Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Schadenfreude: Perasaan Bahagia Saat Orang Lain Menderita

Kata schadenfreude adalah gabungan dari bahasa Jerman schaden yang berarti “kerusakan” atau “luka” dan freude yang berarti “kegembiraan”. Jadi, schadenfreude dapat didefinisikan sebagai perasaan senang saat melihat orang lain kesusahan atau menderita. Dari sudut pandang evolusioner schadenfreude adalah taktik bertahan hidup yang berakar pada pelestarian diri. Paul Hokemeyer, PhD seorang psikoterapis dan penulis Fragile Power mengatakan bahwa sudah menjadi esensi manusia untuk menentukan rasa aman dengan membandingkan diri dengan manusia lain.

Schadenfreude merupakan emosi umum yang berhubungan dengan harga diri dan teori perbandingan sosial atau kecenderungan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Hal ini dikarenakan mengamati kemalangan individu lain dapat menimbulkan kegembiraan yang memvalidasi identitas pribadi dan meningkatkan harga diri. Schadenfreude adalah hasil dari beberapa proses yang telah alami manusia secara turun temurun. Proses ini juga yang membuat manusia secara naluriah menyadari adanya hierarki atau kasta dalam masyarakat. Setiap menusia ingin disukai dan dihormati dalam lingkungan sosial.

Disisi lain, schadenfreude sebagai pengalaman emosional dapat menimbulkan perasaan malu dan bersalah. Individu akan berusaha untuk memasukkan pengalaman ini ke dalam salah satu dari dua kategori, yaitu baik atau buruk. Salah satu faktor pemicu schadenfreude adalah ketidakpastian. Judy Ho, PhD seorang neuropsikolog dan profesor psikologi di Pepperdine University mengatakan bahwa schadenfreude adalah mekanisme koping yang digunakan individu untuk mencapai keadaan normal. Ia menambahkan kalau schadenfreude dapat memberikan individu rasa kontrol dan dominasi.

Berikut ini 10 fakta tentang schadenfreude yang dilansir dari Psychology Today:

  1. Schadenfreude dapat menimbulkan reaksi pada otak terutama ventral striatum yang berhubungan dengan sistem limbik dan terlibat dalam pemrosesan penghargaan dan motivasi.
  2. Schadenfreude berkaitan dengan inferioritas diri pada individu.
  3. Oksitosin yang diberikan secara intranasal meningkatkan perasaan iri dan schadenfreude.
  4. Schadenfreude tidak selalu berhubungan dengan rasa iri
  5. Penelitian telah menunjukkan bahwa kemalangan orang lain memicu schadenfreude ketika kemalangan ini dianggap pantas atau menimpa orang yang iri atau dibenci.
  6. Kemalangan yang menimpa orang lain dapat membawa kesenangan karena dapat mengurangi rasa iri serta menghilangkan kecemburuan.
  7. Beberapa orang menganggap schadenfreude sebagai suatu sifat.
  8. Schadenfreude bisa berperan dalam berbagai bidang, termasuk politik.
  9. Riset konsumen menunjukkan bahwa schadenfreude juga dapat terjadi dalam dunia olahraga.
  10. Schadenfreude dianggap terkait dengan ciri-ciri Dark Triad (yaitu, narsisme, machiavellianisme, dan psikopati), serta minat sensasional, termasuk senjata, pisau, kejahatan, okultisme, dan Nazisme.

Referensi:

Burnett, D. (2021, October 18). Schadenfreude: A psychologist explains why we love to see others fail. BBC Science Focus Magazine. Retrieved October 20, 2021, from https://www.sciencefocus.com/the-human-body/why-does-schadenfreude-exist/

Naveed, S. (2019, August 8). 10 Unsettling Facts About Schadenfreude. Psychology Today. Retrieved October 20, 2021, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-red-light-district/201908/10-unsettling-facts-about-schadenfreude

Styx, L. (2021, June 23). Schadenfreude: How to Respond When Bad Things Happen to People You Don’t Like. Verywell Mind. Retrieved October 20, 2021, from https://www.verywellmind.com/schadenfreude-how-to-respond-when-bad-things-happen-to-people-you-dont-like-5083348

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *