Identifikasi ADHD
ADHD atau lebih dikenal dengan attention deficit hyperactivity disorder adalah gangguan yang ditandai oleh rentang perhatian yang buruk yang tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperaktivitas atau impulsivitasnya atau keduanya tidak sesuai dengan usia. (Ervina, 2015). Dikutip melalui halopsikolog. com, ADHD adalah gangguan psikologis yang mempengaruhi 10 persen dari usia anak sekolah. Sehingga, seorang anak yang mengidap penyakit tersebut sering bertindak tanpa berpikir, berperilaku hiperaktif, dan sulitnya fokus perhatian. Pada hakikatnya, seorang anak tersebut menyadari suatu hal yang dilakukannya namun, ia sulit untuk mengendalikan dirinya. Akibatnya, terjadilah tindakan-tindakan diluar batas wajar.
Dilansir melalui alodokter. com, ADHD belum diketahui penyebabnya secara pasti, namun beberapa penelitian menyatakan bahwa sejumlah faktor berpotensi mempengaruhi tingkat risiko seorang anak terkena ADHD, yakni faktor genetik atau keturunan, kelainan pada sistem saraf pusat, dan pengaruh kelahiran prematur. Dilansir melalui halodoc. com, penyakit ADHD diduga berkaitan dengan ketidakseimbangan senyawa kimia (neurotransmitter) di dalam otak. Dikutip melalui hellosehat. com menurut Adam Leventhel, Ph. D., selaku dosen psikologi di University of Southern California, anak-anak penggemar berat gadget apapun punya risiko dua kali lebih besar mengalami ADHD dikemudian hari. Para ahli menyimpulkan bahwa attention deficit hyperactivity disorder disebabkan masalah genetikal, bahan-bahan kimia, virus, problem kehamilan, dan persalinan serta kondisi yang dapat mengintervensi penyebab rusaknya jaringan otak manusia. (Evita, 2018)
Sebelum dinyatakan sebagai pengidap, seorang dokter akan melalukan diagnosa terhadap pasien yang mengalami gejala-gejala ADHD yaitu: pertama, menggali riwayat penyakit perjalanan pasien. Kedua, melakukan pemeriksaan fisik dan psikologis. Ketiga, melakukan interview dan quosioner terhadap anggota keluarga, guru, pengasuh, atau orang yang mengenal baik pasien. Keempat, melakukan beberapa tes gambar dan tes laboratorium untuk mencari penyebab lain.
Hubungan ADHD dengan Kualitas Belajar Seorang Anak
Seorang anak dinyatakan sebagai pengidap ADHD, jika telah melalui serangkaian pemeriksaan oleh dokter ahli berdasarkan gejala-gejala yang dialami. Dilansir melalui alodokter. com, ADHD sering ditemui pada anak laki-laki usia 6-12 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan anak perempuan juga bisa terjangkit begitu pula anak usia remaja dan dewasa.
Usia 6-12 tahun merupakan usia produktif seorang anak dalam mengenyam bangku pendidikan tingkat dasar. Seorang anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan diri secara fisik dan psikologis. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Orang tua memiliki tanggung jawab lebih awal untuk membentuk pola hidup yang terstruktur bagi seorang anak. Orang tua pula yang mengenalkan hal-hal yang positif dan negatif di lingkungan sekitar. Orang tua yang menjadi bangku fundamental dalam pendidikan sebelum seorang anak masuk pada jenjang pra sekolah.
Pada usia 6-12 tahun, anak mulai mengalami perkembangan karakter. Seorang anak akan sangat rentan dengan hal-hal di sekitarnya. Peran berbagai pihak baik orang tua, keluarga, pengasuh, dan guru sangat dibutuhkan untuk menuntunnya menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Sehingga, proses pertumbungan dan perkembangan seorang anak bisa terwujud dengan baik sebagaimana mestinya.
Seorang anak pengidap penyakit ADHD akan mengalami penurunan dalam prestasi belajar. Salah satu faktor pemicunya adalah terjadinya kegagalan dalam kegiatan belajar di Sekolah. Kegiatan belajar yang terdiri dari tiga unsur yaitu guru, siswa dan sarana prasarana (media). Dalam prosesnya, seorang anak enjoy mengikuti kegiatan belajar. Mulai dari mendengarkan materi yang disampaikan, bertanya, memberikan sanggahan atau opini, dan berdiskusi. Proses ini hanya akan dialami oleh seorang anak yang success dalam kegiatan belajarnya. Namun berbeda dengan seorang anak pengidap ADHD, ia tidak bisa mengikuti kegiatan belajar dengan baik karena sulitnya dalam memusatkan perhatian pada materi-materi yang disampaikan oleh seorang guru. Tidak hanya itu, tindakan-tindakan yang tidak sewajarnya juga dilakukannya. Misalkan, membuat kegaduhan di dalam kelas ketika proses kegiatan belajar sedang berlangsung, banyak berbicara di luar tema materi pembelajaran, serta melakukan tindakan berlebihan dengan teman kelas.
Kegagalan dalam kegiatan belajar akan melemahkan motivasi belajar seorang anak. Sehingga, ia akan kehilangan semangat dalam menjalani tahapan bagi seorang pembelajar yaitu membaca, menulis, dan mengarang. Hal ini dipengaruhi karena sulitnya berkonsentrasi. Seorang anak yang sulit berkonsentrasi kemudian membawanya melakukan tindakan-tindakan yang hiperaktif dan perilaku impulsif pada hal-hal disekitarnya.
Daftar Pustaka
Yuliatul Wahidah, Evita. “Identifikasi dan Psikoterapi Terhadap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Perspektif Pendidikan Islam Kontemporer“. Millah: Jurnal Studi Agama Vol. 17 No. 2. 2018. h. 300
Marimbun Rosmaida Siahaan, Ervina. “Mengenali ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan Penanganannya Pada Anak Sejak Dini“. Jurnal Psikologi Universitas HKBP Nommensen Vol. 1 No. 1. 2015. h. 25
https://www.alodokter.com/adhd
https://www.halodoc.com/kesehatan/adhd
https://www.google.com/amp/s/hellosehat.com/mental/mental-lainnya/adhd/%3famp=1
https://www.halopsikolog.com/adhd-adalah-gangguan-psikologis/