Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Duck Syndrome

Mungkin sebagian dari kamu pernah bertemu atau mempunyai seorang teman yang hidupnya terlihat menyenangkan dan didambakan oleh banyak orang. Namun, siapa sangka bahwa dibalik itu semua ternyata teman kamu sebenarnya sedang memikul beban yang sangat berat? Peristiwa inilah yang kerap disebut sebagai duck syndrome.

Istilah “sindrom bebek” atau duck syndrome berasal dari gagasan seekor bebek yang terlihat tenang saat meluncur di permukaan air, namun sepasang kakinya mengayuh dengan acak (ribut) di bawah permukaan air, dimana tidak ada orang yang dapat melihat ini, usaha bebek ini guna mempertahankan posisinya agar tetap mengapung. Kondisi “mengapung di atas air” ini dapat dikaitkan dengan kondisi seseorang yang mungkin terlihat tenang di luar, tetapi pada kenyataannya berjuang untuk tetap terlihat baik-baik saja.

Duck syndrome sering ditemui pada remaja yang menjadi “ikan besar di kolam kecil” di sekolah menengah. Mereka terbiasa menjadi populer dan karena hal itu tanpa mereka sadari menjadi tuntutan kepada diri mereka sendiri untuk terlihat sempurna. Masalahnya adalah bahwa stres ekstrem akibat tekanan seperti itu dapat menyebabkan beberapa masalah gangguan psikologis, seperti gangguan makan hingga penyalahgunaan zat untuk mengatasi stres hanya karena perlu menjadi “sempurna”.

Duck syndrome bukanlah diagnosis medis resmi. Namun, mengatakan seseorang menderita sindrom bebek berarti menunjukkan bahwa penderitanya juga mengalami gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, atau beberapa bentuk penyakit mental lainnya sebagai reaksi terhadap stres yang ekstrem. Meskipun istilah ini mungkin pada awalnya terdengar lucu, konsekuensi dari depresi dan kecemasan bukanlah bahan tertawaan dan harus ditanggapi dengan sangat serius.

Apa yang menyebabkan seseorang mengalami duck syndrome?

Ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami duck syndrome, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal dari dalam diri orang tersebut yang selalu ingin terlihat sempurna. Bayangkan jika kamu adalah salah satu murid terbaik di sekolah. Berbagai pujian dari guru dan teman-teman sudah sangat akrab untukmu.

Dari kesuksesan tersebut pun membuat kamu merasa percaya diri dan semakin berambisi untuk menggapai prestasi yang lebih besar. Sayangnya, hal itu tak semudah yang kamu bayangkan. Sistem pendidikan yang berubah, materi pelajaran yang lebih kompleks, serta tuntutan sosial, semua hal itu akhirnya membuat kamu mulai merasa kewalahan.

Namun, lagi-lagi karena citra diri tersebut, kamu enggan mengakuinya dan berusaha mati-matian untuk tetap terlihat tenang dan berhasil mengerjakan semuanya. Tak peduli akan keadaan diri yang sudah lelah, yang penting kamu tetap mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Faktor eksternal, kecenderungan orang-orang terdekat yang kerap membangga-banggakan prestasi serta pola asuh helikopter. Orang tua yang selalu mengawasi segala tindakan anak secara tak langsung dapat menumbuhkan perasaan takut gagal pada diri seseorang.

Gejala apa saja yang dirasakan oleh penderita duck syndrome?

Gejala setiap orang terhadap stres ekstrem berbeda-beda. Beberapa orang dapat mengatasinya dengan baik, dan beberapa orang menemukan bahwa stres yang mereka hadapi semakin bertambah. Reaksi fisik terhadap stres ekstrim dalam kasus duck syndrome bervariasi, beberapa orang melaporkan bahwa stres membuat mereka sakit kepala, mengganggu tidur mereka, dan mengacaukan konsentrasi mereka, yang lain melaporkan merasa tegang atau marah.

Beberapa melaporkan mengalami depresi dan kurang atau peningkatan nafsu makan. Ketika stres menjadi cukup parah, perasaan yang berlebihan menyebabkan kelelahan, yang menyebabkan kurangnya minat penderita terhadap aktivitas yang dulu menggairahkan mereka.

Bagaimana cara mengatasinya?

Untuk mengobati duck syndrome, seorang Psikiater dapat menggabungkan terapi dengan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati depresi dan kecemasan dalam upaya untuk meringankan kegelisahan pasien.

Bila Anda sudah mulai merasakan pertanda seperti yang sudah dijelaskan dan mulai terasa mengganggu kehidupan Anda, hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah menjalani psikoterapi atau terapi bicara. Kedua metode pengobatan tersebut dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil yang efektif, mungkin diperlukan untuk jangka waktu yang lebih lama dalam beberapa kasus duck syndrome yang lebih parah.

 

Referensi:

  1. Edwards, R. D. (2021). Duck Syndrome. Diakses pada 14 September 2021 dari https://www.medicinenet.com/duck_syndrome/article.htm
  2. Kirby, S. (2021). What Is Duck Syndrome & Are You Suffering From It?. Diakses pada 14 September 2021 dari https://www.betterhelp.com/advice/stress/what-is-duck-syndrome-are-you-suffering-from-it/
  3. O’Sullivan, M. (2019). “Duck Syndrome:” Students Feel Alone in Academics. Diakses pada 14 September 2021 dari https://thesoutherneronline.com/71759/comment/71759/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *