Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Penindasan Di Dunia Maya (Cyberbullying) Lebih Berbahaya Dibandingkan Penindasan (Bullying) Dalam Bentuk Lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa cyberbullying dapat memperburuk gejala depresi dan gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder) pada anak muda. Pernyataan itu merupakan sebuah kesimpulan dari survei terbaru terhadap 50 remaja yang dirawat inap di rumah sakit jiwa di New York. Para peneliti melaporkan bahwa mereka yang telah diintimidasi memiliki tingkat keparahan PTSD dan kemarahan yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak diintimidasi.

Seperlima dari peserta melaporkan bahwa mereka diintimidasi secara online dalam dua bulan sebelum mereka memasuki rumah sakit jiwa. Setengahnya diintimidasi oleh pesan teks dan setengahnya di Facebook. Yang lain diintimidasi melalui gambar atau video yang dikirim, Instagram, pesan instan dan forum online.

Penelitian ini dilakukan oleh Philip Harvey, seorang profesor psikiatri dan ilmu perilaku di University of Miami. Harvey mencatat bahwa remaja yang telah dilecehkan lebih mungkin untuk diganggu secara online. Temuan ini menunjukkan bahwa penilaian masa kecil untuk trauma dan untuk cyberbullying harus diintegrasikan.

Penindasan di dunia maya (cyberbullying) mungkin lebih berbahaya dibandingkan dengan bentuk-bentuk penindasan lainnya karena jangkauannya dunia maya jauh lebih. Intimidasi dapat bersifat viral dan persisten. Untuk benar-benar menjadi sebuah intimidasi, bullying tersebut harus bersifat pribadi (komentar negatif langsung yang berusaha membuat orang tersebut merasa buruk.)

Penelitian yang diterbitkan didalam Journal of Clinical Psychiatry mengungkapkan fakta lain tentang cyberbullying, yaitu:

  • Orang-orang dari semua latar belakang ekonomi dan etnis rentan terkena cyberbullying.
  • Mereka yang sebelumnya telah diintimidasi memiliki risiko lebih tinggi untuk diintimidasi lagi.
  •  

Oleh karena itu, baik orang tua maupun guru, sebaiknya memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya agar putra putrinya terhindar dari permasalahan cyberbullying, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban.