Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

5 Bahasa Cinta (Love Language) : Bagaimana Mengungkapkan Rasa Cinta Ke Pasangan

Cinta merupakan salah satu topik yang populer dan sering diangkat dalam lagu, film, dan novel. Banyak orang akan menyetujui bahwa cinta memainkan peran yang krusial dalam kehidupan. Sebenarnya apa sih cinta itu? Hasil penelitian yang dilakukan oleh psikolog sosial menunjukkan bahwa jatuh cinta dapat mengarah pada peningkatan efikasi diri dan harga diri seseorang. Cinta pada dasarnya merupakan suatu reaksi emosional yang sama seperti perasaan bahagia, sedih, dan takut. Salah satu pakar menyebutkan bahwa cinta itu seperti lift, individu dapat memilih ingin menaikinya untuk ke atas atau turun ke basement, tetapi pada akhirnya individu memiliki pilihan untuk memilih lantai mana yang akan dituruni. Ada juga yang menyebutkan cinta adalah menawarkan pasangan potongan atau suapan terakhir dari makanan yang disukai (Baron & Branscombe, 2012).

Tentunya masing-masing individu mungkin memiliki definisi cinta yang berbeda dari yang disebutkan diatas. Dalam topik cinta, antara individu dengan pasangannya mungkin memiliki love language yang berbeda. Perbedaan penggunaan love language dapat mengakibatkan kesalahpahaman diantara pasangan terjadi. Seperti misalnya, seorang wanita yang menggunakan baju baru bertanya kepada pasangannya tentang bagaimana penampilannya. Namun, pasangannya menjawab bahwa penampilannya terlihat sama seperti biasanya. Di sisi lain, wanita tersebut tidak menjelaskan secara gamblang bahwa ia ingin dipuji. Perbedaan seperti ini tentunya dapat memicu kesalahpahaman. Tindakan yang tulus saja tidak cukup untuk mengekspresikan cinta yang dirasakan. Sehingga perlu untuk saling mengetahui love language satu sama lain agar hubungan dapat berjalan langgeng.

Dalam bukunya yang berjudul “The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate“, Dr. Chapman menjelaskan tentang lima love language yang digunakan untuk memahami love language yang dimiliki individu dan pasangannya. Lima love language ini terdiri dari (Chapman, 2010):

1. Words of affirmation.

Jenis love language ini adalah dengan menggunakan kata-kata yang membangun atau pujian verbal. Tipe ini fokus pada apa yang individu katakan. Dengan menerima kata-kata yang membangun, pasangan akan lebih mungkin termotivasi untuk membalas. Selain itu, ketika individu menerima pujian verbal, individu mungkin akan termotivasi untuk membalas dan melakukan sesuatu yang diinginkan pasangan. Namun, pujian verbal sebaiknya tidak digunakan untuk membuat pasangan melakukan sesuatu yang individu inginkan. Objek cinta bukanlah mendapatkan sesuatu yang individu inginkan tetapi melakukan sesuatu untuk kesejahteraan orang yang dicintai.

2. Quality time.

Jenis love language selanjutnya adalah dengan menghabiskan waktu bersama dengan sepenuh hati untuk melakukan kegiatan yang disukai. Aspek utama dari Quality time adalah kebersamaan. Meskipun dua orang sedang duduk di ruangan yang sama dalam jarak yang dekat, tetapi mereka belum tentu bersama. Kebersamaan berkaitan dengan perhatian yang terfokus. Quality time bukan berarti individu harus menghabiskan waktu bersama sambil menatap mata satu sama lain. Ini berarti bahwa individu melakukan sesuatu bersama-sama dan memberikan perhatian penuh kepada pasangan atau orang lain.

Yang penting secara emosional dari love language ini adalah bahwa pasangan menghabiskan waktu untuk fokus satu sama lain. Selain itu, quality time juga dapat dilakukan melalui perbincangan yang berkualitas. Perbincangan yang berkualitas ini dapat dianggap sebagai sebuah percakapan dimana antar individu berbagi pengalaman, pikiran, perasaan, dan keinginan mereka dalam konteks yang bersahabat dan tidak terputus. Perbincangan yang berkualitas berbeda dengan jenis love language yang pertama (Words of affirmation) karena perbincangan ini fokus pada apa yang individu dengar.

3. Receiving Gifts.

Jenis love language ini adalah dengan memberikan hadiah kepada pasangannya. Memberikan hadiah dapat dimaknai sebagai “Lihat, dia memikirkan saya,” atau, “Dia mengingat saya”. Ketika individu akan memberikan hadiah, individu pasti sedang memikirkan orang tersebut. Sehingga hadiah merupakan simbol dari pemikiran tersebut. Hadiah adalah simbol visual dari cinta. Oleh karena itu, bagi individu yang memiliki jenis love language ini cenderung tidak mempermasalahkan harga hadiah tersebut. Karena bagi mereka memberi hadiah merupakan bagian dari ungkapan cinta.

Jika pasangan pernah mengkritik hadiah individu di masa lalu dan hampir tidak ada hadiah yang individu berikan diterima, maka menerima hadiah hampir dapat dipastikan bukan love language

4. Acts of service.

Yang dimaksud dari jenis love language ini adalah individu melakukan hal-hal yang diinginkan pasangan. Individu berusaha untuk menyenangkannya dengan melayaninya, sehingga untuk mengungkapkan cinta individu kepadanya adalah dengan melakukan sesuatu untuknya. Tindakan yang dilakukan seperti mengantar dan menjemput saat kerja, membukakan pintu mobil, dan sebagainya. Namun yang perlu diperhatikan dari love language ini adalah agar sebaiknya tidak memperlakukan individu sebagai objek, karena dapat menghalangi kemungkinan cinta.

Melakukan manipulasi dengan rasa bersalah (“Jika kamu adalah pasangan yang baik, kamu akan melakukan ini untuk saya”) dan melakukan pemaksaan dengan menakuti (“kamu harus melakukan ini atau kamu akan menyesal”) bukanlah bahasa cinta. Tidak ada orang yang mau diperlakukan seperti itu. Individu mungkin membiarkan dirinya dimanfaatkan, tetapi sebenarnya mereka juga makhluk yang memiliki emosi, pikiran, dan keinginan. Membiarkan diri digunakan atau dimanipulasi oleh orang lain bukanlah tindakan cinta.

5. Physical touch.

Seperti yang telah diketahui bahwa sentuhan fisik merupakan cara untuk mengomunikasikan cinta. Berpegangan tangan, berciuman, berpelukan, dan berhubungan seksual adalah cara-cara mengomunikasikan cinta kepada pasangan. Bagi beberapa individu, sentuhan fisik adalah love language utama mereka. Tanpa itu, mereka merasa tidak dicintai. Dengan sentuhan fisik, mereka akan merasa aman dan dicintai.

Di sisi lain, sentuhan fisik juga dapat berpotensi melanggengkan atau menghancurkan suatu hubungan. Pasangan mungkin merasa beberapa sentuhan tidak nyaman atau menjengkelkan. Bersikeras untuk tetap melakukan sentuhan fisik itu berarti menandakan kebalikan dari cinta. Pasangan mungkin akan mengatakan bahwa individu tidak peka terhadap kebutuhannya dan tidak begitu peduli dengan persepsinya tentang apa yang menyenangkan. Oleh karena itu, jangan membuat kesalahan dengan percaya bahwa sentuhan yang membawa kesenangan bagi individu juga akan membawa kesenangan baginya.

  Jadi, apa jenis love language mu? Semoga bermanfaat!!  

Sumber Gambar: 

Referensi: Baron, R. A., & Branscombe, N. R. (2012). Social Psychology (Thirteen e). Pearson Education. Chapman, G. D. (2010). The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate. Northfield Publishing.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *