Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Pandangan Psikologi Positif Terhadap Perilaku Protective, Preparedness dan Perverse Behavior Saat Pandemi COVID – 19

Pandemi COVID – 19 atau bisa disebut dengan Novel coronavirus muncul di tahun 2020 yang menyebar ke seluruh dunia yang menginfeksi lebih dari 70 juta orang dan kematian lebih 1,5 juta di tahun 2020 (World Health Organization, World Health Organization (WHO), 2020). Adanya pandemi tersebut, WHO (World Health Organization) memberikan rekomendasi kepada pemerintah secara internasional untuk memberlakukan solusi di keadaan darurat tersebut dengan melibatkan perintah untuk stay di rumah, penutupan sekolah/universitas (pembelajaran daring), persyaratan jarak fisik (social distancing), alat perlindungan diri yang ditegakkan, dan tindakan karantina bagi individu yang terpapar atau terinfeksi COVID – 19 (Imai et al., 2020; Sohrabia et al., 2020). Dengan adanya hal tersebut, bisa dikatakan bahwa adanya perubahan perilaku yang tampak di masyarakat (Undip, 2020).

Perubahan perilaku dapat memberikan implikasi terhadap masyarakat atau individu yang melakukan perubahan perilaku tersebut yang dimana perilaku tersebut adalah protective, preparedness dan perverse behavior (Undip, 2020). Protective behavior adalah sebuah sikap yang dilakukan seseorang untuk menghentikan penyebaran penyakit dengan mematuhi peraturan atau protokol kesehatan. Social distancing (menjaga jarak, karantina mandiri) dan personal hygiene (sikap mencuci tangan, menggunakan masker, menyemprot desinfektan) merupakan suatu sikap dari protective behavior. Preparedness behavior adalah sebuah sikap untuk merespon dengan tepat untuk menghentikan serta menghambat penyebaran penyakit dengan memastikan kebutuhan akan ketersediaan yang dibutuhkan seperti membeli masker, face shield, hand sanitizer, kebutuhan sehari – hari; mencari informasi mengenai jumlah orang yang terinfeksi penyakit dan distribusi kasus penyakit, serta intervensi/sikap yang telah dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan, Perverse behavior adalah sebuah sikap yang dilakukan tetapi berbeda dari biasanya tapi terlihat normal di kaca mata masyarakat saat pandemi. Contohnya adalah menghindari tempat rumah sakit atau klinik kesehatan dan terobsesi untuk membeli obat anti – virus. Penjelasan tentang perubahan perilaku tersebut sesuai seperti yang dijelaskan oleh Undip (2020) pada website Universitas Diponegoro.

Perubahan perilaku seperti yang dijelaskan sebelumnya, dapat berpontensi mengganggu kesehatan mental individu. Kesehatan mental mengacu pada kondisi positif yaitu seperti kesejahteraan psikologis atau psychological well – being yang memiliki nilai postif, memiliki sebuah karakter secara kuat, serta memiliki sifat kebajikan atau baik (Lowenthal, 2006; dalam Dewi, 2012). Selain itu, kesehatan mental memiliki arti sebagai kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh individu yang mampu melakukan coping stress atau mengelola stress; bersikap produktif, menghasilkan, dan dapat berperan dalam lingkungannya (Putri, dkk, 2015). Ukuran akibat dari pandemi COVID – 19 terhadap kesehatan mental individu belum dapat diukur secara luas dan lengkap atau komprehensif, namun dapat diperkirakan atau dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kim, dkk tahun 2019 yaitu tentang wabah MERS – COV di tahun 2015 terjadi di Korea Selatan yang dapat disimpulkan bahwa karantina atau isolasi yang dilakukan oleh pasien terinfeksi penyakit tersebut dapat mengalami peningkatan level stress (Ridlo, 2020).

Social distancing termasuk dalam Protective behavior yang dapat menimbulkan kesepian, kebosanan, kesedihan, terisolasi, dan berpeluang membuka terjadinya peningkatan prevalensi depresi. Mencari informasi yang berkaitan tentang pandemi COVID – 19 termasuk dalam preparedness behavior yang dapat menimbulkan kegelisahan, kebingungan, ketidakpastian sehinggan memiliki potensi individu mengalami kepribadian yang pencemas. Kepribadian pencemas ini dapat memiliki potensi yang besar apabila sebelumnya memiliki gangguan psikologis terkait kecemasan karena adanya pandemi COVID – 19 seperti takut terinfeksi virus sehingga takut untuk berkontak dengan objek yang diduga oleh si pencemas dapat menularkan virus dan takut terhadap datangnya orang asing. Disamping itu, dapat berpotensi menimbulkan perilaku kompulsif atau mendorong individu untuk cuci tangan dan menyemprotkan disinfektan secara berlebihan. Sedangkan penerapan WFH (Work from Home) dan pembelajaran jarak jauh (daring) termasuk dalam perverse behavior dapat meningkatkan burnout atau kelelahan fisik, mental dan emosi. Serta dapat mengakibatkan over exhaused atau teler dan tertekan. Penjelasan tentang dampak dari perubahan perilaku tersebut sesuai seperti yang dijelaskan oleh Undip (2020) pada website Universitas Diponegoro.

Dampak dari perubahan perilaku yang terjadi saat pandemi COVID – 19 yang berpontensi mengganggu kesehatan mental dapat dihubungkan dengan konsep person in environment. Konsep dari person in environment memiliki pandangan bahwa kehadiran individu disuatu lingkungan memiliki hubungan atau keterikatan yang dinamis dengan lingkungannya. Dan sebaliknya, lingkungan akan mempengaruhi atau dapat memberi dampak pada perubahan dalam diri individu. Dengan adanya konsep tersebut, dapat di tarik kesimpulan bahwa individu yang mengalami gangguan terhadap kesehatan mental adalah merupakan sebuah hasil dari individu yang gagal untuk beradaptasi dengan lingkungannya (Putri, dkk, 2015).

Dengan melihat perubahan perilaku yang memiliki potensi mengganggu kesehatan individu saat pandemi COVID – 19, maka diperlukannya psikologi positif. Dimana psikologi positif dapat membantu untuk menangani permasalahan kesehatan mental individu untuk memberikan pandangan individu bagaimana individu dapat mengatasi dan tumbuh di masa krisis seperti pandemi COVID – 19. Hal tersebut sejalan dengan yang dipaparkan oleh Waters, Algoe, dkk (2021) pada jurnalnya yang berjudul Positive Psychology in A Pandemic: Buffering, Bolstering, And Building Mental Health. Menurut Waters, Algoe, dkk (2021) pada jurnalnya yang berjudul Positive Psychology in A Pandemic: Buffering, Bolstering, And Building Mental Health menjelaskan terdapat beberapa konsep dari psikologi positif yang dapat menjawab permasalahan kesehatan mental saat pandemi COVID – 2019 yaitu:

  • Meaning (Makna)

Meaning (makna) memiliki maksud sejauh mana individu dapat memahami, melihat, menilai, menghargai, mengaspirasi kehidupan dirinya sendiri (Steger, 2021). Penerapan konsep teori ini dapat ditinjau dari tiga elemen yaitu:

  • Koherensi: Pandemi dapat mengancam koherensi yang dimiliki individu seperti ketidakpercayaan tentang dampak positif atas intervensi yang telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus terhadap keamanan diri sendiri, memikirkan kacaunya rutinitas serta menanyakan akan identitas dirinya. Cara mengatasinya yaitu mengeksplorasi keyakinan dasar tentang makna kehidupan yang dimiliki atau yang terganggu, serta menginvestasikan waktu untum membangun keyakinan dalam diri dengan optimis (Waters, Algoe, dkk, 2021)
  • Signifikansi: Pandemi dapat mengancam signifikansi yang dimiliki individu seperti merasa diri tidak berdaya dan terhanyut dalam kondisi pandemi COVID – 19 yang tidak dapat kita kendalikan. Cara mengatasinya yaitu berusaha melakukan perubahan baru dalam hidup dengan mengambil langkah – langkah yang memberikan dampak positif bagi diri sendiri (Waters, Algoe, dkk, 2021).
  • Tujuan: Pandemi dapat mengancam tujuan yang dimiliki individu seperti melemahnya motivasi dan membuang rencana dan aspirasi yang telah dibuat sebelumnya. Cara mengatasinya yaitu melihat kembali visi misi yang telah dibuat, mana yang telah terhalang akibat adanya pandemi COVID – 19 dengan tujuan untuk memotivasi diri kembali untuk mewujudkan visi misi tersebut dengan beberapa cara agar dapat terwujud (Waters, Algoe, dkk, 2021).
  • Coping

Coping merupakan upaya yang dilakukan individu dengan perubahan/upaya kognitif dan perilaku yang mendorong adaptasi terhadap stressor (sumber stress) yang bertujuan untuk mencapai rasa aman dalam diri individu. Penerapan konsep teori ini adalah dengan penilaian ulang positif yang bertujuan untuk meningkatkan pengalaman kognitif positif. Selain itu, emosi positif yang ditunjukkan seperti rasa terima kasih (Waters, Algoe, dkk, 2021).

  • Self – Compassion

Self – Compassion merupakan sikap yang memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dan perhatian tanpa menghakami dan/atau mengkritik atas saat mengalami dalam suatu penderitaan atau sedang berjuang dalam dalam beberapa hal. Penerapan konsep teori ini adalah menjadi diri sendiri memiliki pola pikir yang sehat dan stabil dengan cara diperlukan untuk memperhatikan rasa sakit yang dirasakan dan bersedia untuk memvalidasi atau mengakui akan rasa sakit itu daripada menekan dan mengabaikan rasa tersebut. Selain itu, disaat yang sama saat merasakan rasa sakit tersebut diperlukan suatu perspektif/pandangan akan rasa tersebut secara seimbang dengan tidak melebih – lebihkan (Waters, Algoe, dkk, 2021).

  • Courage

Courage merupakan suatu keberanian untuk mengambil resiko dalam mencapai kebajikan. Penerapan konsep teori ini adalah meningkatkan rasa keberanian untuk mengingatkan diri sendiri tentang nilai atau tujuan yang akan dikejar (Waters, Algoe, dkk, 2021).

