Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kohabitasi (Hidup Bersama Tanpa Menikah): Positif atau Negatif?

Dalam hidup, sebagian besar manusia akan menemukan seseorang yang nantinya akan menjadi pasangan hidupnya untuk melanjutkan keturunan. Di Indonesia sendiri, sebelum memutuskan untuk hidup bersama pasangan, kita harus melewati serangakaian pernikahan, salah satu hal yang banyak diimpikan oleh individu. Namun, di negara lain, terutama di negara Barat, banyak pasangan yang memutuskan untuk hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Apa yang memnyebabkan hal tersebut menjadi lumrah? Apakah hal tersebut merupakan hal yang positif atau negatif?

Definisi Kohabitasi

Dalam psikologi, istilah ini disebut dengan kohabitasi, atau pasangan yang memutuskan untuk hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Di Amerika sendiri, jumlah pasangan yang memutuskan untuk kohabitasi semakin meningkat. Pasangan yang memutuskan untuk melakukan kohabitasi biasanya dimulai dari umur 18 tahun hingga 44 tahun.

Grafik Pasangan Kohabitasi di Amerika Serikat

Amid changes in marriage and cohabitation, wide acceptance of cohabitation, even as many Americans see societal benefits in marriage

Dalam grafik di atas, dari tahun ke tahun, lebih banyak pasangan yang kohabitasi dibandingkan pasangan yang menikah di Amerika Serikat. Sehingga, hal ini menjadi hal yang lumrah dan dapat di terima oleh masyarakat disana.

Alasan Orang Memilih Kohabitasi daripada Menikah

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rhoades, Stanley, dan Markman pada tahun 2009, terdapat tiga alasan utama yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk kohabitasi dengan pasangannya, yaitu:

  1. Keinginan untuk lebih banyak waktu bersama dan keintiman yang lebih besar (misalnya: “Saya memutuskan untuk tinggal serumah dengan pasangan saya karena saya suka menghabiskan waktu dengan dia.”)
  2. Kenyamanan (misalnya: “Saya pindah dengan pasangan saya karena tidak nyaman untuk memiliki beberapa barang saya di tempat saya dan beberapa di pasangan saya sehingga kami memutuskan untuk tinggal bersama”.)
  3. Keinginan untuk menguji hubungan seseorang (misalnya: “Saya pindah dengan pasangan saya karena saya ingin uji coba untuk menikah, apakah dia akan cocok dengan saya jika kami menikah.”)

Apakah Kohabitasi Merupakan Tindakan yang Baik atau Buruk?

Mayoritas studi menemukan bahwa kepuasan pernikahan yang dialami oleh pasangan yang sebelumnya melakukan kohabitasi cenderung lebih rendah dan tingkat perceraiannya lebih tinggi. Banyak yang mengungkapkan bahwa pasangan kohabitasi mengalami tingkat kepuasan, dedikasi, dan keyakinan yang lebih rendah serta meningkatnya kemungkinan perceraian. Namun, hasil penelitian ini kebanyakan dialami oleh pasangan kohabitasi yang akhirnya memutuskan untuk menikah.

Di Indonesia sendiri, kohabitasi merupakan hal yang ilegal untuk dilakukan. Jika kamu sudah siap untuk hidup bersama pasanganmu secara fisik, mental, dan finansial, lebih baik kamu memikirkan untuk menikah daripada melakukan kohabitasi.

Referensi:

Horowitz, J. M., Graf, N., & Livingston, G. (2019). Marriage and cohabitation in the us. Retrieved from https://www.pewresearch.org/social-trends/2019/11/06/marriage-and-cohabitation-in-the-u-s/.

Huang, P. M., Smock, P. J., Manning, W. D., & Bergstrom-Lynch, C. A. (2011). He Says, She Says: Gender and Cohabitation. Journal of family issues, 32(7), 876–905. https://doi.org/10.1177/0192513X10397601

Rhoades, G. K., Stanley, S. M., & Markman, H. J. (2009). Couples’ Reasons for Cohabitation: Associations with Individual Well-Being and Relationship Quality. Journal of family issues, 30(2), 233–258. https://doi.org/10.1177/0192513X08324388

Santrock, J. W. (2012). Perkembangan masa hidup edisi ketigabelas, jilid II. Widyasinta, B. (Penerjemah). Jakarta: Erlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *