Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Perilaku yang Timbul Karena adanya COVID-19 yang Ditinjau dari Teori Psikologi

Dengan adanya pandemi virus corona (COVID-19) yang terjadi di Indonesia, pemerintah Indonesia mengeluarkan imbuan tentang social distancing yang mengacu instruksi WHO atau organisasi kesehatan dunia. Social distancing (pembatasan/jarak sosial) yaitu dengan menjaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain dan menghindari kerumunan untuk mencegah penularan penyakit. Namun, istilah social distancing telah diubah namanya menjadi physical distancing (pembatasan interaksi fisik). Jadi, physical distancing adalah istilah pengganti untuk social distancing yang sama – sama bertujuan mencegah corona virus.

Hal tersebut sangat perlu dilakukan dengan melihat kondisi Indonesia seperti saat ini, karena dengan pemberlakuan hal tersebut dapat memperlambat penyebaran/ penularan penyakit COVID – 19 yang diharapkan jumlah orang yang terinfeksi tidak melonjak dalam waktu yang sama, sehingga rumah sakit dapat melayani pasien dengan optimal dan sesuai dengan daya tampung yang ada. Physical distancing/social distancing dilakukan dengan cara menghindari kerumunan, tidak melakukan kontak fisik dengan orang lain, belajar bekerja dan beribadah didalam rumah (quarantine), dan mengurangi frekuensi keluar rumah (pergi hanya saat mendesak), jika diperlukan keluar rumah diharuskan menjaga jarak dengan orang lain 1 – 2 meter. Selain itu, dibudayakan jaga kebersihan terutama tangan dengan rajin mencuci tangan pakai sabun dan saat batuk atau bersin ditutup dengan tisu atau siku bagian dalam lalu cuci tangan dengan sabun, dan diperlukannya APD (alat perlindungan diri).

Jika ditinjau dari hal tersebut, dapat dikatakan bahwa hal tersebut membentuk perilaku masyarakat yang sepenuhnya dikontrol oleh lingkungan sekitar yang dimana dapat membentuk kepribadian masyarakat yang awalnya kurang memperhatikan kebersihan dan sekarang sangat menjaga sekali kebersihannya dan hal tersebut dihasilkan dari hasil belajar di lingkungan eksternal dengan melihat bagamana penularan COVID – 19 dan sudah cukup banyak orang yang tertular virus tersebut tidak hanya di negara sendiri tapi dari negara diseluruh dunia. Perilaku tersebut dapat disebut dengan pendekatan behaviorisme.

Pendekatan Behaviorisme ini memiliki pada teori kondisioning klasik yang meurujuk pada filosuf John Locke, Ia mengemukakan teori tentang tabularasa, dimana anak adalah sebuah kertas putih yang kosong. Dan pengalaman – pengalaman kehidupan akan menjadi tulisan dalam kertas kosong tersebut. Dengan permasalahan yang sekarang dihadapi oleh masyarakat Indonesia atau beberapa negara di dunia sekarang, dapat dikaitkan dengan teori tersebut. Dimana masyarakat yang awalnya tidak mengetahui apa – apa (dapat diilustrasikan sebagai kertas putih), seperti apa itu virus corona (COVID-19), bagaimana penyebaran virus tersebut, bagaimana pencegahan dan solusi jika tertular virus tersebut. Dan akhirnya, sudah banyak masyarakat mengetahui banyak tentang virus tersebut dengan melihat pengalaman – pengalaman yang sudah terjadi seperti melihat banyaknya kasus dari virus tersebut dan dapat mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih menjaga dirinya dari hal yang dapat tertular oleh virus tersebut.

Ditinjau dari teori classical conditioning (pembiasaan klasik) oleh Ivan P. Pavlov, Dari perilaku pemerintah mulai memberlakukan larangan untuk menerima warga negara asing yang ingin ke Indonesia karena dengan melihat covid – 19 yang sudah menyebar di Wuhan dan dibeberapa negara lainnya. Pemerintah melakukan hal tersebut dikarenakan adanya US (unconditioned stimulus), yaitu stimulus yang tidak dikondisikan. Dengan pemerintah melihat covid – 19 yang sudah menyebar di Wuhan dan dibeberapa negara lainnya, itu dapat disebut dengan stimulus. Sehingga pemerintah mulai memberlakukan larangan untuk menerima warga negara asing yang ingin ke Indonesia, dan itu merupakan respon yang dihasilkan dari US (unconditioned stimulus) yang dapat disebut dengan UR (unconditioned response).

Lalu, terdapat perilaku masyarakat dengan adanya kebijakan physical distancing/social distancing. Dimana masyarakat dihimbau atau diberi penyuluhan tentang Covid-19 secara berulang – ulang terutama di media sosial sehingga masyarakat dapat menerapkan menerapkan kebijakan kebijakan physical distancing/social distancing. Dengan ada himbauan atau penyuluhan tersebut disebut sebagai CS (conditioned stimulus), yaitu stimulus yang terkondisikan. Denga nada stimulus tersebut yang dilakukan tidak hanya sekali atau berulang kali menyebabkan masyakat menerapkan physical distancing/social distancing yang disebut sebagai CR (conditioned responses) yaitu respon dikondisikan. CR ini refelks yang dipelajari dari penyuluhan yang sudah diberikan berulang – ulang yang ditimbulkan oleh CS setelah dihubungkan oleh US tadi yaitu stimulus dengan melihat penyebaran Covid – 19.

Ditinjau dari Teori Operant Conditioning (Pembiasaan Prilaku Respon) oleh Burrhus Frederic Skinner, Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.  Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Jika melihat kondisi sekarang dengan diberlakukannya physical distancing/social distancing dengan adanya stimulus seperti semakin bertambahnya orang yang terkena covid – 19 dan diberi penguatan secara negatif seperti dapat dikenakan sanksi jika masih terdapat orang yang tidak melakukan physical distancing/social distancing seperti masih berkumpul ditempat keramaian dan keluar rumah jika tidak berkepentingan. Dengan adanya stimulus dan penguatan tersebut maka dapat terbentuknya perilaku atau terjalannya kebijakan physical distancing/social distancing.

            Alasan terjadinya perilaku tersebut karena adanya dorongan stimulus yang diberikan dari lingkungan sekitar atau hasil belajar dari lingkungan sekitar atau eksternal. Dan solusi bisa dilakukan adalah selalu memperhatikan atau mempelajari lingkungan sekitar sebagai antisipasi dan melaksanakan semua yang telah diberikan pada penyuluhan di media sosial.

References:

Feist, Jess; Feist, Gregory J; Roberts, Tomi-Ann. (2017). Teori Kepribadian Edisi 8 Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.

Gambar: https://hamiltonpawprint.com/opinions/2021/08/31/the-mask-debate-does-a-persons-liberty-matter-more-than-the-health-of-the-general-population/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *