Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Ternyata Pola Asuh Orang Tua Berpengaruh Pada Perilaku Agresif Pada Remaja Lho!

Perilaku agresif dapat muncul disemua kalangan usia tidak terkecuali pada usia remaja. Perilaku agresif yang kini ditunjukkan oleh remaja, tidak hanya dalam bentuk tawuran semata tetapi juga dapat berupa perkelahian, saling mencaci
maki, penganiayaan, pencurian, pembunuhan, dan bentuk agresif lainnya yang kemudian mengarah pada tindakan kriminal yang tentunya merugikan orang. Salah satu contoh kasus perilaku agresif yang pernah terjadi pada tiga anak baru gede (ABG) di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat ini. Hanya karena ingin unjuk keberanian, mereka nekat membacok seorang pelajar SMPN 4 Cikarang Barat yang sedang menyeberang Jalan Raya Fatahillah, Kecamatan Cikarang Barat. Akibatnya sangat fatal, korban VJ, usia 15 tahun, yang terkena sabetan celurit di punggung langsung tersungkur (Metro Sindo News, 2017).Gambaran kasus diatas menunjukkan bahwa remaja berpotensi melakukan perilaku agresif.

Faktor penyebab munculnya perilaku agresif pada diri individu dapat berasal dari dua sumber yaitu sumber yang berasal dari diri individu dan sumber yang berasal dari luar diri individu. Salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku agresif adalah faktor yang berasal dari luar diri individu yaitu pola asuh.

Pola asuh merupakan interaksi yang terjalin antara orang tua dengan anaknya. Pola asuh yang diterapkan orang tua merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan dalam pembentukan kepribadian anak. Pola asuh yang menerapkan
bahwa anak harus patuh akan nilai dan prinsip yang orang tua pegang, pemberian hukuman terutama hukuman fisik dan menuntut anak menuruti kehendak orang tuanya sering disebut dengan pola asuh otoriter (authoritarian parenting style).
Menurut Hurlock (1990) pola asuh otoriter merupakan suatu metode disiplin yang diterapkan oleh orang tua kepada anak. Baumrind (dalam Santrock, 2007) menekankan orang tua yang menerapkan gaya otoritarian menetapkan batasan-batasan dan kendali yang tegas terhadap anak serta kurang memberikan peluang kepada anak untuk berdialog secara verbal atau mengeluarkanpendapat dalam keluarga. Cross (2009) mengungkapkan bahwa pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua dapat diukur dengan aspek-aspek yaitu maturity
demands, structure, anger, activity, displeasure, dan anxiety.

Pola Asuh Otoriter (authoritarian parenting style) merupakan gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua yang bersifat membatasi, menghukum, dan menuntut anak untuk tunduk sesuai dengan standar tingkah laku yang ditetapkan oleh orang tua tanpa adanya kehangatan dalam mengasuh, serta anak tidak diperkenankan untuk mengeluarkan pendapat dalam keluarga atau berdialog secara verbal yang terdiri dari aspek-aspek yaitu maturity demands, structure, anger, activity, displeasure, dan anxiety.

Sedangkan perilaku agresif merupakan kecenderungan yang dilakukan oleh individu yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai orang lain atau kelompok dengan niat atau kesengajaan baik secara verbal maupun fisik yang dapat merugikan seseorang, yang terdiri dari aspek-aspek physical aggression, verbal aggression, anger, dan hostility.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Sulistiawati (2016) berjudul “Hubungan Antara Kecenderungan Pola Asuh Otoriter (Authoritarian Parenting Style) dengan Gejala Perilaku Agresif Pada Remaja” ini menghasilkan terdapat hubungan yang signifikan antara kecenderungan pola asuh otoriter dengan gejala perilaku agresif pada remaja. apabila terjadi peningkatan pada pola asuh otoriter maka akan terjadi peningkatan pula pada perilaku agresif. Hasil ini sejalan dengan dengan pendapat yang dikemukan oleh Shochib (2000) yang menyatakan bahwa orang tua yang bersikap otoriter menjadi pendorong anak berperilaku agresif. Sikap otoriter dan kekerasan yang ditunjukkan oleh orang tua akan mempengaruhi kepribadian anak sehingga anak memiliki kepercayaan diri yang rendah yang dapat menghambat kemajuan anak atau menjadikannya agresif. Perilaku agresif yang ditunjukkan oleh anak di masa mendatang bergantung pada bagaimana orang tua mengasuh anak dan bagaimana perilaku orang tua. Anak akan meniru perilaku dari orang yang memang disukai, berpengaruh dalam
hidupnya dan memiliki otoritas dalam kehidupan anak. Orang tua merupakan model utama yang dikenal oleh anak ketika diawal-awal masa perkembangan. Anak akan meniru dan melakukan tindakan atau perkataan yang sering ditunjukkan oleh orang tua ketika berada di rumah.

Referensi :

Cross. (2009). Parenting style. University of california, Berkeley

Dewi, N. P. A. R., & Susilawati, L. K. P. A. (2016). Hubungan antara kecenderungan pola asuh otoriter (authoritarian parenting style) dengan gejala perilaku agresif pada remaja. Jurnal Psikologi Udayana, 3(1), 108-116.

Hurlock, E.B. (1990). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentan kehidupan (terjemahan: Istiwidiyanti dan Soedjarwo). Jakarta: Erlangga.

Santrock, J.W. (2007). Adolesence (terjemahan: Shinto B.Adelar dan Sherly Saragih). Jakarta: Erlangga.

Shochib, M. (2000). Pola asuh orang tua: Dalam membantu anak mengembangkan displin diri. Jakarta: Rineka Cipta.

https://metro.sindonews.com/berita/1258475/170/memprihatinkan-perilaku-remaja-semakin-nekat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *