Self Refferent Effect adalah kondisi dimana seseorang akan lebih mudah mengingat informasi-informasi yang berhubungan dengan dirinya sendiri, dari pada informasi yang dimiliki oleh orang lain. Teori ini mungkin yang menyebabkan kebanyakan orang berfikir bahwa akan lebih mudah untuk memahami diri sendiri dibanding jika memahami orang lain. Dengan alasan bahwa mereka sadar atas apa yang kita kerjakan dan apa yang terjadi dengan dirinya sendiri, hal ini yang membuat mereka merasa akan lebih mudah memahaminya.
Namun, manusia bukanlah sebuah buku yang mudah dibaca dan dianalisis. Apa yang dilakukan oleh manusia itu bukanlah sesuatu yang konsisten dan mudah disimpulkan. Menurut Eric Fromm (Dalam Rahman, 2018), manusia juga mengandung paradoks, Ia tidak hanya memiliki potensi untuk mencintai tapi juga memiliki potensi untuk menyakiti. Terdapat beberapa bias yang menyebabkan orang salah dalam mempersepsikan dirinya :
- Cognitive Conservatism, Kecenderungan untuk tidak mau mengubah pengetahuan dan keyakinan akan dirinya sendiri
- Barnum Effect, kecenderungan untuk mengklaim bahwa gambaran umum tentang karakterisitik kepribadian tertentu, sesuai dengan karakteristik kepribadiannya sendiri.
- Favorability Bias, Kecenderungan untuk menilai informasi positif tetang diri sendiri itu lebih tetap dibandingkan dengan informasi negatif.
- Self-Fulfilling Prophecy, Kecenderungan untuk berperilaku yang dapat meyakinkan harapan-harapan yang ia miliki.
- Efek Negatifitas, Kecenderungan untuk memberikan bobot yang lebih besar pada karakteristik negatif dibandingkan karakterisitik positif.
Nah, Jadi siapa disini yang masih sering melakukan kesalahan-kesalahan diatas? Jadi dapat kita simpukan bahwa memahami diri sendiri dengan benar tidak semudah yang kita bayangkan, akan banyak muncul bias bias baik dari subjek, objek bahkan interaksi keduanya.
Sumber Gambar :
googleimage.com
Referensi :
Rahman, A. A. (2018). PSIKOLOGI SOSIAL: Integrasi Pengetahuan Wahyu dan Pengetahuan Empirik. Rajawali Pers