  • Gratitude

Gratitude merupakan rasa syukur atau berterima kasih terhadap hal yang menghampiri dirinya khususnya kebaikan yang diterima. Penerapan konsep teori ini adalah tetap memiliki pola pikir rasa syukur di tengah krisis virus COVID – 19 dengan mengambil hikmah yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup, dikhususkan bagi individu yang dijadikan sebagai individu yang beruntung karena tidak terinfeksi virus (Waters, Algoe, dkk, 2021).

  • Character Strengths

Character Strengths merupakan kekuatan karakter dalam diri individu seperti minat, keterampilan, bakat, nilai dan sumber daya. Kekuatan karakter yang diterapkan di tengah pandemi COVID – 19 dapat mengbangun kapasitas individu untuk belajar bagaimana caranya menghasilkan suatu pengalam positif masa sulit yang dihadapi. Penerapan konsep teori ini adalah jika individu mengalami kemunduran dalam dirinya dikehidupannya, maka kekuatan karakter yang digunakan dengan keberanian dan perspektif untuk mencari solusi atas kemundurannya tersebut (Waters, Algoe, dkk, 2021).

  • Positive Emotions

Positive Emotions merupakan respon positif yang ditunjukkan oleh individu karena terdapat stimulus atau rangsangan dalam konteks yang positif. Emosi positif ini sebagai alasan utama yang memungkinkan individu kuat untuk menghindari gejala depresi. Terutama dalam masa seperti sekarang Pandemi COVID-19 sangat penting untuk menyadari bahwasan emosi positif dapat hidup berdampingan dengan emosi negatif (Waters, Algoe, dkk, 2021).

  • Positive Interpersonal Process

Positive Interpersonal Process merupakan pengalaman sehari – hari, seperti berbagi tawa, bersikap baik, mengalami dan mengungkapkan rasa syukur, merasakan kekaguman, dan dicintai. Proses interpersonal ini didorong oleh emosi positif dan berpotensi memengaruhi kedua orang dalam interaksi. Penerapan konsep teori ini adalah tindakan kebaikan yang dilakukan selama COVID – 19 dengan menyumbangkan makanan, uang, donor darah, dan bahkan memberikan barang berdasarkan permintaan yang lebih bermanfaat bagi individu yang membutuhkan (Waters, Algoe, dkk, 2021).

  • High Quality Connections

High Quality Connections merupakan momen di mana kedua orang dalam koneksi merasakan peningkatan vitalitas, mutualitas, dan penghargaan positif. HQC untuk mengidentifikasi dan menerapkan pendekatan ke interaksi virtual/tatap muka yang membuat mereka lebih mungkin untuk menghasilkan HQC dan menuai dampak yang menguntungkan yaitu individu dapat secara aktif menciptakan ‘kehadiran psikologis’ yang lebih besar sebagai menghilangkan gangguan dan secara aktif memusatkan perhatian pada interaksi langsung dan terdekat dengan orang lain (Waters, Algoe, dkk, 2021).

Dari pemaparan diatas bahwasannya perilaku protective, preparedness dan perverse behavior saat pandemi COVID – 19 dapat berpotensi mengganggu psikologis individu. Gangguan psikologis tersebut akibat perubahan perilaku, dapat ditinjau melalui perspektif psikologi positif yang dapat diterapkan di kehidupan sehari – hari dengan menerapkan beberapa konsep psikologi positif yaitu Meaning, Coping, Self – Compassion, Courage, Gratitude, Character Strengths, Positive Emotions, Positive Interpersonal Process dan High Quality Connections.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, K. S. (2012). Buku Ajar Kesehatan Mental.

Putri, A. W., Wibhawa, B., & Gutama, A. S. (2015). Kesehatan mental masyarakat Indonesia (pengetahuan, dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan kesehatan mental). Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2).

Ridlo, I. A. (2020). Pandemi Covid-19 dan tantangan kebijakan kesehatan mental di Indonesia. INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 5(2), 162-171.

Steger, M. F. (2021). Meaning in life: A unified model. In C. R. Snyder, S. J. Lopez, L. M. Edwards, & S. C. Marques (Eds.), Oxford handbook of positive psychology (3rd ed., pp. 679–688). Oxford University Press.

Undip (2020) https://www.undip.ac.id/post/17201/psikolog-undip-ingatkan-potensi-gangguan-psikologis-di-masa-pandemi-covid-19.html diakses pada tanggal Sabtu, 3 Juli 2021.

Waters, L., Algoe, S. B., Dutton, J., Emmons, R., Fredrickson, B. L., Heaphy, E., … & Steger, M. (2021). Positive psychology in a pandemic: buffering, bolstering, and building mental health. The Journal of Positive Psychology, 1-21.

World Health Organization (WHO). (2020). Situation reports. https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports diakses pada tanggal Sabtu, 3 Juli 2021.

Sumber Gambar: https://www.betterhelp.com/advice/stress/7-tips-on-how-to-handle-stressful-situations/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *