Orang barat dan orang timur memiliki gaya pemikiran masing-masing untuk mencapai tujuan hidupnya. Orientasi pemikiran pada orang barat berfokus pada tujuan individu, berbeda dengan orang timur yang lebih berfokus pada kelompok. Budaya barat, konstruksi harapan merupakan komponen kunci dalam kehidupan. Sementara budaya timur, konstruksi welas asih dan harmoni sangat dihargai.
“Individualis yang Tangguh”, Konstruksi Harapan, dan Kebutuhan akan Keunikan
Dalam peradaban barat, harapan telah menjadi kekuatan dasar dan kuat, hal ini tidak lepas karena pengaruh sejarah peradaban dan agama barat.
Selama abad kegelapan yang sering disebut juga sebagai abad pertengahan (500-1500), telah terjadi kelumpuhan keingintahuan. Kelumpuhan itu pun membuat perencanaan dan tindakan yang dibutuhkan masyarakat penuh harapan dan maju menjadi terhambat. Saat zaman kegelapan berakhir, era Renaisans dimulai. Pada era Renaisans, pertumbuhan ekonomi dan harapan akan kemakmuran dipandang lebih relevan untuk kehidupan saat itu.
Periode setelah Renaisans, dikenal sebagai zaman pencerahan. Dalam suasana budaya yang kondusif untuk eksplorasi dan perubahan, pencerahan mencerminkan akan harapan. Terjadi perkembangan pesat selama pencerahan, yang meliputi pendidikan, kebebasan berbicara, dan penerimaan ide-ide baru. Berlanjut pada era revolusi industri. Di mana pada era ini terjadi perpindahan produksi dari rumah/bengkel kecil ke pabrik besar, yang membuat harapan akan masa depan tampak lebih mudah dicapai.
Pemikiran penuh harapan telah menjadi dasar pemikiran dan bagian penting dalam peradaban barat. Tujuan pribadi dan individu, mengenai konstruksi harapan, tampaknya menjadi alat utama dari “individualis yang tangguh” dalam bergerak mencapai kehidupan yang lebih baik.
Kebutuhan akan Keunikan

Lihat gambar di atas. Meskipun benar bahwa norma-norma dalam masyarakat individualistis menekankan orang tersebut (lihat garis putus-putus dengan panah di bagian bawah), dapat dilihat bahwa beberapa orang termasuk dalam kelompok akhir dari kontinum dan yang lainnya menuju akhir individu. Maka dari itu, kita sekarang sedang mengeksplorasi keinginan untuk mewujudkan keistimewaan relatif terhadap orang lain.
Mengejar tujuan individualistis untuk menghasilkan rasa keistimewaan telah diistilahkan sebagai kebutuhan akan keunikan (lihat Lynn & Snyder, 2002; Snyder & Fromkin, 1977, 1980; Vignoles, 2009). Kebutuhan ini dianggap memiliki daya tarik yang kuat bagi banyak orang, karena sering kali orang-orang berusaha mempertahankan beberapa tingkat perbedaan dari orang lain (serta untuk mempertahankan ikatan dengan orang lain). Di tahun 1970, peneliti Howard Fromkin dan CR Snyder memulai program penelitian berdasarkan premis bahwa kebanyakan orang memiliki keinginan untuk menjadi kerabat yang istimewa terhadap orang lain. Motif manusia ini disebut sebagai kebutuhan akan keunikan, adapun Vignoles menyebutnya sebagai motif kekhasan. Selain menetapkan bahwa beberapa keistimewaan diinginkan oleh sebagian besar orang dalam sampel mereka dari Amerika Serikat, para peneliti ini juga beralasan bahwa beberapa orang memiliki kebutuhan yang sangat tinggi akan keunikan (atau keunikan), sedangkan yang lain memiliki kebutuhan yang sangat rendah akan keunikan.
Pengkodean Informasi Kesamaan
Orang mendefinisikan diri mereka sendiri dengan berbagai dimensi identitas. Dimensi identitas didefinisikan sebagai “sekumpulan atribut orang yang memiliki inti makna yang sama” (Miller, 1963, hal 676). Dalam teori keunikan milik Snyder dan Fromkin (1980) mengusulkan agar orang berpikir tentang kesamaan yang mereka rasakan dengan orang lain dan menggunakan dimensi (dalam pikiran mereka) di mana mereka mengevaluasi mengoreksi setiap umpan balik yang diberikan tampaknya tentang tingkat kesamaan mereka dengan orang lain (secara teknis, ini dikodekan pada skema identitas keunikan). Singkatnya, orang mengevaluasi penerimaan mereka yang memiliki tingkat kemiripan yang berbeda-beda dengan orang lain. Pengkodean hipotetis pada dimensi identitas keunikan ini ditunjukkan pada gambar di bawah.

