Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Stigma Masyarakat Terhadap Penderita Skizofrenia

Berdasarkan Riset Kementrian Dasar Indonesia proporsi rumah tangga yang memasung penderita skizofrenia sebesar 1.655 rumah tangga. Hal ini menunjukan bahwa rumah tangga yang melakukan pemasungan yaitu sebesar 14,3% dan pemasungan terbanyak terdapat di pedesaan. Perilaku seperti Pemasungan, diskriminasi dan penghindaran inilah yang merupakan efek dari stigma. Menurut Goffman, stigma adalah tanda atau ciri yang menandakan bahwa seseorang membawa sesuatu yang buruk sehingga dinilai lebih rendah dari orang normal. Pengertian ini sesuai dengan kenyataan bahwa banyak penderita skizofrenia yang dikucilkan, didiskriminasi dan dihilangkan haknya dalam lingkup sosial

Kurangnya pemahaman mengenai konsep gangguan mental seperti skizofrenia ini banyak terjadi di masyarakat umum. Masyarakat banyak menghubungkan skizofrenia sebagai suatu penyakit yang didapatkan dari kutukan. Akibat dari kurangnya pemahaman ini, masyarakat akan melakukan tindakan seadanya untuk menangani penderita skizofrenia. Hal yang dilakukan biasanya berupa pemasungan. Akibat dari intervensi keluarga yang tidak baik tersebut, masyarakat juga akan melakukan tindakan yang merendahkan penderita skizofrenia.

Menurut Katsching (2018) , stereotip umum skizofrenia oleh masyarakat yaitu ditandai dengan kegilaan, kepribadian ganda, perilaku yang berbahaya dan tidak terduga, serta gagasan bahwa skizofrenia merupakan penyakit otak yang kronis. Pasien dan keluarga selalu merasakan keputusasaan ketika dihadapkan dengan diagnosis skizofrenia. Pasien dan keluarga beranggapan bahwa skizofrenia merupakan penyakit kronis yang sangat parah, dan tidak dapat disembuhkan. Pasien dan keluarga mengetahui dengan jelas bahwa masyarakat beranggapan seperti ini, sehingga menjadi beban keluarga dalam mengantisipasi reaksi negatif.

Banyak literatur yang mempelajari tentang stereotip masyarakat, yang menunjukan penolakan dan diskriminasi sosial pada pasien sehingga menyebabkan keterlambatan dalam pengobatan dan menimbulkan self-stigma (Katsching, 2018) . Menurut Angermeyer dan Dietrich, prasangka terhadap penderita skizofrenia lebih banyak dibandingkan dengan gangguan mental lainnya. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang meyakini bahwa penderita skizofrenia sangat tidak terduga dan lebih berbahaya daripada penderita gangguan mental lainnya. Selain itu, kurangnya penerimaan perawatan juga menambah prasangka dari masyarakat terhadap penderita skizofrenia (Angermeyer, 2006).

Penelitian di beberapa negara menunjukan prasangka terhadap penderita skizofrenia merupakan masalah yang terus menerus ditemukan, baik di masyarakat awam bahkan pada tenaga kesehatan. Prasangka memberikan dampak negatif yang mendalam pada penderita skizofrenia sehingga menyebabkan kesulitan dalam praktik kehidupan maupun secara emosional (West, 2007). Berdasarkan penelitian Baba dkk (2017),  diskriminasi terhadap penderita skizofrenia lebih tinggi pada masyarakat umum. Namun lebih banyak terjadi pada penderita skizofrenia yang mengalami gejala positif, sedangkan pada penderita yang mengalami gejala negatif tidak begitu sering terjadi. Hal ini menandakan bahwa stigma terhadap penderita skizofrenia masih tetap ada, konsisten terhadap penelitian-penelitian sebelumnya. Sehingga dibutuhkan upaya untuk mendukung kemajuan sosial dalam masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup penderita skizofrenia. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pengetahuan yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang skizofrenia. Stigma terhadap penderita skizofrenia berarti memberikan penilaian yang negatif pada penderita skizofrenia dalam melakukan interaksi
sosial.

Stigma terjadi karena adanya stereotip, prasangka dan diskriminasi oleh masyarakat terhadap penderita (Varamitha, 2016). Menurut Mestdagh dan Hansen (2013) meskipun banyak upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penderita skizofrenia, namun penderita masih tetap mengalami stigmatisasi. Meskipun sudah terdapat komunitas yang mengatur dan membina masyarakat dalam penerimaan penderita skizofrenia, akan tetapi stigmatisasi masih tetap ada. Dalam hal ini diperlukan lebih banyak usaha untuk mencapai standar perawatan kesehatan mental yang menghargai penderita skizofrenia dengan cara mempertimbangkan prinsip-prinsip yang menghormati penderita skizofrenia (Mestdagh & Hansen, 2013).

Sumber :
Angermeyer, M. and Dietrich, S. Publics beliefs about and attitudes towards people with mental illnes: a review of population studies. Acta Psychiatrica Scandinavica. 2006;113(3):163- 179.

Baba, Y., Nemoto, T., Tsujino, N., Yamaguchi, dkk. Stigma toward psychosis and its formulation process: prejudice and discrimination against early stages of
schizophrenia. Comprehensive Psychiatry. 2017;73:81-186.

Jakarta. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan RI. 2013.h.125-127.

Katsching, H. Psychiatry’s Contribution to the public stereotip of Schizophrenia: Historical consideration. Journal of Evaluation in Clinical Practice. 2018;24(5):1093-1100.

Metshdagh, A and Hansen, B. Stigma in patient schizophrenia receiving community mental health care: a review of qualitative studies. Social Psychiatry and Psychitric Epidemiology. 2013;49(1):79-87.

Varamitha, S., Noor Akbar, S. and Erlyani, N. Stigma Sosial Pada Keluarga Miskin Dari Pasien Gangguan Jiwa. Jurnal Ecopsy. 2016;1(3).h.106-114.

West, K., Hewstone, M. and Lolliot, S. Intergroup Contact and Prejudice Against
People With Schizophrenia. The Journal of Social Psychology. 2014;154(3):217-232.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *