Dalam beberapa bulan terakhir isu ghosting sedang ramai dibicarakan di media sosial. Ghosting bahkan sempat menjadi populer di Twitter. Ghosting adalah perilaku menjauh dan menghilang dari seseorang tanpa memberi pesan komunikasi yang jelas.
Media sosial merupakan perantara yang mempunyai andil besar dalam fenomena ghosting, karena kebanyakan pelaku maupun korban hanya mengenal via tulisan dan gambar, tanpa mengetahui identitas aslinya. Fenomena ghosting sering dialami oleh remaja dan di latarbekalangi masalah percintaan. Dampak ghosting bagi kesehatan mental tidak bisa dianggap sepele. Untuk mengetahui lebih dalam tentang ghosting dan pengaruhnya, simak penjelasan berikut.
Dalam lingkup psikologi, ghosting termasuk dalam kajian apa?
Ghosting sering dibahas dari perspektif psikologi, khususnya menyinggung masalah relasi interpersonal. Relasi interpersonal merupakan hubungan yang melibatkan dua atau lebih perasaan individu. Sebagai makhluk sosial, hubungan antara seseorang dengan orang lain tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Mengkaji pikiran, perilaku, dan perasaan seseorang kepada orang lain merupakan topik yang tidak ada habisnya untuk dibahas. Ghosting sering terjadi pada usia remaja hingga beranjak dewasa, karena pada rentan usia tersebut seseorang sedang berada dalam tahap psikososial menjalin relasi intim (intimate relationship) dengan lawan jenis.
Apa benar ghosting termasuk dalam tindak kekejaman emosional?
Menurut laporan ghosting memang dapat dikatakan sebagai sebuah kekejaman emosional karena memberikan dampak yang buruk bagi korbannya. Ghosting membuat para korbannya merasa ditinggalkan oleh orang lain dan kebanyakan korban ghosting merasa kehilangan kepercayaan diri. Dalam ranah hubungan profesional ghosting akan berdampak buruk pada gagalnya pemenuhan tujuan dan dapat mengakhiri kerjasama yang telah dibangun. Ghosting tidak hanya berimbas pada emosional seseorang, menurut laporan penilitian dikatakan bahwa ghosting juga akan mengaktifkan rasa sakit di otak yang sama sakitnya sama dengan sakit fisik.
Apa saja yang mendorong seseorang melakukan ghosting?
Sebuah studi baru saja menemukan alasan seseorang melakukan ghosting yaitu karena faktor kenyamanan, memiliki interaksi negatif dengan pasangan, sudah tidak tertarik, faktor keamanan, dan kondisi hubungan (misalnya, seberapa dekat mereka dengan pasangan).
Bagaimana dampak ghosting pada mental ataupun kejiwaan seseorang?
Tentunya memiliki dampak yang sangat buruk. Sangat sedikit orang yang menerima kenyataan bahwa ia menjadi korban ghosting dan kemudian move on. Respons alamiah yang mungkin muncul karena peristiwa tersebut adalah perasaan bingung, mudah marah, kehilangan kepercayaan diri, hingga memiliki gambaran diri (self-image) yang salah. Beragaman masalah psikologis seperti distres, frustasi, dan depresi sangat berkaitan dengan harga diri yang rendah dan pandangan yang salah terhadap diri sendiri.
Bagaimana andil media sosial dalam fenomena ghosting yang sedang marak belakangan ini?
Media sosial mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi positifnya yaitu memudahkan seseorang untuk mengakses segala informasi dan komunikasi menjadi dengan mudah, sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang luas. Namun sisi negatifnya adalah dapat dijadikan sebagai alat untuk merusak mental salah satunya adalah perantara untuk melakukan ghosting. Artinya, berkembangnya teknologi khususnya media sosial juga dapat menambah persentase peluang terjadinya ghosting.
Karena media sosial mempunyai andil yang besar dalam kehidupan, bagaimana cara kita menyikapi agar terhindar dari ghosting?
Seseorang tidak mungkin melepaskan diri dari kemajuan teknologi dan penggunaan media sosial, karena hidup kita sangat berdampingan dengan tekonologi. Kita harus memiliki perspektif, aktivitas, dan komitmen yang positif terhadap penggunaan media sosial. Ketika kita memiliki perspektif yang jelas dan terarah dari penggunaan media sosial, hal ini akan menuntun kita pada aktivitas serta komitmen penggunaan media sosial yang terarah pula. Kenali terlebih dulu motivasi yang melatar belakangi kita mempunyai media sosial. Apa alasannya? Apa manfaatnya? Lalu analisa dan lakukan evaluasi secara berkala atas penggunaan media sosial yang kita miliki. Baik dalam bentuk postingan maupun searching (pencarian), pikirkan terlebih dulu tujuannya, asas kebermanfaatannya untuk diri sendiri dan orang lain serta pikirkan dampaknya. Hal ini akan melatih diri sendiri untuk tidak tergesa-gesa bertindak tanpa memikirkan sisi positif maupun negatifnya terlebih dahulu. Hal ini membantu kita lebih bijak dalam penggunaan media sosial.
Apa yang wajib kita lakukan jika menjadi korban ghosting?
- Menerima kenyataan bahwa kita menjadi korban ghosting.
- Melepaskan rasa keingin tahuan terhadap pelaku ghosting.
- Bercerita kepada orang tah terpercaya seperti orang tua, teman, ataupun sahabat.
- Jangan mengurung diri.
- Introspeksi kekurangan yang ada pada diri sendiri.
Bagi seseorang yang menjadi pelaku ghosting, pertimbangkan posisi orang lain atau pasangan yang menjadi korban. Bayangkan apabila anda yang mengalaminya. Apa kira-kira yang terjadi? Bagaimana perasaan anda jika menjadi korban ghosting? Dengan mempertimbangkan hal tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan empati terhadap orang lain. Meskipun kita tidak mempunyai tanggung jawab atas derita psikologis orang lain, tapi paling tidak kita mempunyai kontribusi atas peluang terjadinya derita psikologis orang lain.
Jadi, jangan melakukan Tindakan ghosting kepada orang lain! Ingat bahwa mengakhiri sesuatu komunikasi tanpa kepastian merupakan bentuk ketidakdewasaan emosional atas rasa dan tidak mampu melakukan komunikasi yang baik. Mari sama-sama belajar untuk saling menghargai dalam relasi apapun yang kita jalani.