Seperti dapat dilihat pada gambar di atas, informasi kemiripan dikodekan sebagai semakin tinggi dalam penerimaan, dari sangat sedikit (very slight), ke sedikit (slight), ke sedang (moderate), ke tingkat kemiripan yang dirasakan tinggi dengan orang lain, dengan penurunan ke penerimaan rendah untuk kemiripan yang sangat tinggi. Dengan demikian, rasa kesamaan sedang hingga tinggi dinilai sebagai yang paling nyaman, paling akurat bagi orang-orang. Alasannya adalah bahwa orang menyadari bahwa kebanyakan orang lain agak mirip dengan mereka (lihat Brown, 1991) dan bahwa orang menginginkan beberapa keistimewaan. Dengan kata lain, dalam istilah realitas seperti yang orang-orang anggap sebenarnya dan bagaimana mereka menginginkannya, orang lebih suka kisaran kesamaan sedang hingga tinggi (titik C dan D pada gambar). Akhirnya, orang tidak nyaman dengan salah satu yang ekstrem dengan kesamaan rendah (titik A pada gambar) atau kesamaan tinggi (titik E pada gambar).
Reaksi Emosional dan Perilaku terhadap Informasi Kesamaan
Harap dicatat bahwa respons emosional positif tertinggi terjadi ketika orang merasa bahwa mereka memiliki tingkat kesamaan yang relatif sedang hingga tinggi, yang menunjukkan di mana mereka dapat memperoleh kenikmatan maksimal dari hubungan interpersonal. Hal ini dapat membantu memberikan contoh bagaimana kemiripan yang moderat dengan ornag lain dapat memuaskan secara emosional. Ketika saya pindah dari California ke sekolah pascasarjana di Midwest, yang merupakan contoh yang bagus dari keinginan untuk mencapai kesetaraan moderat. Awalnya, saya sedikit terkejut karena menjadi salah satu dari sedikit orang yang berlatar belakang ras minoritas di kampus baru. Untungnya, saya segera menemukan orang dari keturunan birasial, meskipun dari ras yang berbeda namun kita memiliki pengalaman yang serupa. Kesamaan yang moderat ini memberi kita beberapa pengalaman dan pemahaman yang sama, sambil tetap mempertahankan perbedaan individu kita. Kita terus menikmati kepuasan emosional yang berasal dari kesamaan moderat ini dan persahabatan kita sudah berlangsung selama lebih dari 15 tahun.
Reaksi yang dapat diterima yang disebabkan oleh sejauh mana mereka merasa serupa dengan orang lain juga dapat menyebabkan orang mengubah perilaku mereka yang sebenarnya menjadi lebih atau kurang mirip dengan orang lain. Lebih khusus lagi, penerimaan yang paling positif di mana tidak hanya menghasilkan respons emosional positif tertinggi, namun juga tidak diperlukannya melakukan perubahan perilaku apa pun secara relatif terhadap orang lain. Di sisi lain, kesamaan seseorang dengan orang lain yang sangat rendah sehingga menyebabkan penerimaan yang lebih rendah. Oleh karena itu, seseorang harus berubah menjadi lebih sama seperti orang lain. Selain itu, juga sulit menerima tingkat kesamaan yang tinggi dengan orang lain, sehingga harus berubah menjadi kurang sama dengan orang lain. Dalam pengertian terakhir, karena seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan akan keunikan, mereka harus bekerja keras untuk membangun kembali perbedaan. Konsisten dengan respons perilaku yang diprediksi ini, hasil dari beberapa studi mendukung model yang diusulkan ini (Snyder & Fromkin, 1980).
Seseorang dapat berubah karena seseorang memiliki kesamaan yang sangat mirip dengan orang lain. Dapat dicontohkan sebagai berikut: Shandra memiliki respons negatif ketika mengetahui sebuah persyaratan setelah dapat bergabung dalam perkumpulan mahasiswi di awal perguruan tinggi. Syarat tersebut adalah menggunakan pakaian yang sama (seragam) dengan mahasiswi lainnya. Respons negatif yang ditunjukkan Shandra adalah mengenakan pakaian yang berbeda atau tidak seragam dengan mahasiswi lain. Hal tersebut dikarenakan Shandra ingin menegaskan bahwa Ia unik. Mahasiswi tingkat atas Shandra mencoba untuk membuatnya menyesuaikan pakaiannya dengan mahasiswi lain, namun Shandra tetap kekeh untuk menjadi unik dan berani untuk keluar dari perkumpulan mahasiswi tersebut.
