Merunut tentang emosi, Strongman (2003) menyatakan sejarah emosi sejak jaman Plato hingga jaman modern sekarang ini, mengalami pemahaman yang terus berkembang. Menurut Plato, emosi bukan sebagai posisi sentral dalam jiwa, karena emosi terletak antara jiwa/roh dengan keinginan, kehendak untuk makan (bertahan hidup). Aristoteles memandang emosi sebagai hal menarik, karena dipandang sebagai campuran antara kehidupan kognitif yang lebih tinggi dengan nafsu seksual (yang dianggap rendah). Emosi dikaitkan dengan kesenangan, rasa sakit, marah, takut, dan kasihan. Emosi seperti marah dalam beberapa kasus dibenarkan dan beberapa kasus yang menimpa orang lain tidak dibenarkan.
Priyanto (2017) menyebutkan dalam diri manusia terdapat emosi primer dan emosi sekunder. Emosi primer : emosi yang dianggap sebagai emosi yang berlaku secara umum (bawaan sejak lahir) dan memiliki dasar biologis yaitu :
- Rasa takut (fear),
- Marah (anger),
- Sedih (sad),
- Senang (happy, joy),
- Terkejut (surprise),
- Jijik (disgust),
- Rasa tidak suka, sebal (contempt).
Sedangkan Emosi sekunder : semua variasi dan campuran berbagai emosi yang bervariasi antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, berkembang secara bertahap sesua tingkat kedewasaan kognitif dan berbeda-beda untuk tiap individu dan tiap kebutayaan . Tanpa emosi, manusia akan :
- Sulit mengambil keputusan
- Sulit merencanakan masa depan
- Sulit merasakan kebahagiaan atau kesedihan
- Sulit menjadi manusia seutuhnya
- Sakit jiwa (Wade & Travis, 2008).
Manajemen dan mengatur suasana hati terhadap suatu kejadian dengan suatu toleransi yang memadai sehingga didapat hasil yang sesuai dengan harapan diri dan orang lain, sering disebut sebagai kecerdasan emosional. Menurut Fernandez-Berrocal (dalam Zeidner, Matthews, Bradford. (2009)) bahwa kecerdasan emosi berhubungan dengan kesehatan mental.
Kecerdasan emosional tidak datang dengan sendirinya, tetapi dilatih, diasuh, dididik, dipelihara, dikembangkan melalui pembelajaran sosial. Di kalangan sekolah, ternyata kecerdasan emosional yang mampu berkembang dengan optimal mampu meningkatkan prestasi sekolah daripada mereka yang kecerdasan emosionalnya kurang berkembang.
Demikian sebaliknya orang yang kurang cerdas emosionalnya akan menghasilkan prestasi belajar yang rendah, kenakalan, hamil di luar nikah, membolos, narkoba, perasaan mental yang tertekan. Sedangkan emosi yang cerdas akan mendukung siswa dalam perilaku prososial, kesehatan mental, kesejahteraan psikologis dan sosial (Hawkins et al dalam Zeidner, Matthews, Bradford, 2009).
Ketidakmampuan untuk mengatur emosi dan regulasi emosi yang buruk akan mengganggu keberhasilan akademis dan keberhasilan sosial dengan cara yang dramatis. Kurangnya pelatihan dalam regulasi emosi telah menjelaskan mengapa intervensi kesehatan mental diperlukan dengan cara konseling . Artinya regulasi emosi yang buruk menjadikan individu menjadi memiliki mental yang kurang sehat sehingga merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, sehingga diperlukan intervensi kesehatan mental untuk mengurangi kerugian tersebut.
Di bawah ini terdapat hasil penelitian regulasi emosi (Macklem, 2011) dengan kondis sekolah, keluarga dan dalam masyarakat: bahwa proses regulasi emosi sangat penting untuk fungsi adaptif dan kesehatan fisik . Regulasi emosi sangat dipengaruhi oleh budaya.
Dalam budaya Amerika, belajar untuk mengatur emosi dengan cara tertentu adalah penting untuk keberhasilan sekolah dan kesehatan mental. Regulasi emosi adalah kekuatan inti yang diperlukan untuk kognitif yang sehat, serta pertumbuhan emosional (Eisenberg et al.). Regulasi yang baik dari emosi, kecuali rasa takut berhubungan dengan perilaku prososial (Rydell, Thorell, & Bohlin). Gumora dan Arsenio telah memberikan hasil penelitian bahwa regulasi emosi memainkan peran penting dalam pencapaian prestasi siswa. Masa perkembangan sangat memerlukan self-regulation sebagai salah satu tugas yang paling penting untuk menjadi tumbuh dewasa. Pada awal masa remaja, siswa yang bisa mengendalikan dan menampilkan emosional positif memiliki hubungan sosial yang lebih baik dengan rekan-rekannya, lebih prososial, dan kurang agresif (Vobach & Foster). Pada masa remaja, pengendalian emosi adalah variabel kunci dalam menjaga hubungan baik.
Penguasaan regulasi emosi dapat mempromosikan ketahanan, membantu untuk mengatur suasana hati, memberikan kontribusi motivasi intrinsic lebih baik, dan membantu memperbaiki emosi negatif (Kashdan). Regulasi emosi adalah aspek dasar pembangunan manusia yang sehat (Dennis, Malone). Regulasi emosi bersama dengan disposisi afektif dan emosi akademik memberikan sumbangan positif untuk mencapai rata-rata indeks prestasi siswa menjadi lebih baik (Gumora & Arsenio). Dennis menganggap regulasi emosi sebagai kemampuan yang paling penting dalam perkembangan emosional siswa.
Regulasi emosi diperlukan ketika mengalami konflik, bagaimana pada saat dan situasi tertentu seseorang harus bertindak, seperti ketika seorang siswa merasa marah, dan perlu mengekspresikan kemarahan yang mungkin sulit tapi dapat diterima orang lain. Mengekspresikan amarah yang tidak tepat bisa mendapatkan kesulitan, sehingga menimbulkan konflik atau prasangka negative dari orang lain. Regulasi emosi dibutuhkan ketika mahasiswa perlu memaksa dirinya untuk hadir dalam suatu pertemuan, dan mengalami ketakutan tetapi perlu tampil tenang. Regulasi emosi yang dibutuhkan ketika seseorang mendapat ancaman, atau mengendalikan mobil ketika ban tiba-tiba pecah.
Hasil penelitian Milkie & Warner (2011) menyatakan bahwa kesehatan mental sangat diperlukan dalam dunia pendidikan. Kesehatan mental yang buruk berhubungan dengan kemiskinan, kepribadian yang mudah stress, mudahnya terkena penyakit menular, mudah emosional, standar akademi yang rendah, perilaku gaduh, dan tingkat ketrampilan yang rendah.
Terdapat tiga alasan dalam penelitian Milkie dan Warner, pertama, konteks pekerjaan dan kesehatan orang dewasa, konteks sekolah penting untuk memahami masalah emosional dan perilaku anak-anak. Kedua, kualitas sekolah terkait dengan SES dan status rasial siswa, lingkungan sekolah yang buruk berhubungan kesehatan mental yang buruk dan SES rendah dari anak-anak minoritas. Ketiga, lingkungan sekolah terkait dengan kesehatan emosional yang rendah.
Kesehatan mental anak-anak berhubungan dengan kemiskinan dan masalah keluarga dalam memberikan kontribusi internalisasi dan eksternalisasi. Kemiskinan meningkatkan orang tua, terutama ibu, mudah terkena depresi, menerapkan disiplin yang terlalu keras, dan tidak merespon secara emosional dengan kebutuhan anak-anak, sehingga membuat anak bertindak di luar batas atau merasa cemas dan tertekan. Anak-anak menderita kemiskinan dan merasa minoritas, tinggal di lingkungan yang kurang teratur, penuh kejahatan, lingkungan kurang dalam sumber daya yang berkualitas seperti perpustakaan dan taman. Kondisi ini menjadikan anak-anak lebih rentan terhadap depresi karena dikelilingi oleh orang masalah dan konflik dan miskin.
Kondisi eksternal seperti budaya, pola pengasuhan, SES yang memadai, lingkungan yang sehat, adanya cinta kasih dan kasih sayang menjadi factor pendukung untuk terbentuknya emosi yang positif (emosi yang cerdas atau emosi yang telah mengalami regulasi). Kondisi internal seperti kepribadian, kognisi, tingkat perhatian, hiperaktif, mood, tingkat stress, juga menentukan terbentukan emosi yang positif. Adanya emosi yang positif akan sangat mendukung terbentukna pola pikir, sikap dan pola perilaku yang sehat sehingga mampu menghasilkan perilaku kelas yang berprestasi, suka menolong, adaptif, percaya diri, mampu mengatasi masalah, mampu membedakan benar dan salah, normative, dan menghargai alam (peduli pada lingkungan hidup). Sehingga dapat dikatakan bahwa emosi yang positif sangat penting mendukung terbentuknya pola perilaku hidup yang sehat.
Referensi :
Macklem, G.L. (2011). Evidence-Based School Mental Health Services; Affect Education, Emotion Regulation Training, and Cognitive Behavioral Therapy. New York: Springer.
Milkie, M.A. and Warner, C.H.. (2011). Classroom Learning Environments and the Mental Health of First Grade Children. Journal of Health and Social Behavior. 52(1) 4–22. © American Sociological Association 2011. DOI: 10.1177/0022146510394952. http://jhsb.sagepub.com
Priyanto, P. H. (2017). EMOSI POSITIF MENDUKUNG KESEHATAN MENTAL. Psikologi Kesehatan, 13.
Strongman. K. T. (2003). The Psychology of Emotion. From Everyday Life to Theory. Fifth edition. England: John Wiley & Sons Ltd.
Wade, C. & Tavris, C. (2008). Psikologi. Alih bahasa :Padang Mursalin & DInastuti. Edisi ke Sembilan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Zeidner, M; Matthews, G; Bradford, RDA. (2009). What We Know About Emotional Intelligence; How It Affects Learning, Work, Relationships, and Our Mental Health. London: A Bradford Book;The MIT Press