Dalam teori Psikoanalisis, dijelaskan karena adanya tekanan dari kecemasan ataupun ketakutan yang berlebih, maka Das Ich atau Ego akan mengambil cara ‘ekstrim’ untuk menghilangkan atau menurunkan ketegangan dan rasa tidak nyaman yang disebut dengan Mekanisme Pertahanan atau defense mechanism. Teori Psikoanalisis Freud menganggap pertahanan sebagai bagian penting dari perkembangan normal. Seperti yang dijelaskan Freud, ketika ego masih lemah, mekanisme pertahanan melindungi ego dari pengaruh menyakitkan yang akan mengganggu fungsi dan perkembangannya. Mekanisme pertahanan pada dasarnya tidak buruk— karena dapat memungkinkan individu menempatkan pengalaman yang menyakitkan atau menyalurkan energi mereka ke arah produktif.
Hanya ketika pengembangan ego selesai, penggunaan pertahanan mungkin memiliki konsekuensi negatif. Namun kemungkinan perkembangan ego berlanjut hingga dewasa, dalam hal ini pertahanan dapat terus melayani fungsi adaptif. Selanjutnya, di bawah kondisi stres atau trauma yang ekstrem, mekanisme pertahanan dapat melindungi stabilitas dan integrasi ego. Mekanisme pertahanan menjadi masalah jika diterapkan terlalu sering atau terlalu lama.
Mekanisme pertahanan bekerja otomatis, merupakan strategi psikologis, tindakan bawah sadar yang melindungi individu dari tekanan eksternal atau internal, yang mungkin termasuk pikiran, ingatan, atau emosi yang mengancam individu atau membangkitkan kecemasan yang tak tertahankan.Mekanisme pertahanan ini memiliki sifat 1) menolak, memalsukan, atau menganggu kenyataan/realitas; 2) bekerja secara tidak disadari sehingga individu tidak mengetahui apa yang terjadi.
Bentuk bentuk dari mekanisme pertahanan ini adalah :
- Represi
Represi atau penekanan terjadi apabila suatu objek dipaksa keluar dari kesadaran oleh tenaga penekanan. Contoh, ingatan yang mengganggu akan ditekan di alam bawah sadar dan dicegah untuk ke alam sadar. Sekali penekanan sudah terbentuk maka akan sulit untuk dihapus atau dihilangkan. Jika ingin dihilangkan, individu harus meyakini dirinya kembali bahwa hal yang membuatnya cemas atau takut itu tidak ada, bisa dilakukan dengan uji realitas atau test kenyataan. Orang dewasa yang selalu dibayang-bayangi ketakutan yang kekanak-kanakan disebabkan individu tersebut tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui bahwa ketakutan itu tidak berdasar kenyataan.
Penekanan juga bisa dalam bentuk pemindahan objek. Agar pemindahan objek ini berhasil dalam mencegah ketakutan, maka individu harus mewujudkan ke tanda atau lambang yang jelas. Contohnya anak laki-laki yang memiliki rasa permusuhan dengan ayahnya, bisa jadi menyatakan rasa permusuhan itu ke dalam ‘pemegang kuasa’ di tongkrongannya.
- Proyeksi
Mekanisme yang mengubah ketakutan/kecemasan neurotis (ketakutan dapat hukuman dari figur otoritas dan bersifat tidak nyata) dan kecemasan moral (kecemasan kata hati ketika melanggar nilai) disebut dengan proyeksi. Proyeksi memiliki tujuan mengurangi tegangan dengan mengganti suatu objek dengan objek lain yang tidak begitu mengancam, dan menyatakan alasan (yang sebenarnya alasan pura-pura) untuk mempertahankan diri. Contoh, proyeksi dalam mengatakan “dia membenci saya” yang aslinya atau sebagai pengganti adalah “saya membenci dia”.
- Reaction Formation
Reaction formation atau pembentukan reaksi adalah mengganti perasaan yang menimbulkan ketakutan/kecemasan dengan lawannya di dunia sadar. Contoh, benci diganti dan ditunjukan dengan cinta. Perasaan yang asli (dari contoh adalah benci) masih ada, namun ditutupi dengan sesuatu yang tidak menyebabkan ketakutan (dari contoh adalah cinta). Lalu bagaimana cara membedakan yang ‘asli’ atau sebenarnya dengan pembentukan reaksi? Biasanya pembentukan rekasi dibuat dengan berlebihan dan tingkah laku yang ekstrim.
- Fiksasi dan Regresi
Perkembangan kepribadian individu yang normal adalah yang melewati fase-fase yang tetap dari lahir sampai dewasa. Namun dalam tiap fase ini muncul frustasi dan ketakutan, jika kedua hal ini menjadi besar maka perkembangan normal bisa jadi terganggu. Individu bisa saja mengalami fiksasi di masa awal karena untuk ke fase berikutnya takut menghadapi kecemasan atau ketakutan (yang baru). Contohnya adalaha anak yang sangat bergantung pada orangtua dan takut– mencegah belajar untuk hidupnya sendiri.
Regresi berkaitan dengan fiksasi yaitu individu yang mengalami pengalaman traumatis atau kecemasan—ketakutan yang berlebih akan kembali ke fase perkembangan awal yang pernah ia lewati. Contohnya adalah perempuan yang sudah menikah namun merasa kesulitan, akan mencari rasa aman dengan pulang ke rumah orangtua. Biasanya individu yang melakukan regresi, sebelumnya sudah melakukan fiksasi. Namun umumnya jarang seklai fiksasi dan regresi ini terjadi pada individu.
- Denial
Menolak untuk mengenali atau mengakui fakta atas pengalaman nyata yang akan menyebabkan kecemasan, karena terlalu menyakitkan.
- Rasionalisasi
Membenarkan kesalahan atau perasaan bermasalah dengan alasan atau penjelasan yang tampaknya logis.
- Displacement
Memindahkan atau mengarahkan reaksi emosional ke orang lain sama. Misalnya, jika seorang manajer meneriaki seorang karyawan, karyawan tersebut tidak membalas—tetapi karyawan tersebut mungkin akan meneriaki pasangannya nanti malam.
- Sublimasi
Menyalurkan dorongan yang tidak dapat diterima ke dalam saluran yang produktif; mengarahkan dorongan naluriah yang tidak dapat diterima ke hal yang dapat diterima secara pribadi dan sosial. Contohnya pekerjaan atau hobi; kemarahan yang intens diarahkan dalam bentuk partisipasi dalam olahraga seperti tinju atau sepak bola
- Intelektualisasi
Berfokus pada intelektual daripada konsekuensi emosional dari suatu situasi. Misalnya, jika teman sekamar tiba-tiba pindah, orang lain mungkin melakukan analisis keuangan terperinci daripada mendiskusikan perasaan terluka mereka.
Referensi :
Cramer, P. (2015). Understanding Defense Mechanisms. Psychodynamic Psychiatry, 43(4), 523–552. doi:10.1521/pdps.2015.43.4.523
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/life-after-50/201804/defense-mechanisms
https://www.psychologytoday.com/intl/basics/defense-mechanisms
Ostrower, C. (2015). Humor as a Defense Mechanism during the Holocaust. Interpretation: A Journal of Bible and Theology, 69(2), 183–195. doi:10.1177/0020964314564830
Suryabrata, Sumadi. (2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.