Dapat disimpulkan dari keseluruhan temuan ini, seseorang memiliki keseimbangan dalam kesamaan dan keunikannya. Jika seseorang tertarik akan kesamaan, seseorang itu akan melakukan kesamaan itu. Namun terdapat sebuah batasan akan kesamaan tersebut yaitu memenuhi kebutuhan akan keunikan/berbeda karena merasa terlalu sama dengan orang lain. Dan sebaliknya, jika seseorang merasa terlalu banyak perbedaan dengan orang lain, Ia akan menyesuaikan untuk sama dengan orang lain. Hal tersebut sejalan dengan Snyder dan Fromkin (1977) yang mengatakan bahwa harus ada perbedaan individu dalam kebutuhan yang dilaporkan sendiri untuk keunikan.
Atribut Keunikan
Atribut keunikan adalah atribut/tanda kelengkapan yang dapat diterima oleh masyarakat sekitar sehingga dapat menunjukkan keunikan/hal yang beda dari masyarakat tersebut. Menurut Snyder dan Fromkin (1980, hlm. 107) mengatakan bahwa atribut keunikan bisa berupa fisik, material, informasional, pengalaman, dll yang di mana dapat membuat individu menjadi berbeda dan perbedaan tersebut dapat diterima oleh masyarakat sekitar. Hal tersebut merupakan suatu cara individu menunjukkan keistimewaan mereka, tanpa menyimpang dari aturan yang berlaku di masyarakat. Hal tersebut berkesinambungan dengan penjelasan Goffman, 1963; Schachter, 1951 yang mengatakan bahwa orang dihukum ketika menyimpang dari perilaku normal. Selain itu penjelasan Becker, 1963; Freedman & Doob, 1968; Goffman, 1963; Palmer, 1970; Schur, 1969 mengatakan bahwa perilaku yang tidak biasa dengan cepat dapat menimbulkan penolakan dan penolakan masyarakat. Dan disisi lain, mengikuti aturan (perilaku normal) biasanya tidak menimbulkan banyak reaksi dari orang lain.
Atribut keunikan dapat dicontohkan salah satunya komoditas langka. Menurut Snyder (1992) menjelaskan tentang “catch-22 carousel”. Catch-22 carousel adalah sebuah pengiklan dengan menggunakan daya tarik keunikan untuk menarik orang membeli produk dengan membuat perubahan tahunan pada produk yang di jual (contohnya keunikan fisik barang yaitu gaya pakaian, mobil, dll). Ironisnya, setelah iklan berbasis keunikan terbaru berhasil menarik orang untuk membeli dan berakhir dapat membuat orang menyadari bahwa apa yang mereka beli sekarang sudah lumrah (banyak orang lain juga memiliki). Tentu saja, perubahan gaya tahunan membuat orang-orang tetap pada konsumen.
Nilai Timur : Welas asih dan Harmoni
Ide welas asih berasal dari filosofi Barat dan Timur. Dalam tradisi Barat, Aristoteles sering dikenal dengan tulisan awalnya mengenai welas asih. Welas asih dapat ditelusuri dalam tradisi konfusianisme timur, taosisme, Budha, dan Hindu. Dalam tradisi konfusianisme, welas asih dibahas dalam konsep gen (kemanusiaan) yang juga berkaitan dengan kebajikan. Dalam sistem kepercayaan Tao, welas asih menggambarkan bahwa manusia mencerminkan perilaku secara alami, tanpa adanya perencanaan sebelumnya. Sedangkan pada Budha welas asih digambarkan sebagai kebajikan untuk menuju transendensi yang termuat pada sebuah buku yang berbunyi “ tercerah kan sempurna dan welas asih tanpa batas” (Sangharakshita, 1991, hal.3). Terakhir, dalam tradisi Hindu , welas asih digambarkan dalam tindakan baik terhadap orang lain, yang akan mengarahkan manusia ke jalan yang tidak mengharuskan kembali ke bumi setelah kematian terjadi.
Dalam psikologi positif, Doktor Eric Cassell (2009) menyatakan bahwa Belas kasih adalah emosi yang dirasakan secara sepihak dan diarahkan keluar dari diri sendiri. Dalam ajaran Budha pencapaian welas asih berarti mampu mengatasi keasyikan dengan sentralitas diri atau bisa dikatakan dengan tidak hanya berfokus pada diri sendiri tetapi juga orang lain. Dengan cara ini diharapkan manusia dapat mencapai kehidupan yang baik. Karena ketika seseorang memiliki welas asih dapat membantu orang tersebut berhasil dalam hidup dan dipandang sebagai kekuatan menurut tradisi timur. Peneliti berpendapat bahwa perasaan welas asih dapat datang secara lebih alami kepada seseorang dari budaya kolektivis dibandingkan budaya individualis (Batson, 1991;Batson, Ahmad & Lishner, 2009).
Dalam tradisi Timur, diajarkan bahwa kemampuan untuk merasakan orang lain adalah bagian penting dari pencarian kehidupan yang baik. Welas asih, salah satu aspek kemanusiaan yang melihat keluar diri kita sendiri dan memikirkan orang lain saat kita peduli dengan mereka. Untuk bergerak menuju kehidupan yang baik, welas asih sangat penting untuk menangani tugas kehidupan sehari-hari. Selain itu, saat orang tersebut mulai memahami orang lain, dia semakin mendekati pemahaman diri. Ini adalah satu lagi komponen kunci untuk mencapai transendensi.
Sejarah InWestern, orang Yunani dikatakan telah memandang kebahagiaan sebagai kemampuan “untuk menjalankan kekuatan dalam mengejar keunggulan dalam kehidupan yang bebas dari kendala” (Nisbett, 2003, hlm. 2–3). Dengan begitu, kehidupan yang baik dipandang sebagai kehidupan tanpa ikatan dengan kewajiban dan kebebasan untuk mengejar tujuan individu. Ada perbedaan antara gagasan kebahagiaan ini dengan ajaran Konfusianisme, misalnya, di mana kewajiban (yi) adalah kebajikan utama.
Dalam ajaran Konfusianisme, harmoni dipandang penting untuk kebahagiaan. Konfusius sangat memuji individu yang mampu menyelaraskan; ia membandingkan kapasitas ini dengan “seorang juru masak yang baik yang memadukan rasa dan menciptakan sesuatu yang harmonis dan lezat” (Nisbett, 2003, hlm. 7). Bergaul dengan orang lain memungkinkan orang tersebut untuk dibebaskan dari pengejaran individu dan, dengan demikian, untuk mendapatkan “agen kolektif” (Nisbett, 2003, hlm. 6) dalam mengerjakan apa yang baik untuk kelompok. Jadi, prinsip harmonisasi adalah prinsip sentral dari cara hidup Timur. Keseimbangan dan harmoni yang dicapai seseorang sebagai bagian dari kehidupan yang tercerah kan sering dianggap mewakili tujuan akhir dari kehidupan yang baik. Dalam ajaran Hindu, orang juga dapat melihat bahwa, karena semua manusia saling berhubungan oleh “prinsip pemersatu tunggal” (Stevenson & Haberman, 1998, p. 46), harmonym harus dikejar. Jika seorang individu menjalani hidup tanpa memikirkan orang lain yang terhubung dengannya, efeknya mungkin jauh menjangkau baik individu maupun kelompok (Stevenson & Haberman, 1998).
Konsep harmoni telah mendapat perhatian minimal di bidang psikologi positif hingga saat ini, meskipun beberapa perhatian telah diberikan pada gagasan menghargai keseimbangan dalam hidup seseorang dengan mengacu pada konstruksi tertentu lainnya. konstruksi ini sebagai keinginan untuk menemukan konsensus di antara kelompok, sebagai kebalikan dari ide-ide yang saling bertentangan. Sedikit lebih banyak perhatian ilmiah diberikan pada harmoni dalam literatur psikologi Amerika. Mengingat peran sentral harmoni sebagai kekuatan dalam budaya Timur, penelitian lebih lanjut mungkin diperlukan tentang topik ini di masa mendatang.
Pertama, konsep harmoni sering keliru disamakan dengan pengertian kesesuaian. Studi untuk menemukan perbedaan antara kedua konstruksi ini dapat bermanfaat dalam mendefinisikan satu sama lain dengan lebih jelas. Karena istilahnya kesesuaian memiliki konotasi yang agak negatif dalam budaya kita yang berorientasi pada kemerdekaan, ada kemungkinan bahwa beberapa penokohan negatif yang sama ini telah diperluas ke konsep harmoni.
Kedua, metode penelitian kualitatif dapat digunakan untuk mengembangkan definisi harmoni yang lebih baik. Konsep harmoni saat ini tercermin dalam keutamaan keadilan. dapat dikatakan bahwa gagasan harmoni lebih luas daripada definisi khusus ini dan dapat dianggap terpisah dari kesetiaan dan “melempar ke dalam”. Lebih jauh, fenomena harmonym mungkin merupakan kekuatan interpersonal (seperti yang dijelaskan dalam paragraf sebelumnya) dan kekuatan intrapersonal.
KEMANA TUJUAN KAMI : DARI SAYA KE KITA KE KAMI
Tujuannya yaitu meningkatkan kemampuan kita untuk berinteraksi dengan berbagai orang lain dan memacu kompetensi multikultural kita. Pendekatan ini merupakan pembauran di mana individu dan kelompok dapat dipertimbangkan untuk kehidupan yang memuaskan dan produktif. Seperti yang kita lihat, perspektif AS mencerminkan resolusi psikologi positif yang layak untuk dunia yang lebih kompeten secara multikultural.
References:
Gambar: https://www.shermanconsulting.net/2018/10/11/be-more-positive-person/
Lopez, Shane J. (2019). The Encyclopedia of Positive Psychology. ISBN: 978-1-405-16125-1