Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

BANDWAGON EFFECT: “MEMANG HARUS YA, SEMUA SERBA VIRAL?”

Jalan-jalan berkeliling negeri Belanda, hai hai hai Sobat Psike di mana pun anda berada! Minggu lalu, tepatnya tanggal 10 Oktober 2021, merupakan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia. Dalam situs resminya, pada tahun ini, World Health Organization (WHO) mengusung tema ‘Mental health care for all: let’s make it a reality’ (Perawatan kesehatan mental untuk semua: mari kita wujudkan).

 


sumber: https://www.who.int/campaigns/world-mental-health-day/2021

Slogan sederhana namun serat makna tersebut ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali. Pandemi COVID-19 yang singgah di bumi selama lebih dari 18 bulan ini telah membawa dampak yang begitu besar dalam segala aspek kehidupan, termasuk di bidang kesehatan mental. Keadaan saat ini tidak hanya menuntut semua orang untuk menjaga kesehatan fisik, akan tetapi juga kesehatan mental. Nah, sehubungan dengan hal itu, apakah sejauh ini kondisi mental anda sudah benar-benar dalam keadaan baik-baik saja? Atau bahkan mungkin sebaliknya? Tahukah anda, bahwa terdapat salah satu fenomena psikologi yang tentunya berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, yang sering dialami oleh hampir semua orang, terlebih selama masa Pandemi ini berlangsung? Untuk mengetahuinya, mari simak pembahasan berikut ini dengan saksama!

 

sumber: https://majalahsunday.com/kenali-emosi-diri-dan-hindari-toxic-positivity/
sumber: https://majalahsunday.com/kenali-emosi-diri-dan-hindari-toxic-positivity/

Dewasa ini, sebagian besar penduduk bumi seolah berkumpul, berada dalam suatu arena perlombaan tak kasat mata. Mengapa demikian? Terkadang, manusia-baik disadari maupun tidak-melakukan segala cara agar dapat tampil di permukaan sebagai yang terbaik, paling unggul, dan tak terkalahkan dalam berbagai hal. Sebut saja bahwa media sosial, merupakan salah satu ‘Arena empuk’ bagi mereka untuk berlomba-lomba menunjukkan versi terbaik dirinya. Mulai dari gaya hidup, gaya berbusana, cara berprilaku, dan hal lainnya, hampir semuanya terpengaruh hanya oleh sebuah kata, yakni ‘Viral’. Iya, viral. Pokoknya apapun yang dikenakan, dilakukan, harus sesuai dengan tren yang berlaku saat ini. Hal itu menunjukkan bahwa secara tak langsung, terdapat suatu standar hidup, yang kemudian menjadi sebuah acuan atau tekanan bagi sebagian orang di dalam menjalani hidupnya. Tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan salah satu dampak dari perkembangan di era modern yang kian pesat. Dampak yang dimaksud tak selalu mengarah kepada hal-hal negatif, melainkan juga dapat mengarah kepada hal-hal positif. Jika demikian, apa penyebab hal itu dapat terjadi?

 

sumber: https://squline.com/wp-content/uploads/2015/06/social-media1.jpg
sumber: https://squline.com/wp-content/uploads/2015/06/social-media1.jpg

Dalam dunia psikologi, Ranggabumi Nuswantoro mengatakan bahwa kecenderungan seseorang untuk selalu melakukan atau mempercayai sesuatu karena mayoritas orang melakukan atau mempercayai hal itu disebut dengan Bandwagon effect. Keyakinan umum tersebut, walaupun belum tentu benar, menurut Roger Fisk adalah sebuah strategi jitu dalam meyakinkan masyarakat. Fenomena psikologi yang satu ini dapat mendatangkan dampak positif bagi banyak orang, apabila pintar dalam mengambil langkah. Contohnya, dalam bidang ekonomi, bagi para pengusaha, efek bandwagon ini tentu membuat mereka dapat menuai hasil lebih, ketika barang yang mereka jual menjadi suatu tren atau viral dalam masyarakat, tentu masyarakat akan berburu barang viral tersebut, dan penjual tidak perlu mengeluarkan tenaga tambahan untuk mempromosikannya. Contoh lainnya yang masih sama dalam bidang sebelumnya, yakni investasi emas, yang merupakan salah satu tren yang kini sangat marak digandrungi oleh banyak orang, yang ingin menjaga dan mengembangkan kekayaan dengan pasti, tanpa harus takut terkena inflasi. Contoh lain dalam bidang media sosial, seolah tak kenal usia, para penggiat media sosial mulai dari anak kecil hingga lansia, gemar berjoget atau menyanyikan lagu-lagu yang sedang viral. Lalu, apa hubungannya fenomena psikologi tersebut dengan kesehatan mental?

 


sumber:  https://abisgajian.id/article/begini-cara-investasi-emas-di-era-kekinian-

https://www.123berita.com/lagu-meme-tiktok-tahun-2021/

Perilaku ‘ikut-ikutan’ ini boleh saja dilakukan, selama sang pelaku tidak murni melakukannya berdasarkan rasa terpaksa dan gengsi semata. Bila terus memaksakan diri untuk melakukan tren yang ada, sedangkan pada kenyataannya tak menyanggupinya (tidak memiliki fasilitas materi mau pun immateri yang memadai), tentu hal itu akan sangat berpengaruh buruk terhadap kondisi kesehatan mental. Seolah tak memiliki rasa cukup akan segala sesuatu yang dimiliki, seseorang yang mengidap dampak negatif dari efek bandwagon ini akan selalu merasa cemas, gelisah, merasa tertinggal, jadul atau kuno, bila rasa gengsinya tak dituruti. Padahal, matahari tetap akan berputar pada porosnya, dan semesta pun akan tetap menjalankan tugas sebagaimana biasanya, walaupun tuntutan dari rasa gengsi itu tidak terpenuhi. Ingat sobat! Kemewahan yang tampak di luar tidak akan berarti apa-apa, tanpa diiringi hati yang berisi kebajikan sejati. Janganlah bersusah payah untuk berlomba-lomba dengan orang lain, agar menjadi yang terbaik. Cukuplah dirimu kini dan nanti, yang berlomba-lomba dengan dirimu versi lalu, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 😊

 

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *