Pernah tidak berbicara pada diri sendiri? Misal saat gugup kamu berbicara pada dirimu “tenangm tidak apa-apa kok”, atau ketika kamu berhasil mengerjakan ujian “wah hebat banget sih diri aku”, atau jangan sampai kamu malah menyalahkan diri ketika rencana tidak berjalan baik “duh kok aku salah sih dalam membuat rencana”.. Nah contoh-contoh tadi merupakan sedikit dari banyaknya pembicaraan diri yang kita lakukan. Tapi sebenarnya apa sih pembicaraan diri atau self-talk itu?
Self-Talk adalah suatu cara untuk bisa “berdialog dengan diri sendiri” dengan ucapan atau kata-kata yang terlintas dalam benak individu, bisa bersifat negatif maupun positif. Hardy mendefinisikan self-talk yaitu “self-talk diwujudkan dengan kata, pikiran, senyuman, atau kerutan (wajah), dan kapanpun kamu memikirkan sesuatu, kamu berbicara kepada diri sendiri; pernyataan yang ditujunjukan kepada diri sendiri”. Hardy membagi tiga ciri penting self-talk yaitu : (a) self-talk diarahkan pada diri sendiri dan bukan pada orang lain; (b) dapat terjadi baik secara lantang maupun internal; dan (c) itu terjadi sebagai pernyataan diri atau sesuatu yang kita katakan kepada diri kita sendiri (Van Raalte & Vincent, 2017). Sedangkan menurut Hackfort & Schwenkmezger self-talk didefinisikan sebagai dialog eksternal ataupun internal diterapkan untuk memberikan instruksi dan penguatan pada kinerja selama pelaksanaan keterampilan sehari-hari (Indraharsani & Budisetyani, 2018); dialog individu pada dirinya sendiri dimana dia menafsirkan perasaan dan persepsinya, serta mengatur dan mengubah keyakinannya, serta juga memberikan intruksi dan penguatan bagi dirinya (Sekar et al., 2020). Disebutkan pula oleh Sellars bahwa self-talk merupakan hal yang seseorang ucapkan baik dengan menggunakan suara yang keras maupun suara kecil kepada diri sendiri (Indraharsani & Budisetyani, 2018).
FUNGSI SELF-TALK
Self Talk merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres. Self Talk bukan mencoba untuk memaksakan atau merubah perilaku/pikiran yang ada dalam individu, namun membuat diri mereka menjadi lebih tenang, sehingga pikiran menjadi lebih rasional/ positif (Sekar et al., 2020).
Selain itu, self-talk dapat mengendalikan dan meningkatkan usaha untuk tetap fokus pada tugas, meningkatkan energi, memberi efek positif, meningkatkan kontrol terhadap emosi, dengan kata-kata seperti “tenang”, “sabar”, “semua baik-baik saja”, dan “saya akan melakukan lebih baik”, serta memberikan keyakinan dan kekuatan untuk meningkatkan performa (Indraharsani & Budisetyani, 2018).
Fungsi lain adalah fungsi ekspresif, interpreatif, dan pengaturan diri. Fungsi ekspresif ini penting karena memungkinkan interpretasi dan pertimbangan yang berkaitan dengan pengalaman masa lalu, serta memungkinkan pengaturan diri dalam bentuk perencanaan masa depan. Sehubungan dengan fungsi ekspresif, Van Raalte dkk berpendapat self-talk berfungsi untuk mengekspresikan intuisi, perasaan, dan pikiran non-verbal dalam cara verbal. Self talk juga dianggap sebagai self-regulatory untuk mengarahkan fokus perhatian, meningkatkan kepercayaan diri, mengatur usaha individu, mengendalikan reaksi emosional dan kognitif, serta membuat putusan; melalui simulasi mental dan pemrosesan reflektif yang dapat mengarah pada peningkatan kinerja (Van Raalte & Vincent, 2017).
KATEGORI SELF-TALK
- Valensi (Valence)
Valensi mengacu pada nada emosional dari pernyataan self-talk. Self-talk terbagi ke dalam kategori self-talk positif, negatif, dan netral. Self-talk positif mengacu pada pernyataan yang mendorong atau meyakinkan diri sendiri, misalnya, “Kerja bagus!” ataupun kata-kata yang memotivasi (yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi) seperti “Kamu bisa melakukannya!”. Self-talk negatif mengacu pada pernyataan yang mengecilkan hati atau mencela diri sendiri, misalnya “Saya buruk”. Self-talk netral tidak memiliki nada negatif atau positif dan mencakup pernyataan yang terkait dengan taktik atau strategi. Netral self-talk juga termasuk instruksional self-talk, yang mengacu pada pernyataan seperti “pelan dan mantap” atau “menekuk lutut,” yang memberikan bimbingan atau instruksi kepada seorang atlet.
- Keterbukaan (Overtness)
Self-talk memisahkan pernyataan overt self-talk yang terjadi secara lantang dan dapat dilihat atau didengar oleh orang lain dari pernyataan terselubung yang terjadi secara internal. Self-talk dapat diucapkan dengan mulut tetapi tidak diucapkan dengan keras.
- Sistem 1 dan Sistem 2
Van Raalte dkk mengembangkan pendekatan yang menggunakan kategorisasi Sistem 1 dan Sistem 2 untuk mengkategorikan self-talk berdasarkan pemrosesan informasi. Sistem 1, melibatkan pemrosesan otonom yang cepat, intuisi, firasat, dan kesan; contohnya firasat dan kesan seperti teriakan “hore!” setelah gol dicetak atau “tidak!” dalam menghadapi kesalahan. Sistem 2, melibatkan upaya kognitif dan bergantung pada memori kerja; self-talk yang mengarahkan perhatian dengan cara tertentu seperti “tekuk lutut Anda dan ikuti” atau “Anda bisa melakukannya!”.
- Bentuk Tata Bahasa (Gramatical form)
Membandingkan efek dari pernyataan interogatif seperti “Akankah saya?” untuk pernyataan masa depan yang sederhana seperti “Saya Akan”. Berkenaan dengan kata ganti, penggunaan kata ganti kolektif “kita”, terhadap penggunaan kata ganti “Saya,” telah terbukti meningkatkan self-efficacy dan kinerja pada tugas. Demikian pula, penggunaan kata ganti orang bukan orang pertama seperti nama sendiri meningkatkan kemampuan untuk mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku relatif. Kata ganti orang non-pertama cenderung digunakan ketika orang secara aktif dan mandiri menanggapi situasi negatif (Van Raalte & Vincent, 2017).
Referensi :
Indraharsani, I. A. S., & Budisetyani, I. W. (2018). Efektivitas Self-Talk Positif Untuk Meningkatkan Performa Atlet Basket. Jurnal Psikologi Udayana, 4(02), 367. https://doi.org/10.24843/jpu.2017.v04.i02.p12
Sekar, S., Ananda, D., & Apsari, N. C. (2020). MENGATASI STRESS PADA REMAJA SAAT PANDEMI COVID-19 DENGAN TEKNIK SELF TALK. 7(2), 248–256.
Van Raalte, J. L., & Vincent, A. (2017). Self-Talk in Sport and Performance. Oxford Research Encyclopedia of Psychology, October, 1–18. https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190236557.013.157