“Ibu udah pulang, rasanya aku ingin tidur saja. Ibu dan bapak bekerja di kantor setiap hari. Sedangkan aku, di rumah setiap hari untuk kuliah daring, ujian daring, hubungan daring, dan semua garing. Aku merasa orang lain tidak mengerti aku dan semua keadaanku. Belakangan ini aku sangat sensitif tanpa alasan. Perasaan menyalahkan diri sendiri tidak jarang aku dapatkan dan itu memperburuk suasana. Aku berusaha menghibur diriku dengan berbagai macam cara, menonton film, baca buku, menulis, dan bersosial media. Aku merasa keadaan fisik dan psikisku makin hari makin memburuk. Seringkali aku menabrak gagang pintu sampai tanganku terluka, menabrak meja lipat sampai kulitku terkelupas sedikit, menabrak kotak peralatan tukang. Koordinasi fisikku sudah tidak stabil seperti dahulu. Mungkin apa yang aku lakukan tidak begitu teratur seperti orang lain, aku melakukan semuanya atas dasar emosional. Namun, dengan semua daring yang garing ini, rasanya aku ingin pergi saja ke tempat yang jauh-sangat jauh-indah-hijau-bebas. Sekali lagi aku kembali sadar, semua itu ilusi semata, tidak ada yang bisa membuatku ‘bebas’ selain semua pikiranku ini. Lantas, aku kenapa? Siapa yang mau membantuku dengan semua ini? Apakah semua orang merasakan yang sama? Semua orang rasanya memiliki kesibukan sendiri, dirinya sendiri, aku tidak dipedulikan, aku ditinggal.”
Sepenggal pengalaman yang dirasakan oleh salah satu mahasiswa daring di Indonesia. Apakah teman-teman juga merasakan hal yang sama? Kejenuhan yang sama dan frustasi dengan keseharian yang sama? Semua merasakan yang sama denga porsi yang berbeda tentunya. Dengan adanya pandemik, semua segi kehidupan berubah secara drastis. Sekolah diliburkan serentak tanpa persiapan untuk membimbing anak di rumah. Pekerjaan dibawa ke rumah sebagai perlindungan terhadap pegawai dari Corona Virus. Rasanya rumah seperti tempat sampah ya? Mengumpulkan semua kegiatan di satu tempat yang sama, menyimpan kejenuhan pekerjaan, bosannya pelajaran, tidak paham atas materi yang disampaikan guru. Semua permasalahan ini membuat kita ingin berteriak, “Kapan ini akan selesai?!”
Iya, semua orang merasakan yang sama. Semua orang beradaptasi dengan waktunya masing-masing. Kita tidak bisa menghentikan ini sendirian, harus bersama-sama. Memakai masker, menjaga jarak, dan protokol kesehatan lainnya harus dapat diterapkan sebaik mungkin. Semua frustasi ini berakar dari masalah yang sama. Terlalu lama berdiam diri, terkungkung di satu tempat yang sama, beraktivitas di tempat yang sama, tidak ada suasana baru, tidak ada pemandangan baru. Penjara. Melihat tembok setiap hari, pintu yang sama, kamar yang sama. Bosan. Berawal dari satu kata yang sangat biasa kita dengar belakangan ini. Bosan-Gabut. Saya dan teman-teman tentu saja memiliki kepribadian yang berbeda. Mungkin ada teman-teman yang merasa nyaman di rumah karena dengan sendiri rasanya energi yang diterima lebih besar. Namun, ada juga teman-teman yang lain merasa keluar rumah, berinteraksi secara langsung dengan orang lain membuat dirinya merasa nyaman dan lebih berenergi. Contohnya adalah mahasiswa tadi, ia merasa terkurung di rumah, sepertinya ia butuh bertemu dengan orang lain.
Bersosialisasi dengan teman adalah sebuah kebutuhan, manusia adalah makhluk sosial. Bersosial media membuat kita seperti dapat bertemu dengan orang lain, kita dapat mengetahui kegiatan apa saja yang sedang teman-teman kita lakukan dari story atau feed atau cuitan. Beberapa kali melihat kita merasa terhubung dengan mereka, semakin lama kita merasa, “Kok dia enak banget ya hidupnya? Bisa pergi ke sana, pergi ke sini? Bisa dapet itu-dapet ini? Kenapa aku gak bisa ya?” Semakin dibuka semakin merasa diri sendiri lebih buruk dari orang lain, merasa harus mendapatkan apa yang orang lain dapatkan. Keras terhadap diri sendiri. Tidak menemukan jalan. Frustasi sendiri.
Media sosial ternyata bukan tempat yang sangat tepat untuk bisa bersosialiasi dengan orang lain. Bukannya memenuhi kebutuhan, tetapi memberikan pengaruh negatif untuk diri sendiri. Mari kita tutup kembali sosial media sebagai jalan untuk menghilangkan kebosanan ini. Bagaimana jika kita coba melakukan sesuatu yang bermakna? Seperti memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Dilihat dari banyak teman-teman yang mem-posting kegiatan-kegiatan amal rutin di hari Jum’at atau hari-hari biasa, mereka juga membuka donasi bagi kita yang tidak bisa keluar rumah. Setelah kita memberikan sumbangan, mereka juga akan membagikan foto-foto kegiatan ketika memberikan sumbangan tersebut. Kemungkinan besar, perasaan kita terbawa dengan mereka membagikan bantuan itu. Tidak secara fisik, tapi secara pikiran kita meyakini itu.
Ketika suasana hati di rumah semakin memburuk, merasa tidak dihargai oleh orang lain. Coba komunikasikan. “Aku lelah sekali di rumah. Sekarang aku tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Bisakah aku mendapatkan diriku sendiri tanpa ada yang mengganggu? Atau bisakah aku pergi keluar bersama teman-teman? Semoga dengan seperti itu aku bisa merasa lebih baik.” Kehadiran teman sangat diperlukan dalam keadaan seperti ini, semoga teman-teman tidak menyangkal bantuan-bantuan kecil yang diberikan oleh teman ya! Bantuannya itu seperti ditanyakan kabar, diajak keluar, mengadakan meeting online. Akuilah kita semua membutuhkan itu, mungkin teman-teman adalah orang yang beruntukng karena memiliki teman seperti itu.
Untuk keadaan jangka panjang, kita kembalikan ke dalam diri kita sendiri. Sekarang tarik napas dulu, tahan, perlahan lepaskan. Sekarang lepaskan beberapa pikiran yang mengganggu belakangan ini. Katakan kepada diri sendiri, “Saya sedang di depan layar, membaca artikel ini, di ruangan…., dengan tembok yang berwarna…. Perasaan saya sekarang adalah….”
Menyadari keadaan di sekitar dan tidak terkungkung dengan pikiran sendiri sangatlah penting. Melihat barang-barang di sekitar dengan tatapan yang berbeda. Melihat barang yang biasa menjadi lebih memorable. Memikirkan sesuatu yang ‘sekarang’ membuat pikiran lebih rileks. Anak zaman sekarang mengatakannya ‘mindfullnes.’ Berada di zaman sekarang secara fisik dan pikiran.
Setelah itu, ketika melihat sekitar dan dirasa sudah ‘sadar’ coba syukuri apa yang sudah terjadi. Kita masih bisa duduk di dalam rumah, di luar sana banyak sekali orang yang tidak memiliki rumah layak huni seperti ini. Kita memiliki tangan dan kaki yang lengkap dengan akal sehat. Mungkin di luar sana tidak. Mensyukuri, mengilhami apa yang sudah dimiliki juga dapat membantu kita menikmati hal-hal yang selama ini tidak sengaja terlewatkan oleh keseharian yang semakin hari kian padat.
Cara terakhir adalah tetapkan waktu beraktivitas dan istirahat. Ini-ni-ini ngomong doang enak, diterapkannya susah minta ampun. Jangan-jangan diambil pusing dengan menetapkan jam sekian saya mulai bekerja, jam sekian saya istirahat, saya harus bekerja sampai sekian, tidak boleh istirahat sebelum waktunya istirahat. Tidak. Jangan seperti itu. Tetapkan siang untuk aktivitas dan malam untuk istirahat, itu saja. Siang boleh istirahat di jam makan siang, dan ketika jam ‘pulang kantor’. Tubuh kita kehilangan keseimbangan karena jam sirkandiannya terganggu. Mari kita coba kembalikan semua itu. Bangun di jam seperti benar-benar akan berangkat. Tidur seperti besok akan berangkat segera. Makan di jam sebelum berangkat, makan siang, dan setelah ‘pulang’. Tidak perlu diubah dan merasa ‘masih ada waktu’, bentar lagi kok, iya bisa kok nanti ya. Semua pernyataan tersebut membuktikan diri kita mulai kehilangan komitmen dengan diri sendiri. Kita secara pribadi membutuhkan diri sendiri di dalam keadaan seperti ini. Semoga teman-teman merasa lebih baik dan merasa ‘ditemani’ oleh tulisan ini. Sekian.
Sumber: Webinar Mental Health dengan judul “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Meningkatkan Resliliensi Mahasiswa FEMA”