Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Gaji Psikis Seorang Influencer

Era Modern

Era Digital membuka ruang kesempatan yang begitu luas bagi para pencari pundi-pundi rupiah bagi banyak orang. Kita mengalami masa dimana transisi ke sebuah platform yang sebelumnya asing bagi khalayak. Sampai tidak terasa, masa tersebut sudah menjadi sesuatu kebiasaan rutin yang tumbuh menjadi kewajaran bagi setiap individu. Munculnya berbagai platform sosial media sosial seperti Whatsapp, Instagram, serta Youtube menjadikan setiap individu berinteraksi didalam dunia digital yang mungkin tanpa mereka sadari menimbulkan keterkaitan satu sama lain.

Perkembangannya dewasa ini, membuat banyak para pengusaha umumnya para Advertiser, tertarik untuk menjalin berbagai perjanjian bisnis dengan seseorang yang dinilai mempunyai banyak Pengikut atau lebih familiar kita kenal dengan “Followers” di halaman sosial medianya, seperti di platform Intagram/Youtube. Dimana dewasa ini kita kenal sebagai seorang Infuencer/Selebgram & Youtuber. Seseorang yang mempunyai banyak Pengikut di sebuah halaman Sosial media akan mempermudah para pelaku Advertiser  untuk memasarkan produk-nya sendiri ataupun produk dari Klien-nya, karena dengan menjalin kerjasama dengan seorang Influencer/Selebgram/Youtuber, menjadikan produk yang hendak mereka pasarkan akan lebih mudah dilihat oleh banyak orang sebagai calon pembeli atau sebagai calon pengguna jasa dari sebuah produk.

Atas dasar simbiosis tersebut, tidak sedikit seorang Advertiser berani membayar dengan jumlah yang fantastis kepada seorang Influencer terkenal. Telah sama-sama kita ketahui bahwa banyak Influencer dan Youtuber yang mendapatkan penghasilan berkisar ratusan juta bahkan sampai miliaran rupiah hanya dalam rentang waktu 1 bulan.

Hal tersebut membuat khalayak ingin mengikuti jejak sukses dari para Influencer/Youtuber tersebut. Berbagai cara dilakukan, seperti misalnya membuat konten-konten yang bermanfaat seperti konten Resep Memasak, konten Tutorial dalam mengoperasikan sebuah gadget bahkan penyelesaian masalah jika gadget tersebut terjadi error, lalu konten pemaparan ilmu dalam bidang Pendidikan, dan masih banyak lagi konten-konten bermanfaat lainnya.

Tetapi, disamping konten-konten bermanfaat tadi,tentunya banyak juga orang membuat konten yang menjurus ke hal-hal negatif. Contohnya adalah konten yang memancing Viral publik yang tidak sedikit berujung menjadi sebuah berita Hoax yang membuatnya harus berurusan dengan hukum. Ataupun membuat konten-konten yang tidak lumrah bila ditinjau dari segi norma kesopanan maupun norma kesusilaan.

Fenomena Psikologi

Dari fenomena tersebut Penulis tertarik untuk melihat perspective para Influencer/Selebgram/Youtuber serta khalayak yang mengikuti jejaknya tersebut dari sisi Psikologis. Apakah fenomena tersebut muncul hanya berlandaskan sifat money oriented ?

Pola pikir money-oriented sangat rentan membuat hidup Anda jadi soal uang melulu. Apa pun yang Anda lakukan atau pikirkan sehari-hari harus bisa menghasilkan uang demi bertahan hidup.

Hal inilah yang kerap menyebabkan kebanyakan orang dengan pola pikir serba duit alias money-oriented malah berubah menjadi gila harta dan bekerja berlebihan agar punya banyak uang.

Lama kelamaan, tuntutan hidup akan berdampak buruk bagi psikologis dan kesehatan Anda. Memaksakan kerja lembur terus-terusan sebagai bentuk mencari lebih banyak uang dapat menyebabkan stres berat yang berujung pada insomnia kronis.

Tentunya bisa kita nilai sama-sama bahwa sifat tersebut tidaklah baik untuk kesehatan psikis mereka yang melakoni bidang tersebut apabila didasari atas prinsip demikian.

Belum lagi apabila terjadi penurunan jumlah Pengikut atau  followers di sosial media mereka, lalu berkurangnya respons suka atau likes terhadap postingan mereka, tentu akan  menambah stresor bagi mereka. Karena mereka akan beranggapan bahwa hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas portofolio mereka yang berhubungan dengan penilaian calon klien mereka kedepan-nya.

Kesehatan Mental

 Bahkan tidak sedikit juga telah sama-sama kita saksikan di sosial media, beberapa Influencer yang melakukan perbuatan tercela sehingga membuat publik kecewa dan membuat mereka menjadi sasaran bullying dari jari-jemari komentar netizen. Hal tersebut dapat memicu Depresi dan Kecemasan.

Semua peristiwa yang penulis paparkan tersebut tentunya akan berdampak bagi keesehatan mental mereka jika tidak ditangani oleh ahli-nya.Tetapi, disamping dampak negatif, tentunya sangat banyak pula segi positif dari pekerjaan di bidang tersebut, diantaranya : Waktu yang lebih fleksibel dan Membantu membuka lapangan kerja.

Orang-orang yang melakoni pekerjaan di bidang yang ranah nya menjadi konsumsi publik haruslah memegang teguh prinsip bahwa pekerjaan tersebut harus didasari dengan keikhlasan untuk memberikan karya dengan maksud kemanfaatan bagi banyak orang, bukan hanya atas dasar penghasilan yang melimpah. Karena kalau orientasi-nya hanya uang, pekerjaan tersebut tidak akan membuat mereka puas secara finansial dan sehat secara mental.

Orang-orang yang ingin melakoni pekerjaan di bidang tersebut, haruslah orang yang kuat secara mental.

  • Diperlukan sifat konsisten dalam merintisnya,
  • dan melakoninya sesuai dengan minat dan bakat masing-masing individu.

 

 

Referensi :

https://hellosehat.com/mental/kecanduan/gila-harta-pola-pikir-money-oriented/ Diakses tanggal 14 Oktober 2021

https://www.suara.com/health/2021/01/09/070500/ketahui-dampak-bullying-pada-pelaku-korban-dan-orang-yang-menyaksikannya?page=all Diakses tanggal 14 Oktober 2021

https://entrepreneurcamp.id/keuntungan-menjadi-wirausaha/ Diakses tanggal 14 Oktober 2021

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *