Dalam tahap kehidupan, semua orang pasti pernah mengalami berduka. Entah berduka karena kematian orang yang dicintai, atau karena perpisahan yang menyakitkan.
Ketika seseorang berduka, ingatan mereka dipenuhi tentang orang yang mereka cintai juga disertai oleh ingatan mereka bahwa mereka sudah tidak dapat bertemu orang tersebut. Selain itu, individu mungkin masih mengingat kapan terakhir kali individu melihat orang yang dicintai dan menyadari bahwa waktu yang mereka habiskan menjadi waktu yang terakhir kalinya. Ingatan-ingatan diatas dapat mempengaruhi cara individu mengingatnya (Millar & Lee, 2021).
Karena individu tidak sepenuhnya mengetahui atau takut seberapa dalam mereka terpengaruh oleh kematian seseorang, sehingga tingkat kesedihan mereka tidak diketahui. Karena rasa sakit dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh kematian, individu terkadang dengan cepat mengabaikan kesedihan dan ragu-ragu untuk benar-benar bersama dan mendukung seseorang yang sedang berduka (Bolden, 2007). Hingga kemudian psikiater Elisabeth Kübler-Ross mengembangkan sebuah teori bernama “the fives stage of grief” untuk menunjukkan bahwa individu melalui lima tahap kesedihan yang berbeda setelah kehilangan orang yang dicintai (Bolden, 2007; Clarke, 2019):
A. DENIAL
Pada tahap ini individu menyangkal bahwa orang yang mereka cintai telah meninggalkan mereka. Individu tetap berperilaku seperti orang tersebut masih ada, misal menelepon untuk menyapa. Penyangkalan membantu individu meminimalisir rasa sakit yang luar biasa karena kehilangan. Saat individu memproses kenyataan bahwa orang yang dicintai telah tiada, individu juga berusaha untuk bertahan dari rasa sakit emosional. Mungkin sulit untuk percaya bahwa individu telah kehilangan seseorang yang penting dalam hidup kita, terutama ketika individu mungkin baru saja berbicara dengan orang ini minggu sebelumnya atau bahkan hari sebelumnya. Realitas individu telah berubah sepenuhnya pada saat berduka. Butuh waktu bagi pikiran individu untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan baru ini.
B. ANGER
Individu merasa marah yang ditujukan kepada orang yang meninggal atau pada dirinya sendiri karena tidak mampu mencegah kematian orang yang dicintainya. Kemarahan memungkinkan individu untuk mengekspresikan emosi dengan lebih sedikit rasa takut akan penilaian atau penolakan. Kemarahan cenderung menjadi hal pertama yang dirasakan individu ketika mereka mulai melepaskan emosi terkait kehilangan. Hal ini dapat membuat individu merasa terisolasi dengan pengalamannya sehingga membuat orang lain menganggap bahwa mereka tidak dapat didekati pada saat-saat ketika individu seharusnya dapat memperoleh manfaat kenyamanan, koneksi, dan kepastian.
C. BARGAINING
Individu berpikir “bagaimana jika” dan “jika saja” mereka dapat mengendalikan dan mencegah kehilangan anggota keluarga atau teman mereka. Pada tahap ini, individu merasa begitu putus asa sehingga mereka bersedia melakukan hampir apa saja untuk meringankan atau meminimalkan rasa sakit. Kehilangan orang yang dicintai dapat menyebabkan individu mempertimbangkan cara apa pun untuk menghindari rasa sakit saat ini atau rasa sakit yang dihindari individu dari kehilangan. Pada tahap ini, individu berandai-andai seperti ” Tuhan, aku tidak akan pernah marah lagi jika engkau bisa menghentikannya dari kematian atau meninggalkanku”. Selain itu, individu cenderung berfokus pada kesalahan atau penyesalan pribadi mereka.
D. DEPRESSION
Pada tahap ini individu menerima kenyataan bahwa orang yang dicintai telah tiada. Individu mulai merasakan kehilangan orang yang dicintai lebih sering. Saat kesedihan mulai mereda, perasaan-perasaan emosional mulai hilang dan kehilangan terasa lebih nyata dan tak terhindarkan. Pada saat-saat tersebut, individu cenderung menarik diri, kurang bersosialisasi, dan kurang bercerita ke orang lain tentang apa yang sedang dialami. Meskipun ini adalah tahap kesedihan yang sangat alami, menghadapi depresi setelah kehilangan orang yang dicintai bisa sangat mengasingkan.
E. ACCEPTANCE
Pada tahap ini, individu berada pada titik di mana mereka menerima keadaan hidup mereka saat ini, tanpa orang yang mereka cintai, sebagai kenyataan dan dapat hidup dengan pemahaman tersebut. Meskipun sudah menerima, bukan berarti individu tidak lagi merasakan sakitnya kehilangan. Melainkan individu tidak lagi melawan kenyataan dari situasi yang dihadapi, dan tidak lagi berjuang untuk merubah keadaan. Kesedihan dan penyesalan masih bisa hadir dalam fase ini, tetapi tahap-tahap awal kesedihan cenderung tidak ada.
Semoga Bermanfaatt!!
Sumber Gambar: https://www.thecenterforgrowth.com/tips/the-cycle-of-grief
Referensi:
Bolden, L. A. (2007). A Review of On Grief and Grieving: Finding the Meaning of Grief Through the Five Stages of Loss. Counseling and Values, 51. https://doi.org/10.1002/j.2161-007X.2007.tb00081.x
Clarke, J. (2019, February 12). The Five Stages of Grief. https://www.verywellmind.com/five-stages-of-grief-4175361
Millar, B., & Lee, J. (2021). Horror Films and Grief. Emotion Review, 13(3), 171–182. https://doi.org/10.1177/17540739211022815