Di Indonesia terdapat berbagai penyakit yang dialami oleh generasi muda di antaranya diabetes melitus, stroke, penyakit jantung, dan kesehatan mental. Kesehatan mental menjadi masalah kesehatan yang dikesampingkan. Dalam pasal 1 UU No. 36 tahun 2009 menjelaskan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat baik fisik, mental dan spiritual. Kesehatan mental merupakan keadaan sejahtera dimana individu menyadari potensi yang dimilikinya, mampu menyelesaikan tekanan hidup normal, bekerja secara produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Hal itu juga mengartikan bahwa kesehatan mental sangat penting untuk menunjang produktivitas dan kualitas kesehatan fisik seseorang.
Gangguan mental dapat dialami oleh siapa saja. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 membuktikan bahwa prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala seperti depresi dan kecemasan pada remaja usia 15 tahun ke atas mencapai 6,1% dari jumlah penduduk Indonesia atau setara dengan 11 juta orang. Dari data riset disimpulkan bahwa kesehatan mental juga harus diperhatikan selayaknya kesehatan fisik.
Generasi milenial saat ini hidup di tengah perkembangan teknologi yang dapat mengakibatkan kecanduan bersosialisasi di dunia maya. Dampak dari perkembangan teknologi tentunya memiliki berbagai respon baik positif maupun negatif. Positifnya adalah generasi milenial dapat mengakses informasi dengan mudah, berkomunikasi dengan mudah, dan mempeluas jaringan pertemanan. Pada sisi lain, kehidupan di dunia maya dapat menjadi masalah jika pengguna tidak dapat mengontrol emosi serta tidak mempunyai wawasan atau pengetahuan yang baik. Kesehatan mental yang baik dapat menyadari potensi yang mereka miliki, mengembangkan kemampuan, serta mengatasi tekanan hidup dengan baik.
Dalam buku The Lucky Few: Between the Greatest Generation and the Baby Boom yang ditulis oleh Elwood Carlson mengatakan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir dari tahun 1983 hingga 2001. Masa remaja adalah masa yang kritis pada perkembangan seseorang dimana mereka sering mengalami permasalahan dengan orang lain bahkan dengan dirinya sendiri, sehingga jika hal ini tidak diselesaikan pada masa remaja akan berdampak negatif di kemudian hari terutama pada pematangan karakter dan dapat memicu gangguan jiwa.
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan psikososial remaja
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi perkembangan psikososial remaja antara lain :
- Status sosial ekonomi – Keadaan sosial ekonomi memiliki peranan penting terhadap perkembangan psikososial anak. Jika perekonomian keluarga cukup, maka lingkungan material yang dihadapi remaja dalam keluarganya itu lebih luas. Remaja memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan kecakapan yang tidak dapat dicapai apabila terkendala alat-alatnya. Orang tua dapat memberi perhatian yang lebih pada pendidikan anaknya apabila tidak terbebani dengan pemenuhan kebutuhan primer.
- Keutuhan keluarga – Keutuhan keluarga merupakan faktor lain yang memengaruhi perkembangan sosial anak-anak. Yang dimaksud dengan keutuhan di dalam keluarga adalah terdapat ayah di samping ibu dan anak-anaknya. Universitas Sumatera Utara berpendapat jika tidak ada ayah ataupun ibu bahkan kedua-duanya, maka struktur keluarga dapat dikatakan sudah tidak utuh lagi.
- Sikap dan kebiasaan orang tua – Cara bersikap yang ditanamkan oleh orang tua di rumah berperan penting dalam pergaulan anak, karena keluarga merupakan penyebab terbentuknya kelompok sosial yang memengaruhi kehidupan individu. Cara orang tua berperilaku dalam hal ini menjadi pemimpin kelompok, sangat memengaruhi iklim interaksi keluarga dan dapat merangsang perkembangan beberapa karakteristik pribadi anaknya.
- Status anak – Status anak juga berperan sebagai faktor yang dapat memengaruhi perkembangan psikososial dalam keluarga sebagai anak tunggal, sulung ataupun bungsu di antara saudara kandung.
Untuk mencapai kematangan pribadi yang optimal harus didukung oleh faktor risiko dan faktor protektif. Faktor risiko yang diikuti kerentanan psikososial pada remaja akan memicu terjadinya masalah emosi dan perilaku yang khas. Faktor individu dan faktor psikososial menjadi bagian dari faktor risiko. Faktor individu akan memicu terjadinya gangguan mental pada remaja seperti kurangnya kemampuan dalam menghadapi rasa cemas, memiliki pemikiran bahwa kekerasan adalah suatu hal yang wajar, serta adanya latar belakang genetik (gangguan kepribadian). Faktor psikososial yang terdapat pada lingkup keluarga contohnya ketidakharmonisan hubungan antara orang tua dengan anak bahkan gangguan mental yang dialami oleh orang tuanya juga bisa memicu munculnya sikap tempramen. Di sekolah misalnya bullying, bullying adalah suatu bentuk pemaksaan atau menyakiti seseorang secara fisik, psikis atau verbal, yang dapat menimbulkan tekanan dan trauma bagi remaja, kesulitan bergaul dan penurunan konsentrasi dalam belajar. Selain itu, faktor psikososial terakhir, terutama dalam konteks kehidupan serta kondisi sosial misalnya, seperti kemiskinan, pengangguran dan perceraian orang tua, juga memengaruhi kesehatan mental.
Rutter menjelaskan bahwa faktor protektif merupakan faktor yang merubah dan membuat respons seseorang menjadi lebih kuat terhadap berbagai tantangan yang ada pada lingkungannya, sehingga ketika terjadi interaksi antara faktor protektif dan faktor individu akan ada hasil akhir dengan ada atau tidaknya seseorang mengalami gangguan jiwa. Menurut Rae Grant N Thomas H, faktor protektif adalah karakter yang positif, lingkungan keluarga yang kondusif, keterampilan sosial serta tingkat intelektual yang baik, dan lingkungan sosial yang mendukung. E.Erikson juga mengatakan bahwa untuk tercapainya kematangan kepribadian harus diperkuat oleh faktor protektif dan menurunkan faktor risiko yang menghasilkan self awareness atau rasa keyakinan diri yang positif, kedua role anticipation and role experimentation mempunyai peran positif untuk mengantisipasi diri sendiri dengan lingkungannya, terakhir yaitu apprenticeship merupakan kemauan untuk belajar untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam diri sendiri.
Permasalahan Kesehatan Mental Pada Remaja dan Pencegahannya
Dalam era milenial terdapat masalah kesehatan mental yang nyata, antara lain perubahan psikoseksual, pengaruh teman sebaya seperti perkelahian, kecanduan narkoba, ketidakmampuan untuk membentuk identitas, gangguan perkembangan moral, stres pada masa remaja.
Pencegahan penyimpangan perilaku pada remaja melibatkan penetapan diagnosis atau deteksi dini. Pediatric Symptom Checklist (PSC) adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi gangguan psikososial dalam pengenalan emosi dan perilaku ketika ada pertanyaan tentang keadaan perilaku anak yang dikelompokkan menjadi 3 masalah, yaitu perhatian, internalisasi dan eksternalisasi. Selain itu, terdapat tiga metode untuk mencegah masalah kesehatan mental untuk setiap populasi yang berbeda, termasuk pencegahan universal yang menargetkan populasi umum, keluarga dan anak-anak.
Perilaku dengan risiko tinggi yang dilakukan oleh remaja perlu dicermati oleh seluruh pihak yang terkait, karena selain pencegahan melalui tes, peran semua pihak termasuk orang tua, guru, pemerintah dan media juga diperlukan.
- Peran orang tua dalam mengatasi perilaku anak adalah dengan menanamkan pola asuh yang baik sejak balita, membekali anak dengan dasar moral dan agama yang baik, menjaga komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak serta menerapkan disiplin yang konsisten agar anak tidak menjadi boros.
- Peran guru di sekolah juga sangat diperlukan untuk mengelola perilaku anak dengan menciptakan kondisi sekolah yang nyaman, menciptakan hubungan yang bersahabat dengan anak, meningkatkan peran dan pemberdayaan guru bimbingan konseling.
- Peran pemerintah dalam penyelesaian masalah kesehatan jiwa di remaja dapat dilakukan dengan menerapkan hukuman dan disiplin yang berat, meluncurkan kembali pendidikan karakter, memerangi narkoba secara ketat, perlu menyediakan struktur dan infrastruktur untuk mengakomodasi pelecehan anak dengan olahraga dan bermain.
- Terakhir, peran media juga sangat berpengaruh dalam masalah kesehatan mental remaja, sehingga diperlukan peran media yang baik dalam menyajikan tayangan atau berita yang mengedukasi.