Bunuh diri menjadi masalah global. Menurut WHO tahun 2015 lebih
dari 800.000 orang/tahun meninggal karena bunuh diri. Di Amerika Serikat bunuh diri remaja merupakan penyebab kematian kedua pada tahun 2013 (CDC, 2016). Hasil penelitian Bagalkot et al. (2014) di Korea terjadi perningkatan prevalensi bunuh diri dari ide bunuh diri dan usaha bunuh diri Prevalensi ide bunuh diri dan usaha bunuh diri 24,8% dan 6,2%, yang lebih tinggi dari penelitian sebelumnya 15,6%, dan 3,2%. Sementara dari laporan kepolisian Indonesia tahun 2012 dan 2013 terdapat 981 dan 921 kasus kematian karena bunuh diri (National Geographic Indonesia, 2015). Dari Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, laporan pertengahan tahun 2012 ada 20 kasus anak bunuh diri dengan usia termuda 13 tahun. Dari data diatas terlihat masih tingginya kejadian bunuh diri terutama pada usia remaja.
Sebelum terjadi bunuh diri, terdapat tanda-tanda yang harus diwaspadai. Komunikasi non verbal lebih sering sebagai ancaman bunuh diri, adanya ide bunuh diri yang dapat dilaporkan sendiri atau dilaporkan kepada orang lain (Stuart, 2013). Menurut Townsend (2011) seseorang dapat menunjukkan prilaku maupun menyampaikan secara verbal niat bunuh diri. Hasil penelitian Ribeiro et al. (2016) didapatkan bahwa usaha bunuh diri (47,80%) diikuti oleh kematian (40,50%) dan ide bunuh diri (11,60%). Oleh karena itu penting memperhatikan dan mengenali tandatanda bunuh diri remaja.
Banyak faktor risiko bunuh diri pada remaja. Faktor risiko bunuh diri pada remaja dalam Stuart (2013) diantaranya adalah: faktor psikologis, faktor keluarga, faktor lingkungan, faktor biologis, perilaku bunuh diri sebelumnya dan orientasi seksual.
- Faktor psikologis
Faktor psikologis diantaranya adalah depresi, kecanduan narkoba (Farhangdoos,2010),stres, kecemasan dan depresi (Hawari, 2013) sementara menurut Ibrahim et al. (2014) faktor psikologis bunuh diri pada remaja adalah depresi, ansietas dan stress. Faktor psikologis dimana remaja yang merasa depresi, kesedihan, dan putus asa memiliki kemungkinan lebih tinggi terhadap perilaku bunuh diri (Altangerel, 2014). - Faktor keluarga
Hubungan orang tua dan remaja dapat mempengaruhi perilaku bunuh diri, dimana adanya disfungsi keluarga dan riwayat bunuh diri remaja. Sebagai contoh, remaja dapat dicegah untuk melakukan percobaan bunuh diri dengan sikap peduli dan membentuk hubungan yang baru dengan anak remaja (Stuart, 2013). Riwayat anggota keluarga dengan perilaku bunuh diri dimana risiko bunuh diri pada remaja laki-laki secara bermakna
dikaitkan dengan riwayat kematian ayah yang bunuh diri. Sebaliknya, risiko kematian bunuh diri pada remaja perempuan secara bermakna dikaitkan dengan riwayat ibu yang bunuh diri (Cheng. J, et al.2013). - Faktor lingkungan
Masalah disekolah, penularan perilaku bunuh diri diantara kelompok sebaya, kurangnya dukungan orang tua, permasalah dengan teman dan riwayat pelecehan seksual menjadi bagian dari faktor lingkungan terhadap risiko bunuh diri pada remaja (Stuart, 2013). Sementara Zimet, et al. (2016) menyebutkan bahwa keluarga, teman dan seseorang yang special merupakan tiga sumber khusus bagi dukungan sosial. Penelitian David, et al. (2006) didapatkan bahwa pada perempuan terdapat hubungan yang positif pada tingkat dukungan sosial yang
dirasakan dari keluarga, orang lain dan teman-teman. Pada laki-laki, tingkat keluarga dan orang lain terdapat hubungan yang positif terkait satu sama lain, tapi tidak terkait dengan dukungan dari teman-teman. - Faktor biologis
