Mekanisme Pertahanan Diri pertama kali diciptakan oleh Sigmund Freud, tokoh Psikologi yang juga menciptakan Psikoanalisis. Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri) merupakan pemikiran yang diciptakan diri kita sendiri untuk melindungi perasaan serta melawan atau menghadapi kondisi yang terasa sulit jika dijalani dengan pikiran secara sadar.
Bagaimana Cara Kerja Mekanisme Pertahanan Diri
Dalam teori Sigmund Freud mengenai teori kepribadian, semua ada hubungannya dengan Id, Ego, Superego. Ego merupakan aspek dari kepribadian yang memiliki peran untuk menjadi jembatan antara id dan superego atau dalam kata lain Ego memiliki tugas untuk menyelesaikan konflik antara Id dan Superego. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai Id, Ego, dan Superego.
Id: Merupakan bagian dari mental yang memiliki fungsi untuk mencari kesenangan atau biasa disebut dengan prinsip kesenangan. Id merupakan bagian paling dasar dalam kepribadian dan mental manusia. Id hanya fokus pada kebutuhan dasar dan kesenangan saja. Contohnya seperti : “ketika mengantuk saya akan tidur, saat lapar saya akan makan.”
Ego: seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Ego berfungsi sebagai jembatan antara Id dan Superego. Pada Ego akan terjadi banyak pertimbangan dan pemikiran saat mengambil keputusan. Ego harus menimbang-nimbang sederetan tuntutan dari Id yang berupa kesenangan dan tentunya hal ini bertolak belakang dengan Superego yang mengedepankan moral dan idealisme.
Superego: Menurut Freud Superego mewakili aspek moral dari kepribadian yang dikendalikan oleh moralitas dan prinsip idealisme. Superego merupakan lawan dari Id yang merupakan prinsip kesenangan. Superego bisa seperti suara hati yang kadang mengingatkan kita untuk tidak melakukan hal-hal yang melawan hukum maupun moral. Contohnya ketika mungkin ada individu yang lapar tetapi tidak memiliki uang untuk membeli makanan, ketika Id mengarahkan untuk mencuri demi makanan maka Superego tentu akan melawan dengan melarang untuk mencuri karena itu adalah hal yang tidak baik dan bisa menimbulkan hal buruk jika tertangkap.
Freud percaya bahwa mekanisme pertahanan diri terjadi karena adanya konflik antara ketiga bagian ini, ketika ego tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara id dan superego maka terjadilah mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri sendiri terdiri dari beberapa tipe yang berbeda-beda, berikut penjelasannya:
1. Represi (Repression)
Merupakan mekanisme pertahanan diri yang bertugas untuk menyimpan informasi terlepas dari kesadaran. Represi memungkinkan memori yang dianggap buruk ditekan lalu dihilangkan namun akan berakibat pada perilaku kedepannya. Misalnya seseorang yang mengalami kekerasan pada masa kecil mungkin akan mengalami kesulitan dalam menjalani hubungan kedepannya.
2. Proyeksi (Projection)
Proyeksi adalah tipe mekanisme pertahanan diri yang melibatkan standar atau perasaan yang tidak dapat kita penuhi yang kemudian dialihkan ke orang lain. Sebagai contohnya ketika kita tidak menyukai orang lain maka kita percaya orang itu juga tidak akan menyukai kita.
3. Pengalihan (Displacement)
Pengalihan berarti mengarahkan dorongan yang tidak sesuai ini kepada sejumlah objek atau orang, sehingga dorongan yang sebenarnya dapat disembunyikan. Contohnya ketika kita sedang marah kepada teman kita tetapi melampiaskan hal itu kepada orang lain.
4. Fiksasi (Fixation)
Fiksasi adalah bentuk dari pertahanan diri pada individu saat sedang menghadapi sebuah kondisi yang membuatnya merasa tertekan dan membuat frustasi sehingga ia tidak bisa menghadapi hal tersebut. Keaadan seperti ini akan memnghambat tahap perkembangan individu ke fase selanjutnya karena individu tersebut merasa lebih aman dan nyaman berada dalam zona nyaman tersebut.
5. Regresi (Regression)
Saat dihadapkan pada situasi yang membuat stres, individu kadang mengabaikan atau melupakan strategi untuk mengatasi stres dan memilih untuk membandingkan keadaan mereka di fase perkembangan yang sebelumnya. Contohnya ketika saat seorang anak yang disapih oleh ibunya karena telah memiliki adik, dia akan menunjukkan perilaku seperti menghisap jempol atau mengompol padahal dia sudah melewati fase tersebut dan sudah tidak melakukan hal itu.
6. Sublimasi (Sublimation)
Kehendak atau pikiran yang disadari namun tidak bisa diterima dalam lingkungan sosial sehingga dialihkan pada aktivitas yang lebih bernilai. Contohnya pada seseorang yang menyukai berkelahi akhirnya mengikuti karate atau menjadi atlit bela diri.
7. Pembentukan Reaksi (Reaction Formation)
Reaksi formasi dapat mengurangi kecemasan dengan cara melakukan kegiatan yang bertolak belakang dengan apa yang dirasakan. Contohnya ketika ada seorang anak yang membenci orangtuanya namun ia tahu bahwa membenci orangtua adalah hal yang dipandang buruk oleh masyarakat sehingga alih-alih bersikap buruk kepada orangtua, dia malah menunjukkan kasih sayangnya kepada mereka. Kasih sayang yang diberikan ini bersifat tidak tulus dan hanya berfungsi untuk menghindari kecemasan.
8. Introyeksi (Introjections)
Introyeksi merupakan mekanisme pertahanan diri yang berupa peleburan nilai-nilai positif orang lain ke dalam dirinya sendiri. Introyeksi mengadopsi nilai-nilai positif orang lain entah itu dari tokoh panutan, artis, aktor yang dianggap memiliki sifat-sifat positif. Contohnya seorang remaja yang mengidolakan artis tertentu dan kemudian mengadopsi nilai-nilai atau kepribadian positif yang dimiliki oleh artis tersebut.
Mekanisme Pertahanan Diri seringkali dianggap negatif tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kita membutuhkannya untuk menghalau stres dan melindungi diri saat menghadapi situasi dan kondisi yang dinilai cukup sulit. Menghadapi situasi sulit akan membuat kita merasa lelah dan bahkan cemas,menemukan strategi yang baik untuk menangkal stres di kondisi tertentu sangat disarankan agar kesejahteraan mental tetap terjaga.
Semoga artikel ini membantu!
Referensi:
Yates, B. T. (2009). Theories of personality.
https://www.verywellmind.com/defense-mechanisms-2795960