Di masa pandemi saat ini, seluruh kegiatan seperti sekolah, bekerja dan segala macam event dilakukan secara online. Hal ini menyebabkan sulit bagi kita untuk memisahkan diri dari internet, khususnya media sosial. Meskipun media sosial memiliki banyak manfaat, nyatanya media sosial juga masih memberikan dampak buruk bagi kita terutama pada aspek kesehatan mental. Salah satu di antaranya yaitu FOMO atau Fear of Missing Out.
FOMO merupakan sindrom kecemasan sosial yang muncul sebagai dampak dari perkembangan teknologi serta sistem informasi dan komunikasi yang sangat pesat. Sindrom ini menyebabkan pengguna media sosial takut melewatkan momen berharga yang terjadi di tempat lain, dalam hal ini konteks merujuk pada dunia maya. Hal ini menyebabkan pengguna media sosial memiliki keinginan untuk tetap terhubung dengan apa yang orang lain lakukan melalui internet atau dunia maya.
Sindrom FOMO memiliki beberapa ciri yaitu menunda pekerjaan demi mengecek media sosial secara terus menerus, merasa tertekan atau stress ketika melihat unggahan orang lain, menghabiskan banyak uang untuk mengikuti lifestyle di media sosial dan merasa cemas jika tidak membuka media sosial. Jika media sosial membuat kita lelah secara mental dan merasakan ciri-ciri tersebut, kita perlu mengurangi intensitas untuk membuka media sosial dengan detox media sosial. Detox media sosial sendiri merupakan usaha mengurangi penggunaan dan konsumsi media sosial.
Detox media sosial dapat disesuaikan dengan masing-masing orang. Misalnya, seminggu sekali atau sebulan sekali. Detox media sosial sendiri memiliki berbagai manfaat, diantaranya:
1.Mengurangi perasaan cemas
Media sosial merupakan tempat berkumpulnya segala macam jenis informasi dari mulai yang penting hingga yang tidak penting sekalipun. Hal ini tak jarang menyebabkan pengguna media sosial sering merasa lelah, cemas, takut atau bahkan stress karena banyaknya jumlah informasi yang diterima dalam sehari. Dengan rutin melakukan detox media sosial, perasaan-perasaan cemas yang ditimbulkan dari kelebihan informasi dari media sosial akan berkurang.
2. Meningkatkan produktivitas
Besarnya intensitas pengguna media sosial dalam mengecek media sosial akan sangat mempengaruhi produktivitas. Waktu yang digunakan untuk mengecek media sosial akan lebih baik dan bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal lain yang lebih produktif, misalnya berolahraga, membaca buku dan lain sebagainya.
3. Meningkatkan kualitas tidur
Media sosial tak jarang membuat penggunanya sering lupa waktu, bahkan menyita jam tidur penggunanya. Dengan melakukan detox media sosial, pengguna media sosial dapat memiliki jam tidur yang lebih teratur dengan kualitas tidur yang lebih baik.
4. Fokus dengan kehidupan di dunia nyata
Kenyataan bahwa media sosial mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat mungkin tak asing lagi bagi kita. Dikutip dari Holly Chavez, menurut penelitian, orang yang banyak menggunakan waktunya untuk bermain media sosial cenderung kesepian. Dengan mengurangi intensitas untuk menggunakan media sosial dan berinteraksi dengan orang lain secara langsung dapat membuat mood kita lebih baik.
Sumber:
- Marbun, Pitoyo dan Muhammad Hanif S. (2020). Tak Bisa Lepas dari Media Sosial? Awas Kena Sindrom FOMO! https://www.gooddoctor.co.id/hidup-sehat/mental/tak-bisa-lepas-dari-media-sosial-awas-kena-sindrom-fomo/
- Anggraeni, Revinda Devika (2021) Hubungan antara Subjective Well-Being dan Fear of Missing Out (FoMO) pada Emerging Adulthood. Undergraduate thesis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
- King University. (2019). Scared to Stay In The Psychology of FOMO. https://online.king.edu/news/psychology-of-fomo/
- https://medium.com/@tarachawla/6-benefits-of-a-social-media-cleanse-df6bde82f8f7
- https://www.lifehack.org/483829/9-positive-benefits-of-a-social-media-detox