing-masing individu berada dalam kondisi yang letih dan emosi yang tidak stabil di tengah malam. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah kesiapan lawan bicara secara emosional. Persoalan kesiapan emosional lawan bicara juga penting. Karena individu mungkin sudah sepenuhnya siap untuk berargumentasi, tetapi lawan bicara belum tentu demikian. Idealnya, lawan bicara pun harus memiliki kesiapan untuk mendengarkan argumentasi individu. Karena individu mungkin perlu memberitahukan pokok-pokok pembicaraan yang akan dibicarakan. Oleh karena itu, salah satu poin penting untuk memastikan kelancaran proses argumentasi adalah dengan memastikan bahwa lawan bicara siap menyimak argumen individu dengan baik. Lalu bagaimana jika individu terlibat dalam perdebatan yang tidak diinginkan? Individu pun dapat menghindar dan menghentikannya. Namun, terdapat hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara untuk menghindar dari perdebatan:
- Menanyakan kepada diri sendiri apakah persoalan tersebut benar-benar perlu untuk diperdebatkan. Jika suatu saat individu dihadapkan pada situasi dimana orang-orang sekitar adalah orang yang tidak kompeten. Individu tidak harus mengoreksi setiap tingkah laku mereka dan tidak perlu untuk menanggapi segala hal. Individu dapat menggunakan beberapa ungkapan untuk menghindari perdebatan seperti: “hmm..masalah ini kayanya emang sulit deh”, “wah, pendapat kamu boleh juga”kalau mau memperdebatkan tentang ini, bisa saja bakal terus berlangsung sampai besok pagi”.
- Menanyakan kepada diri sendiri apakah persoalan ini benar-benar dapat dipecahkan. Ada kalanya individu terjebak dalam perdebatan-perdebatan kecil yang dapat berujung ke sebuah perdebatan yang lebih besar. Seperti perdebatan mengenai apakah kehidupan manusia berlangsung ketika dalam kandungan ataukah sudah dimulai sejak lama sebelum raganya tercipta? Perdebatan seperti ini dapat berujung kepada pertanyaan tentang apakah mereka mempercayai tuhan atau tidak. Meskipun individu tidak ingin memperdebatkan hal-hal tersebut, tetap ada pihak-pihak lain yang merasa perlu untuk memperdebatkannya. Pihak-pihak seperti ini adalah orang-orang yang memegang teguh opini mereka sehingga apa pun yang individu katakan tidak akan dapat mengubah pikiran mereka.
- Mengenali hal-hal yang dapat memicu emosi. Kebanyakan orang tentunya memiliki pemicu emosi. Ketika terdapat pihak yang membicarakan masalah tertentu, adakalanya individu akan memberikan sebuah jawaban yang panjang-lebar. Namun, respon yang diterima individu ternyata tidaklah mengenakkan. Jika individu merasa tidak mampu untuk menahan diri, kenali terlebih dulu reaksi yang akan muncul sehingga individu dapat merasa waspada! Sadari hal-hal yang dapat membuat individu lepas kendali, dan jagalah diri individu agar tetap tenang, dan tanyakan kepada diri sendiri apakah reaksi tersebut tepat untuk ditunjukkan kepada pihak tersebut?
Nah itulah trik yang telah penulis sampaikan, semoga dapat membantu kalian untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berdebat dan kapan harus menghindar. Semoga bermanfaat!!
Referensi: Herring, J. (2012). How to Argue Powerfully, Persuasively, Positively. New Jersey: FT Press.