Istilah ghosting sudah sering kita dengar di era digital saat ini. Pastinya sudah tak asing lagi kata ini dikalangan anak muda jaman sekarang. Apakah kalian pernah mengalaminya?
Wait, sebelumnya kalian sudah tahu belum sih, ghosting itu apa? Ghosting merupakan tindakan dimana ketika seseorang yang kamu kencani mengakhiri hubungan dengan memutuskan semua komunikasi, tanpa penjelasan apa pun. Dalam budaya kencan, ghosting kini sudah biasa dan menjadi sangat umum dalam beberapa tahun terakhir. Ghosting bisa dikatakan sebagai cara terburuk untuk mengakhiri hubungan, menurut korban ghosting.
Pada intinya, ghosting adalah sebuah penghindaran yang sering kali berasal dari ketakutan akan terjadinya konflik dan merupakan keinginan seseorang untuk menghindari konfrontasi, menghindari percakapan yang sulit, serta menghindari menyakiti perasaan seseorang lebih dalam.
Ada alasan psikologis mengapa seseorang menjadi pelaku ghosting. Dilansir dari Psychology today, orang-orang yang menjadi pelaku ghosting berfokus untuk menghindari ketidaknyamanan emosional mereka sendiri sehingga mereka tidak memikirkan perasaan orang lain. Mereka yang tidak mengerti bagaimana perasaan yang sebenarnya saat itu, alih-alih mencoba membicarakannya, mereka memilih menjadi pelaku ghosting. Maka dari itu, kita tidak bisa begitu saja mendeklarasikan seseorang yang suka ghosting sebagai orang jahat yang tanpa menghargai perasaan orang lain. Para pelaku ghosting ini terkadang berpikir bahwa lebih mudah untuk putus atau keluar dari suatu hubungan dengan seseorang melalui ghosting, terutama bagi mereka yang bertemu secara online.
Namun tidak main-main, ternyata perilaku ghosting ini bisa berpotensi merusak kondisi psikologis seseorang, lho! Ghosting juga disebut-sebut sebagai salah satu bentuk penyiksaan paling kejam yang bisa dilakukan dalam hubungan kencan. Para profesional kesehatan mental bahkan menganggap ghosting sebagai bentuk kekejaman emosional, sebab efek emosional yang ditimbulkan dari ghosting bisa sangat menyakitkan terutama bagi mereka yang memiliki hati lembut dan mudah merasakan sedih. Selain itu, menurut Jennice Vilhauer, Ph.D., seorang psikolog di Los Angeles, juga mengemukakan bahwa ghosting dapat berdampak serius pada kesehatan mental seseorang. Adapun dampak ghosting bagi kesehatan mental meliputi:
- Korban ghosting merasa seperti bodoh karena perasaannya dipermainkan, perasaanya dibuang, tidak digunakan, dan tidak dihargai.
- Melansir dari Kompas.com dampak ghosting bagi kesehatan mental dapat menimbulkan rasa malu dan harga diri seseorang yang menukik, juga depresi.
- Dapat memicu traumatis bagi seseorang dalam hubungan kencan sebab mereka merasa ghosting seperti pengkhiatan yang sangat dalam.
- Seseorang yang merupakan korban ghosting kemungkinan akan merasakan gelombang emosi yang berbeda seperti kesedihan, kemarahan, kesepian, dan kebingungan.
- Merasa rendah diri dan seringkali menyalahkan diri sendiri. Korban ghosting akan berpikir dan mempertanyakan pada dirinya sendiri apakah semua yang terjadi karena dirinya, apa kesalahan yang telah diperbuatnya hingga menyebabkan hal ini, bahkan mereka juga berpikir dan merasa bahwa dirinya bukan pasangan yang baik. Jika hal ini berkelanjutan dapat menyebabkan seseorang kehilangan rasa kepercayaan dirinya.
- Merasakan rasa sakit yang sama seperti sakit fisik. Dilansir dari American Psychology of Association, penolakan sosial atau perilaku ghosting ini dapat menyebabkan rasa sakit yang sama seperti yang disebabkan cedera pada tubuh.
Dari beberapa dampak ghosting yang ada, kita tidak boleh menganggap sepele. Karena hal ini dapat memberi luka psikologis pada seseorang. Perlu diingat bahwasanya kesehatan mental juga perlu dijaga layaknya menjaga kesehatan fisik. Jika kamu pernah mengalami ghosting dan tidak dapat mengatasinya efeknya sendiri, jangan ragu berkonsultasi pada ahlinya seperti ke psikolog atau psikiater, agar dampak yang didapat dari ghosting tidak berkelanjutan lebih jauh dan mempengaruhi kehidupan sosial mu.
Referensi:
American Psychologyical Association. (2020). Speaking of Psychology: What to do when you’ve been ghosted. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2021 di https://www.apa.org/research/action/speaking-of-psychology/ghosting
Borgueta, Maya. (2016). The psychology of ghosting: Why people do it and a better way to break up. Huffington Post. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2021 di https://www.huffpost.com/entry/the-psychology-of-ghostin_b_7999858
Dunlop, William L., Grace E. Hanley, and Tara P. McCoy. (2017). The narrative psychology of love lives. Journal of Social and Personal Relationships. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2021 di https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0265407517744385
Grande, Dianne. (2018). 4 Reasons People Ghost Their Way Out of Relationships. Psychology Today. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2021 di https://www-psychologytoday-com.translate.goog/intl/blog/in-it-together/201804/4-reasons-people-ghost-their-way-out-relationships?_x_tr_sl=pt&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=nui,sc
Pangestu Jali, Galih. (2021). Apa Dampak Ghosting bagi Kesehatan Mental. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2021 di https://health.kompas.com/read/2021/09/04/180000168/apa-dampak-ghosting-bagi-kesehatan-mental?page=all
Timmermans, Elisabeth., Anne-Mette Hermans, and Suzanna J. Opree. (2020). Gone with the wind: Exploring mobile daters’ ghosting experiences. Journal of Social and Personal Relationships. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2021 https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0265407520970287
Vilhauer, Jennice. (2015). Why Ghosting Hurts So Much (Ghosting says nothing about your worthiness for love). Psychology Today. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2021 di https://www-psychologytoday-com.translate.goog/us/blog/living-forward/201511/why-ghosting-hurts-so-much?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=nui,op,sc