Keluhan somatik seperti: sakit kepala menjadi bagian dari faktor biologis pada risikobunuh remaja (Stuart, 2013). Chronic Daily Headache (CDH) mengacu pada sekelompok gangguan di mana sakit kepala terjadi 15 hari atau lebih per bulan untuk setidaknya 3 bulan dan termasuk: chronic migraine (CM), migrain dengan atau tanpa aura dan migren aura tanpa sakit kepala, chronic tension-type headache(CTTH),hemicrania continua (HC), dan sakit kepala terus-menerus setiap hari. Usaha bunuh diri lebih sering pada klien yang menderita migrain dibandingkan pada populasi umum, terutama pada perempuan(Pompili, M et al. 2009). - Faktor riwayat bunuh diri sebelumnya
Upaya bunuh diri sebelumnya, memberikan benda berharga, membicarakan tentang bunuh diri, menulis catatan atau puisi tentang kematian menjadi faktor resiko bunuh diri. Riwayat upaya bunuh diri sebelumnya oleh individu meningkatkan risiko bunuh diri. - Faktor Orientasi seksual
Rata-rata percobaan bunuh diri berhasil pada kelompok remaja gay, lesbian,dan biseksual. Penyebab dapat karena stres dan kesepian yang dialami karena orientasi seksual yang dimiliki. Stigma penolakan orang tua dan kurangnya penerimaan sosial sebagai alasan lain tingginya angka bunuh diri pada kelompok ini (Stuart, 2013).
Reeferensi :
Altangerl,U, Liou, J. C, Pi-Ming Ye. (2014).Prevalence and Predictors of Suicidal Behavior Among Mongolian High School Students. Community Mental Health J .50:362–372 DOI 10.1007/s10597-013-9657-8
Bagalkot, T.R,. Park, J,. Kim, H.T,Kim, H.M, Kim, S.M., Yoon, M.S., Hee Ko, S., Cho, H.C, and Chung, Y.C. (2014). Lifetime prevalence of and Risk Factors for Suicidal ideation and suicide attempts in a Korean community Sample. Psychiatry 77
Centre For Disease Control and Prevention. (2016). Suicide. Website :
www.cdc.gov/ViolencePrevention/suicide/index.html.
Cheng, C. C. J., Yen, W. J., Chang,W.T., Wu, K. K. C., Ko3, M.C., Li, C.Y. (2014). Risk of adolescent offspring‘s completed suicide increases with prior history of their same-sex parents‘ death by suicide. Psychological Medicine 44, 1845–1854. Cambridge University Press.
David C. R. Kerr,Lesli J. Preuss,and Cheryl A. King.(2006).Suicidal Adolescents‘ Social Support from Family and Peers: Gender-Specific Associations with Psychopathology. Journal of Abnormal Child Psychology.
Farhangdoost, Y. (2010). Determining Risk Factors and Demographic
Patterns of Suicide in Tehran. Polish Psychological Bulletin, vol 41 (2), 52-57 DOI – 10.2478/v10059-010-0007-1.
Hawari, D. (2013). Manajemen stres, cemas dan depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ibrahim, N, Amit, N, Suen,W.Y.M (2014). Psychological Factors as Predictors of Suicidal Ideation among Adolescents in Malaysia. PLoS ONE 9(10): e110670. doi:10.1371/journal.pone.0110670.
National Geographic Indonesia. (2015).Bunuh diri diusia produktif. Website: http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/09/bunuh-diri-di-usia-produktif
Pompili, M, Cosimo, D,C , Innamorati, M, Lester, Tatarelli, R, Martellett. (2009). Psychiatric comorbidity in patients with chronic daily headache and migraine: a selective overview including personality traits and suicide risk.P J Headache Pain 10:283–290.
Ribeiro, D. J., Franklin, C.,J., Fox, K., R., Bentley, K., H., Kleiman,M., E., Chann, B.,P., Nock, K., M.(2015). Self-injurious thoughts and behaviors as risk factors for future suicide ideation, attempts, and death: a metaanalysis of longitudinal studies.Psychological Medicine.
Stuart, W. G. (2013). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart Vol 1&2. Singapore : Elsevier.
Townsend, M.C. (2011). Essentials of Psychiatric Mental Health
Nursing.Philadelphia: Davis Company.
Zimet, G.D., Powell, S.S., Farley, G.K., Werkman, S. & Berkoff, K.A. (2016). Psychometric characteristics of the Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Journal of Personality Assessment, 55, 610-17