“Duh, Toni! Kamu ini susah banget dibilangin sih. Tugas rumahnya tuh belum dikerjain.”
“Iya-iya, nanti aja aku kerjainnya.”
Sobat Psike pernah merasa jadi seperti Toni? Atau mungkin kenalan Sobat Psike yang punya perilaku suka menunda-nunda sesuatu seperti Toni? Terkadang mungkin ada kenalan ataupun Sobat Psike sendiri yang sebenarnya sadar punya perilaku begini, tapi rasanya susah sekali untuk diubah. Bisa juga ada perilaku tertentu lainnya yang ingin diubah ataupun ditingkatkan lagi intensitasnya namun masih belum menemukan cara yang tepat. Eits, jangan putus asa dulu. Sobat Psike bisa nih coba menerapkan operant conditioning untuk mengubah ataupun meningkatkan perilaku tertentu.
Mungkin ada beberapa Sobat Psike yang belum pernah mendengar istilah operant conditioning, nggak perlu khawatir! Mari kita belajar bersama. Jadi operant conditioning merupakan salah satu metode belajar melalui pengondisian yang dikembangkan oleh Burrhus Frederic Skinner (B.F. Skinner). Penggunaan operant conditioning yang disebut juga instrumental conditioning atau Skinnerian conditioning dapat membuat perilaku tertentu menguat ataupun melemah tergantung dengan konsekuensi atau respons seperti apa yang didapatkan setelah individu melakukan perilaku tersebut. Pengondisian ini memiliki basis dasar yang kurang lebih sama dengan Law of Effect yang dikemukakan oleh Thorndike, bahwa ketika respons yang baik atau menyenangkan diberikan setelah suatu perilaku muncul maka perilaku tersebut cenderung menguat dan sebaliknya jika respons yang tidak baik atau tidak menyenangkan diberikan setelah suatu perilaku muncul maka perilaku tersebut cenderung melemah.
Kalau Sobat Psike mulai berpikir, “Wah, berarti ada respons yang bermacam-macam ya saat ingin memperkuat atau melemahkan perilaku tertentu.” Yup, betul sekali. Jadi berdasarkan intinya, terdapat reinforcement dan punishment. Lebih lanjut lagi, reinforcement dilakukan saat ada suatu perilaku yang ingin untuk ditingkatkan. Sedangkan punishment dilakukan saat ingin mengurangi intensitas munculnya suatu perilaku.
Reinforcement nantinya dapat dibagi menjadi dua yaitu positif dan negatif. Positive reinforcement itu dilakukan dengan memberikan hal yang menyenangkan (pleasant stimulus) bagi individu ketika individu tersebut melakukan perilaku tertentu. Sedangkan negative reinforcement bertujuan untuk mengurangi hal yang tidak menyenangkan (aversive stimulus) setelah individu melakukan perilaku tertentu. Nah untuk lebih memperjelas lagi pemahaman Sobat Psike, yuk kita coba amati contoh berikut:
Positive Reinforcement
Toni malas untuk mengerjakan tugasnya namun apabila Toni ingin menyelesaikan tugas rumahnya maka Toni dapat bermain gim video kesukaannya sepuasnya pada akhir pekan nanti. Akhirnya Toni selalu mengerjakan tugasnya sebelum akhir pekan untuk kemudian dapat bermain gim video kesukaannya pada akhir pekan nanti sepuasnya.
Negative Reinforcement
Setiap kali Toni malas untuk mengerjakan tugasnya, maka Ayah dan Ibu Toni akan selalu menceramahi Toni dan mengingatkan Toni dengan secara terus menerus. Toni merasa reminder dan juga ceramah dari Ayah dan Ibunya sangat menjengkelkan, sehingga untuk mengurangi hal tersebut maka Toni akan segera mengerjakan tugasnya tepat sebelum Ayah dan Ibunya mulai mengingatkan dan menceramahinya.
Lalu punishment, ketika suatu perilaku ingin dikurangi intensitasnya dengan memberikan aversive stimulus. Mungkin Sobat Psike akan sedikit kesusahan dalam membedakan antara punishment dengan negative reinforcement. Secara singkatnya, punishment bertujuan untuk melemahkan suatu perilaku dengan memberikan aversive stimulus ataupun mencabut pleasant stimulus sedangkan negative reinforcement bertujuan untuk meningkatkan suatu perilaku tertentu dengan cara mengurangi aversive stimulus yang sedang diterima. Mari kita lihat contoh dari punishment berikut:
Punishment
Toni yang tetap saja malas untuk mengerjakan tugas meskipun orang tuanya sudah mengingatkannya berkali-kali. Kemudian untuk melemahkan kemalasan Toni, maka orang tua Toni akan memberikannya hukuman. Hukuman tersebut berupa tidak mengizinkan Toni untuk bermain gim video kesukaannya selama 1 bulan (mencabut pleasant stimulus) atau akan memukul Toni dengan sapu lidi agar Toni jera (memberikan aversive stimulus).
Namun penerapan punishment tidak terlalu dianjurkan karena punishment tidak secara pasti dapat melemahkan suatu perilaku. Pun Skinner dan Thorndike setuju bahwa efek dari pemberian punishment kepada individu dapat memberikan hasil yang kurang dapat diprediksi. Berikut ada beberapa kendala yang muncul saat menerapkan punishment:
- Perilaku yang ingin diubah tidak menghilang, sehingga apabila ketika penerapan punishment tidak dilakukan maka perilaku dapat muncul kembali.
- Meningkatkan amarah dari individu.
- Menciptakan perasaan takut yang dapat digeneralisasi ke hal lainnya.
- Tidak mengarahkan individu ke perilaku yang seharusnya dilakukan, melainkan hanya melarang individu untuk melakukan perilaku tertentu.
Nah, jadi Sobat Psike sudah mulai memiliki pemahaman mendasar ya terkait apa sih itu operant conditioning dan bagaimana contoh penggunaannya. Kira-kira Sobat Psike mau pakai cara yang mana nih dari operant conditioning untuk mengubah atau meningkatkan perilaku tertentu? Jangan putus semangat, semua cara-cara ini perlu dilakukan secara konsisten ya. Tidak bisa berhasil kalau hanya satu atau dua kali saja, maka dari itu Sobat Psike ataupun orang-orang di sektiar perlu untuk terus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari agar hasilnya maksimal ya.
Referensi:
Feist, J., & Feist, G. (2006). Theories of personality (6th ed., pp. 440-447). Boston, Mass.: McGraw-Hill.
McLeod, S. A. (2018). Skinner – Operant Conditioning. Diakses pada 25 Juni 2021, dari https://www.simplypsychology.org/operant-conditioning.html