Pada kondisi perkembangan era-Digital ini muncul bencana dunia yang diawali dari Negara China dengan adanya Virus COVID-19. Perkembangan permasalahan, tantangan dan hambatan dalam dunia pendidikan semakin meningkat. Jika kondisi pandemi ini terus berlanjut, kemungkinan munculnya permasalahan-permasalahan baru dan lebih kompleks dalam dunia pendidikan. Terkhusus pada pendidikan anak usia dini, dimana anak-anak merupakan individu yang masih perlu adanya eksplorasi dari berbagai lingkup. Seperti lingkup sosial yang berupa lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar. Eksplorasi Lingkungan tersebut dapat dilakukan anak hanya “dirumah saja”, ketika pandemi Covid-19 ini.Untuk itu perlu perhatiannya kondisi fisik maupun psikis anak untuk tetap diperhatikan dalam pertumbuhan dan perkembangannya (Cahyati & Kusumah, 2020; Nahdi et al., 2021). Peran orang tua menjadi sangat penting untuk mendampingi pertumbuhan dan perkembangan anak untuk “dirumah saja”. Guna menjaga kondisi psikis anak dalam mentalnya untuk belajar di rumah dengan menyenangkan dan tidak ada hambatan apapun (Kurniati et al., 2020).
Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered) atau juga berpusat pada peserta didik (student center), melainkan berpusat pada anak (child centered). Mengapa begitu?, karena gurunya adalah orang tuanya dirumah secara penuh untuk memfasilitasi anaknya untuk bermain sambil belajar. Tidak lagi guru kelas yang memberikan kendali proses belajarnya disekolah. Guru kelas hanya bisa menyatukan perkembangan, memfasilitasi proyek belajar, mereview dan proses pembangunan anak selama “dirumah saja” (Syah, 2020; Wardani & Ayriza, 2020).
- Wabah pandemi ini memiliki dampak negatif pada kesehatan fisik dan psikologis individu dan masyarakat (Banerjee, 2020; Brooke dkk., 2020; Zhang dkk., 2020). Menurut Brooks dkk. (2020), dampak psikologis selama pandemi diantaranya gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder), kebingungan, kegelisahan, frustrasi, ketakutan akan infeksi, insomnia dan merasa tidak berdaya. Bahkan beberapa psikiatris dan psikolog mencatat hampir semua jenis gangguan mental ringan hingga berat dapat terjadi dalam kondisi pandemik ini.
- Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Namun di sebagian besar negara berkembang, masalah kesehatan mental belum diprioritaskan apabila dibandingkan dengan penyakit menular. Regulasi, kebijakan kesehatan mental dan implementasinya di Indonesia masih diikuti oleh cakupan yang luas terkait dengan masalah cakupan dan akses pada pelayanannya (Ayuningtyas, dkk., 2018; Ridlo & Zein, 2015). Pada tahun 2020, Hari Kesehatan Mental Sedunia, yang diperingati pada 10 Oktober 2020, mengambil tema “kesempatan untuk memulai peningkatan besar-besaran dalam investasi kesehatan mental.” Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada konsekuensi yang ditimbulkan saat kehidupan kita yang telah banyak berubah akibat pandemi COVID19.
Penekanan lain adalah yang mendorong negara-negara di dunia untuk memberikan perhatian lebih pada kesehatan mental. Sebagai salah satu sektor yang paling efektif akibat pandemi, kesehatan mental merupakan salah satu bidang kesehatan masyarakat yang paling terabaikan. Padahal, hampir 1 miliar orang hidup dengan gangguan mental, 3 juta orang meninggal setiap tahun akibat penggunaan alkohol yang berbahaya, dan 1 orang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri. Saat ini, miliaran orang di seluruh dunia telah terpengaruh oleh pandemi COVID-19, yang berdampak pada buruknya kondisi kesehatan mental masyarakat (Saxena, 2016; World Health Organization, 2020a).
Situasi pandemi COVID-19 mendorong pembahasan yang lebih serius mengenai masifikasi pelayanan kesehatan mental, sebagai salah satu isu penting di dunia. Gangguan kesehatan mental yang tersembunyi dari pandangan sebenarnya memiliki spektrum yang luas (Mawarpury, dkk., 2018). WHO telah mengidentifikasi kesehatan mental sebagai komponen integral dari penanggulangan COVID19 (World Health Organization, 2020b). Melihat permasalahan kesehatan mental dalam konteks situasi pandemi COVID-19, maka artikel ini berupaya untuk membahas bagaimana kebijakan kesehatan mental global, serta bagaimana kebijakan dan upaya pemerintah Indonesia menanggapi beberapa permasalahan yang sedang dan akan terjadi sebagai akibat dari pandemi COVID-19.
Selain dari itu untuk membangun kesehatan mental anak dimasa pandemi, peran keluarga dangat penting untuk memberikan dukungan semangat atau motivasi dengan saling menguatkan dalam menghadapi pandemi COVID-19 yang tidak bisa diprediksi entah sampai kapan berakhirnya. Dukungan keluarga merupakan sikap, tindakan, dan penerimaan keluarga. Dukungan bisa berasal dari orang lain (orang tua, anak, suami, istri atau saudara) yang dekat.dimana bentuk dukungan dapat berupa informasi, tingkah laku tertentu atau materi yang dapat menjadikan individu merasa disayangi, diperhatikan dan dicintai. Misalnya ketika ada salah anggota keluarga yang terkena PHK akibat pandemi COVID-19, peran keluarga adalah membangkitkan motivasinya sehingga tidak larut dalam kesedihan. Bila perlu, penguatan anggota keluarga lainnya dapat dilakukan dengan membantunya mencari dan menemukan imformasi yang relevan sesuai kebutuhannya.
Daftar referensi:
Ferial Linardita, Membangun Kesehatan Mental Selama Pandemi Covid-19 Dengan Kreativitas Siswa.
Pondok Pesantren Tahfidz Quran Massarotul, Kota Serang. Vol,3 No. 1, 2021 (Jurnal ABDIKARYA).
Hambali, Psikologi Kepribadian, (Bandung: Pustaka Setia),2013
Heni Nur, Perspektif Kesehatan Mental Zakiah Daradjat, (IAIN Salatiga),2017
Kurniati, E, Nur Alfaeni, DK, & Andriani, F. (2020). Analisa Peran Orang Tua Dalam Mendampingi Anak Di Masa Pandemi Covid-19, (Jurnal Obesesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 241,
https://doi.org/10.31004/obsesi.v5il.541
Nahdi, K, Ramdhani, S., Yuliatin, RR,& Hadi ,YA (2021), jurnal obsesi: jurnal pendidikan anak usia dini implementasi pembelajaran pada masa lockdown bagi lembagaP PAUDdi kabupaten lombo timur abstrak. 5(1), 177-186,
https://doi.org/10.31004/obsesi,v5il.529
Ridhlo Akhsanu Ilmah, Pandemi COVID-19 dan Tantangan Kebijakan Kesehatan Mental di Indonesia. Jil. 5 No.2. 2020: Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental
Sejati Griya Yasa, dkk. Menjaga Stabilitas Mental Anak di Masa Pandemi Covid-19 melalui Aktivitas Bincang Asyik, Vol. 4 No 2, 2020( Jurnal Golden Age 4:2).
Suntanto Devina Stephanie, Perancangan Buku Cerita Tentang Pengelolaan Kesehatan Mental Bagi Remaja, Surabaya.
Vibriyanti Deshinta. Kesehatan Mental Masyarakat : Mengelola Kecemasan Ditengah Pandemi Covid-19, (Jurnal kependudukan indonesia: edisi khusus demografi dan covid-19, juli 2020).
Santika Ngurah Gusti I , Optimalisasi Peran Keluarga Dalam Menghadapi Persoalan Covid-19:Sebuah Kajian Sastra, Vol, 6 No. 2 , 2020 (Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial).