Indonesia sebagai negara berkembang tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Salah satu produk yang dihasilkan dari perkembangan teknologi adalah media sosial. Media sosial memungkinkan penggunanya untuk saling berkomunikasi dan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan serta belakangan ini juga digunakan sebagai media untuk berniaga. Perkembangan media sosial di Indonesia terbilang besar, sekitar 61,8% atau sebanyak 170 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial [1].
Selain manfaat yang diberikan oleh media sosial bagi masyarakat khususnya di Indonesia, ada juga dampak negatif yang ditimbulkan dari media sosial. Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan dari media sosial yaitu body image. Body image merupakan persepsi seseorang terhadap tubuhnya sendiri [2]. Body image yang kurang tepat adalah ketika tubuh atau fisik yang ideal adalah mereka yang memiliki tubuh langsing, kulit yang putih, atau memiliki rambut panjang dan tebal [3].
Survei mengatakan bahwa sebanyak 10,29% remaja mengalami permasalahan penerimaan diri yang kurang akibat body image yang negatif [4]. Mereka dengan negative body image memiliki perasaan minder terhadap dirinya sendiri. Mereka akan merasa bahwa diri mereka selalu memiliki kekurangan dan kesenjangan dengan orang lain sehingga menganggap diri mereka kurang ideal atau kurang layak [5]. Perasaan insecure akan menghantui mereka yang memiliki body image yang negatif.
Body image yang sifatnya positif yang harus kita bangun dalam diri kita. Kita harus menerima diri kita seutuhnya. Kita menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang “sempurna”. Kita tidak perlu mengikuti standar bahwa kulit harus putih kemudian kita suntik putih, tubuh harus langsing kemudian kita diet ekstrim, atau standar “beauty” lainnya. Kita tetap boleh meningkatkan kualitas diri kita, misal berolahraga karena kita ingin lebih sehat dan mengurangi risiko suatu penyakit. Jika kita memiliki healthy body image, mental dan emosi kita lebih bisa stabil. Kita akan merasa lebih percaya diri, memiliki harga diri, dan mawas diri. Dengan healthy body image atau citra tubuh yang positif kita dapat terhindar dari gangguan makan dan terhindar dari risiko depresi, kecemasan atau insecure [6].
Perlu kita ketahui bahwa semua orang adalah cantik dan ganteng. Semua orang pantas hidup dengan layak dan bahagia di lingkungan sosial ataupun digital. Kita adalah makhluk yang terbaik yang Tuhan ciptakan. Kita semua layak untuk mendapat perlakuan baik dan penghargaan dari orang lain.

References:
- Hootsuite., & WeAreSocial. (2021). Digital 2021: Indonesia. Diakses: https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia. Diakses pada 16 September 2021.
- Hogan, J., & Strasburger, V. (2009). Body image, eating disorders, and the media marjorie. Adolesc Med, 19, 521-546.
- Chairiah, P. (2012). Hubungan gambaran body image dan pola makan remaja putri di SMAN 38 Jakarta. Skripsi. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan UI. Diakses: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20312977-S43102- Hubungan%20antara.pdf.
- Dina. (2015). Hubungan antara penerimaan diri dan body image pada usia remaja. Jurnal Psikologi Binus. Diakses: http://psychology.binus.a c.id/2015/09/24/hubungan-antara-penerimaandiri-dan-body-imagepada-usia-remaja/.
- Destiara, F., Hariyanto, T., & Adi, R. C. (2017). Hubungan indeks massa tubuh (IMT) dengan body image remaja putri di asrama putri Sanggau Malang. Nursing News, 2(3). 21-33.
- FITDAY. The importance of maintaining a healthy body image. Diakses: https://www.fitday.com/fitness-articles/nutrition/for-women/the-importance-of-maintaining-a-healthy-body-image.html. Diakses pada 16 September 2021.