Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Inner Child : Diri Kita Sekarang Wujud Anak Kecil Kita

Inner Child adalah bagian dari dalam diri kita yang dihasilkan dari pengalaman masa kecil yang  berdampak  pada  kehidupan  kita  sekarang.  Menurut  John  Bradshaw  (1992),  inner  child terbentuk  dari  pengalaman  atau  kejadian  masa  lalu  yang  memiliki  kendala  dan  belum terselesaikan.  Semua manusia memiliki inner child, yakni bagian dari diri manusia di masa kecil yang akhirnya terbawa hingga dewasa. Carl Jung mengatakan bahwa “the inner child motif is a picture of certain forgotten things in our childhood” : motif inner child sendiri yakni menggambarkan hal-hal tertentu yang terlupakan di masa kecil seseorang. Inner Child merupakan suatu keadaan yang nyata. Tidak secara harfiah. Tidak juga secara fisik. Inner child merupakan realitas psikologis atau fenomenologis. Kita semua pernah menjadi anak-anak, dan masih memiliki anak yang tinggal di dalam diri kita. Tetapi kebanyakan orang dewasa tidak menyadari hal ini. Dan kurangnya kesadaran akan keterkaitan dengan anak batiniah kita ini justru merupakan sumber dari begitu banyak kesulitan perilaku, emosi, dan hubungan.

Stephen A. Diamond dalam tulisannya yang berjudul Essential Secrets of Psychotherapy: The Inner Child di Psychology Today mengatakan bahwa inner child adalah himpunan peristiwa baik maupun buruk yang dialami anak dan membentuk kepribadian mereka hingga dewasa. Peristiwa yang terjadi saat masa kanak-kanak akan tertanam di alam bawah sadar hingga dewasa, menjadi long term memory. Sehingga, inner child akan berpengaruh terhadap kepribadian serta cara seseorang bersikap dalam hidupnya. Inner  child  merupakan  bentuk  dari  ego  anak; bagaimana  anak  mendapatkan pengalaman-pengalaman di masa kecilnya. Pengalaman yang baik akan membawa dampak yang positif bagi kehidupan dewasanya dan bisa untuk menyeimbangkan, sebagai evaluasi diri, dan bagaimana memaknai sebuah hal; sedangkan pengalaman yang buruk akan memberikan luka pada batin anak tersebut. Tanpa disadari bahwa, inner child dapat menyerang dan timbul pada orang dewasa dalam bentuk perilaku atau keadaan emosi. Kemunculan tersebut biasanya tidak disadari. Di masa kecil, kita pernah mengalami masa-masa yang sulit sebagai anak dan sebagian banyak dari kita pernah mengalami trauma. Hal tersebut membuat anak kecil yang di dalam diri kita menjadi terluka dan menderita. Untuk menghindari rasa sakit dari luka tersebut, kita seringkali menghindar,  mengabaikan,  dan  menekannya.  Kita  menekannya  ke  alam  bawah  sadar,  atau mengabaikannya dengan harapan penderitaan tersebut akan hilang. Tetapi inner child yang terluka itu tidak akan hilang, selama ia belum disembuhkan. Inner child akan selalu ada di dalam diri kita, dan  mencoba  untuk  menarik  perhatian  kita  dengan  berkata  “Saya  disini.  Anda  tidak  dapat menghindari saya.”

Faktanya adalah bahwa sebagian besar yang disebut orang dewasa sama sekali tidak benar-benar dewasa. Kita semua bertambah tua. Tapi, secara psikologis, ini bukan masa dewasa. Kedewasaan sejati bergantung pada pengakuan, penerimaan, dan tanggung jawab untuk mencintai dan mengasuh inner childnya sendiri. Bagi kebanyakan orang dewasa, hal ini tidak pernah terjadi; sebaliknya, inner child malah ditolak, diabaikan, diremehkan, atau ditinggalkan. Kita diberitahu oleh masyarakat untuk “tumbuh”, mengesampingkan hal-hal kekanak-kanakan. Untuk menjadi dewasa, kita telah diajari bahwa inner child kita—mewakili anak kecil dalam kepolosan, kekaguman, kegembiraan, kepekaan, dan kesenangan— harus dibungkam atau bahkan dihilangkan. Inner Child terdiri dari potensi dan kualitas-kualitas positif, namun menyimpan juga rasa sakit, trauma, ketakutan, dan kemarahan masa kecil kita. “Orang dewasa” yakin bahwa mereka telah berhasil melampaui, membuang, dan meninggalkan inner child dan beban emosionalnya, namun sebenarnya hal ini merupakan kesalahan.

Cara Mengatasi Inner Child

Inner Child ingin mengakhiri penderitaannya. Tapi tidak dengan menghindari atau mengabaikan  inner  child. Karena dengan mengabaikan inner  child,  kita  justru  akan memperpanjangnya. Inner Child yang terluka adalah kenyataan, tetapi kita tidak bisa melihatnya. Ketidakmampuan untuk melihatnya adalah sejenis ketidakpedulian kita terhadap inner child. Inner child yang terluka parah benar-benar membutuhkan kita untuk kembali. Tapi sebaliknya, kita sering melakukan hal-hal yang membuat kita lebih menderita dan melukai inner child yang sudah terluka dalam diri kita.

Hasil pengalaman masa lalu yang membentuk inner child dapat terlihat dalam beragam sifat, inner child dapat bersifat baik dan buruk, apabila buruk seperti pemarah, penindas. Inner child dapat membawa masalah pada kestabilan emosional, tingkah laku, dan hubungan sosial seseorang dengan lingkungannya apabila tidak memahaminya.

Tetapi jika kita dapat mengenali inner child kita apa adanya, kita dapat mulai mengatasinya, dengan memilih untuk menjadi dewasa secara psikologis—bukan hanya kronologis. Bagaimana hal ini dapat dicapai? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk merangkul inner child, diantaranya:

  • Sadari akan keberadaan inner childnya. Tetap tidak sadar adalah apa yang memberdayakan anak batiniah yang terdisosiasi untuk memiliki kepribadian pada waktu-waktu tertentu, untuk mengalahkan kehendak orang dewasa.
  • Belajar untuk menganggap serius inner child kita, dan secara sadar berkomunikasi dengan anak itu di dalam diri: untuk mendengarkan bagaimana perasaannya dan apa yang dia butuhkan dari kita di sini dan sekarang. Kebutuhan dasar yang sering membuat frustrasi seperti cinta, penerimaan, perlindungan, pengasuhan, pengertian – tetap sama hari ini seperti ketika kita masih anak-anak. Sebagai orang dewasa, kita seringkali berusaha memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan kekanak-kanakan ini, namun pada kenyatannya gagal.
  • Trauma masa lalu, kesedihan, kekecewaan dan depresi tidak dapat diubah dan harus diterima. Kedewasaan yang sesungguhnya membutuhkan penerimaan masa lalu yang menyakitkan dan tanggung jawab utama untuk memenuhi kebutuhan inner child itu.
  • Memulai dan mempertahankan dialog yang berkelanjutan antara inner child dan diri dewasa, maka kita dapat memulihkan hubungan antara inner child dan dewasa yang matang. Dialog ini berupa memberikan disiplin, batasan, bersama dengan dukungan, pengasuhan, dan penerimaan untuk mencintai diri dan hidup. Hubungan baru yang saling menguntungkan, kooperatif, dapat diciptakan di mana kebutuhan yang kadang-kadang bertentangan dari diri orang dewasa dan inner child dapat dipuaskan secara kreatif.

 

 

Referensi :

Elia Firda Mufidah, & Ragil Saloka Wijaya Isya. (2020). INNER CHILD: DALAM PANDANGAN KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL. PD ABKIN JATIM Open Journal System, 1(2), 76-83. https://doi.org/10.1234/pdabkin.v1i2.87

Hamidah, Khosyi’atul (2021) Kesadaran inner child dalam komunikasi interpersonal di kalangan santri pondok pesantren Annasyiah Al-Jadidah. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Stephen A. Diamond Ph.D. (2008). Essential Secrets of Psychotherapy: The Inner Child. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/evil-deeds/200806/essential-secrets-psychotherapy-the-inner-child

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *