Pernahkah kamu mengalami peristiwa yang buruk, namun orang di sekitar menertawakanmu? Bagaimana perasaan mu saat itu? Ternyata menertawakan penderitaan orang lain merupakan fenomena psikologi loh!! Yuk simak penjelasan dibawah ini!!
Ketika orang lain mengalami penderitaan dalam hidup, peristiwa itu dapat menimbulkan berbagai tanggapan emosional dari orang-orang disekitarnya. Terkadang orang lain mungkin merasa simpati pada orang tersebut, terkadang orang merasa bahagia atas peristiwa tersebut (Greenier, 2018).
Bahasa Jerman telah menciptakan kata Schadenfreude untuk reaksi emosional di atas. Kata schadenfreude berasal dari kata schaden yang berarti “berbahaya” dan freude yang berarti “kebahagiaan” dan didefinisikan di dalam Kamus Oxford sebagai “kesenangan yang diperoleh seseorang dari kemalangan atau penderitaan orang lain”. Para ahli berpendapat bahwa schadenfreude hanya muncul ketika terdapat pihak ketiga atau keadaan yang menyebabkan kemalangan orang lain, yang berbeda dengan perasaan gembira atau bangga ketika secara aktif mengalahkan orang lain dalam konfrontasi langsung (Ouwerkerk et al., 2016).
Individu lebih mungkin mengalami schadenfreude jika orang lain pantas mendapatkan kemalangan tersebut, jika individu tidak menyukai orang tersebut, atau jika individu merasa iri pada orang tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu cenderung lebih menikmati penderitaan orang lain jika penderitaan tersebut merupakan hasil dari pilihan orang tersebut. Individu dengan pandangan tertentu percaya bahwa orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan, hal baik terjadi pada orang baik, dan hal buruk terjadi pada orang jahat (Greenier, 2021).
Alasan yang melatarbelakangi individu merasa senang atas kemalangan orang lain adalah karena kemalangan orang lain dapat dinilai sebagai kesempatan untuk melindungi atau meningkatkan pandangan positif tentang diri pribadi. Individu memiliki kebutuhan yang kuat untuk evaluasi diri yang positif dan mereka berusaha untuk mengembalikan pandangan diri mereka ketika merasa dirugikan. Salah satu cara untuk mencapai pandangan diri yang lebih positif adalah dengan membandingkan nasib sendiri dengan orang lain yang kurang beruntung. Dengan demikian, individu dapat menikmati kemalangan orang lain karena memberi mereka manfaat perbandingan sosial yang memuaskan kebutuhan individu akan evaluasi diri yang positif. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan orang-orang dengan harga diri rendah yang kronis dan yang evaluasi dirinya terancam secara langsung oleh feedback negatif lebih mungkin mengalami schadenfreude ketika menonton klip video kontestan yang gagal total dalam pertunjukan bakat yang disiarkan televisi (Ouwerkerk et al., 2016).
Semoga Bermanfaatt!!
Sumber Gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Schadenfreude
Referensi:
Greenier, K. D. (2018). The Relationship Between Personality and Schadenfreude in Hypothetical Versus Live Situations: Psychological Reports, 121(3), 445–458. https://doi.org/10.1177/0033294117745562
Greenier, K. D. (2021). The Roles of Disliking, Deservingness, and Envy in Predicting Schadenfreude: Psychological Reports, 124(3), 1220–1236. https://doi.org/10.1177/0033294120921358
Ouwerkerk, J. W., Dijk, W. W. van, Vonkeman, C. C., & Spears, R. (2016). When we enjoy bad news about other groups: A social identity approach to out-group schadenfreude: Group Processes & Intergroup Relations, 21(1), 214–232. https://doi.org/10.1177/1368430216663018