Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengenal Resiliensi

Halo Sobat Psike! Pernahkah kamu merasa sedang dalam kondisi tertekan, tetapi kamu harus tetap bertahan? Terkadang, hal itu juga terjadi demi membantu orang lain. Dalam psikologi, hal ini disebut dengan resiliensi. Apa sebenarnya resiliensi itu? Mari kita simak pembahasannya bersama!

Definisi Resiliensi

Resiliensi atau ketahanan merupakan kemampuan untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kesehatan mental, meski mengalami kesulitan. Dengan kata lain, resiliensi adalah upaya dalam mempertahankan kondisi psikologis meskipun sedang berada dalam kondisi yang tertekan. Resiliensi ini biasanya terjadi saat mengalami peristiwa traumatis.

Dalam resiliensi, adaptasi merupakan tindakan manusia dalam menerima segala bentuk perubahan yang terjadi. Beberapa perubahan yang terjadi mengharuskan individu untuk bertahan bahkan beradaptasi. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat berupa kehilangan anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, perceraian, penggusuran tempat tinggal, kondisi keuangan yang tiba-tiba jatuh, serta bencana alam.

Prinsip-prinsip Resiliensi

Menumbuhkan resiliensi tentunya tidak mudah bagi sebagian orang, resiliensi dapat didefinisikan dalam lima prinsip, antara lain:

  1. Rasa syukur (gratitude)
  2. Kasih sayang (compassion)
  3. Penerimaan (acceptance)
  4. Arti (meaning)
  5. Memaafkan (forgiveness)

Faktor-faktor Sumber Resiliensi

Seseorang dapat memiliki resiliensi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

Faktor Personal

Faktor personal, yaitu faktor psikologis yang terdapat dalam diri individu yang menjadi sumber resiliensi, antara lain:

  1. Kepribadian individu seperti keterbukaan, ekstraversi, dan keramahan,
  2. Memiliki internal locus of control,
  3. Penguasaan terhadap lingkungan,
  4. Kemampuan self-efficacy,
  5. Self-esteem yang tinggi,
  6. Kemampuan dalam penilaian kognitif, dan
  7. Optimisme

Faktor Biologis

Lingkungan yang keras dapat berpengaruh terhadap perkembangan struktur otak, fungsi, dan sistem neurobiologis, sedangkan pola asuh yang suportif pada masa bayi dan masa kanak-kanak dapat meningkatkan resiliensi dan mengurangi efek dari lingkungan yang toxic.

Faktor sistem lingkungan

Pada tingkatan lingkungan yang mikro, dukungan sosial berkorelasi positif terhadap resiliensi. Keterikatan dan hubungan yang intim dengan anggota keluarga, stabilitas dalam ekonomi, dan relasi dengan teman sebaya yang baik akan meningkatkan resiliensi. Pada tingkat lingkungan yang makro, sistem masyarakat yang aman, lingkungan sekolah yang baik, faktor budaya, dan agama berkontribusi terhadap resiliensi.

Interaksi Antara Gen-Lingkungan

Ternyata, genetik dan lingkungan juga dapat mempengaruhi resiliensi individu secara bersamaan. Faktor tersebut antara lain reaksi antara gen-lingkungan, efek dari pengalaman positif dan negatif sepanjang hidup, dampak dari pengaturan sosial, dan norma atau peraturan dalam budaya dapat mempengaruhi resiliensi.

Mengenal Resilien

Resilien merupakan seseorang yang memiliki kemampuan resiliensi. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kemampuan resiliensi tidak mudah dimiliki oleh semua individu. Seseorang dapat dikatakan memiliki resiliensi apabila ia memiliki karakteristik berikut:

  • Mempunyai dan memegang pandangan positif tentang diri sendiri dan kemampuannya
  • Memiliki kapasitas untuk membuat rencana yang realistis dan melakukannya
  • Memiliki internal locus of control
  • Menjadi komunikator yang baik
  • Melihat diri sendiri sebagai pejuang dan bukan korban
  • Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dan mampu mengelola emosinya secara efektif

Cara Meningkatkan Resiliensi

Ada beberapa cara untuk dapat meningkatkan kemampuan resiliensi, seperti:

1. Temukan role model resilien yang tangguh

Role model dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang pernah mengalami trauma, kesulitan, atau bencana dapat menjadi role model yang ampuh untuk meningkatkan resiliensi.

2. Membangun jaringan sosial yang mendukung

Memiliki jaringan dukungan sosial untuk belajar dari sebelum dan setelah terpapar trauma, dapat menjadi sumber yang berharga. Hubungan dekat dengan orang lain juga dapat menambah kekuatan emosional saat menghadapi peristiwa tidak terduga.

3. Hadapi ketakutan alih-alih menghindarinya

Menerima pengalaman ketakutan dan kecemasan, dan mendorong diri sendiri untuk menghadapi ketakutan dapat membantu meningkatkan resiliensi saat menghadapi peristiwa traumatis berikutnya.

4. Menjaga kesehatan fisik

Melakukan latihan fisik secara berkala dapat berkontribusi pada ketahanan fisik dan juga dapat meningkatkan kemampuan untuk bertahan dalam situasi tertentu.

5. Mengidentifikasi character strength

Character strength dapat dimanfaatkan sebagai upaya untuk menumbuhkan faktor psikososial yang akan meningkatkan resiliensi terhadap trauma. Jika individu mampu mengetahui characte strength yang dimilikinya, ia akan mampu menghadapi berbagai macam peristiwa dengan mengandalkan character strengthnya tersebut untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapinya.

Referensi:

Cherry, K. (2021). What is resilience? Retrieved from https://www.verywellmind.com/what-is-resilience-2795059.

Herrman, H., Stewart, D. E., Diaz-Granados, N., Berger, E. L., Jackson, B., & Yuen, T. (2011). What is resilience?. The Canadian Journal of Psychiatry, 56(5), 258-265.

Iacoviello, B. M., & Charney, D. S. (2014). Psychosocial facets of resilience: implications for preventing posttrauma psychopathology, treating trauma survivors, and enhancing community resilience. European journal of psychotraumatology, 5(1), 23970. DOI:
10.3402/ejpt.v5.23970.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *