Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Depresi pada Pria: Tanda, Gejala, Penyebab, dan Cara Mendapatkan Bantuan Menurut Pakar

Depresi pada pria tidak selalu terlihat seperti kesedihan. Pada sebagian pria, tekanan emosional justru dapat muncul sebagai mudah marah, menarik diri, bekerja berlebihan, minum lebih banyak, kehilangan minat, atau mengambil risiko yang sebelumnya tidak biasa dilakukan.

Depresi pada pria dapat hadir dalam bentuk yang lebih sulit dikenali, terutama ketika kesulitan emosional diekspresikan melalui perubahan perilaku.

Depresi pada Pria Tidak Selalu Terlihat Seperti Kesedihan

Ketika membicarakan depresi, gambaran yang paling sering muncul adalah seseorang yang sedih, menangis, kehilangan energi, dan tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai.

Gambaran tersebut memang merupakan bagian dari depresi. Namun, tidak semua orang mengalami atau mengekspresikan depresi dengan cara yang sama.

National Institute of Mental Health atau NIMH mencatat bahwa pria dapat mengalami banyak kondisi kesehatan mental yang sama dengan perempuan, tetapi ekspresi gejalanya dapat berbeda. Pada pria, gejala yang perlu diperhatikan dapat mencakup kemarahan atau iritabilitas, perubahan energi dan tidur, kesulitan berkonsentrasi, peningkatan penggunaan alkohol atau obat, perilaku berisiko, keluhan fisik, menarik diri, hingga pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

HelpGuide juga menyoroti bahwa depresi pada pria sering kali luput dikenali karena sebagian pria cenderung menyembunyikan atau menyangkal perasaan emosionalnya. Akibatnya, perhatian justru tertuju pada keluhan seperti sakit kepala, nyeri punggung, gangguan tidur, masalah seksual, kemarahan, atau penggunaan alkohol.

Inilah salah satu alasan mengapa memahami depresi pada pria membutuhkan perhatian terhadap perubahan pola hidup dan perilaku, bukan hanya pertanyaan “Apakah kamu sedang sedih?”

“Male Depression” Bukan Diagnosis yang Terpisah

Istilah “male depression” atau “depresi pada pria” sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana depresi dapat muncul pada sebagian pria. Namun, penting untuk memahami bahwa istilah tersebut bukan diagnosis klinis yang berdiri sendiri.

Penelitian mengenai “male depression” terutama membahas kemungkinan bahwa sebagian pria menunjukkan gejala eksternal atau externalizing symptoms yang lebih menonjol, seperti kemarahan, agresivitas, penggunaan zat, penekanan emosi, dan perilaku mengambil risiko.

Literatur ilmiah masih memperdebatkan sejauh mana pola tersebut merupakan bentuk khusus depresi, gejala yang menyertai depresi, atau respons yang dipengaruhi faktor sosial dan budaya. Karena itu, kemarahan atau perilaku berisiko saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang pria mengalami depresi.

Namun, pola tersebut tetap penting secara klinis karena dapat membuat depresi lebih sulit dikenali jika pemeriksaan hanya berfokus pada kesedihan, menangis, atau perasaan sedih.

Mengapa Depresi pada Pria Bisa Terlihat Berbeda?

Salah satu faktor yang banyak diteliti adalah cara seseorang belajar memahami dan mengekspresikan emosinya.

Dalam berbagai lingkungan sosial, pria dapat menerima pesan bahwa mereka harus kuat, mandiri, tidak boleh terlihat rapuh, dan sebaiknya menyelesaikan masalah sendiri. Pesan seperti ini tidak otomatis menyebabkan depresi, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang merespons tekanan psikologis.

Ketika emosi sulit diungkapkan secara verbal, tekanan tersebut dapat muncul melalui perilaku.

Penelitian yang mengembangkan Male Depression Risk Scale, misalnya, memasukkan beberapa domain yang berbeda dari gejala depresi klasik, termasuk emotional suppression, penggunaan alkohol atau zat, kemarahan dan agresivitas, gejala somatik, serta risk-taking. Para peneliti juga menemukan hubungan antara skor gejala eksternal tersebut dengan tingkat konformitas terhadap norma maskulinitas dalam sampel penelitian.

Namun, temuan tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Skala tersebut merupakan alat penelitian dan skrining, bukan pengganti diagnosis klinis.

Tanda Depresi pada Pria yang Sering Terlewatkan

Mudah Marah

Lebih cepat tersinggung, sensitif terhadap kritik, mudah meledak, atau memiliki toleransi yang jauh lebih rendah terhadap frustrasi.

Menarik Diri

Mulai menghindari teman, keluarga, pasangan, atau aktivitas sosial yang sebelumnya biasa dilakukan.

Perilaku Berisiko

Mengemudi secara berbahaya, mengambil risiko yang tidak biasa, atau melakukan aktivitas impulsif untuk mengalihkan perasaan.

Penggunaan Alkohol

Minum lebih banyak atau menggunakan zat sebagai cara untuk meredakan tekanan, tidur, atau menghindari pikiran tertentu.

Keluhan Fisik

Sakit kepala, nyeri tubuh, gangguan pencernaan, gangguan tidur, atau keluhan fisik lain yang sulit dijelaskan.

Kehilangan Minat

Aktivitas yang dahulu menyenangkan tidak lagi memberikan kepuasan atau mulai ditinggalkan.

Harvard Health juga mencatat bahwa depresi pada pria kadang tersamarkan oleh kemarahan atau iritabilitas, keluhan fisik, penyalahgunaan alkohol, serta perilaku melarikan diri atau mengambil risiko.

Gejala Depresi yang Lebih Umum Tetap Perlu Diperhatikan

Walaupun pembahasan mengenai pola “eksternal” penting, bukan berarti pria tidak mengalami gejala depresi yang umum.

NIMH mencantumkan sejumlah gejala utama depresi, termasuk suasana hati sedih atau kosong yang menetap, rasa putus asa, kehilangan minat atau kesenangan, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, perubahan tidur, perubahan nafsu makan atau berat badan, rasa bersalah atau tidak berharga, serta pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Seorang pria dapat mengalami beberapa gejala tersebut sekaligus dengan perubahan perilaku yang lebih terlihat dari luar.

Misalnya, seseorang mungkin tidak mengatakan “Saya merasa putus asa”, tetapi mulai berhenti bertemu teman, bekerja terlalu lama, mudah marah di rumah, minum lebih banyak, dan kehilangan minat pada olahraga yang sebelumnya menjadi bagian penting hidupnya.

Perubahan dari pola dirinya yang biasa dapat menjadi petunjuk penting. Bukan satu perilaku tertentu yang menentukan depresi, melainkan pola perubahan yang menetap dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari.

Depresi Bisa Terlihat sebagai Kemarahan

Kemarahan merupakan salah satu gejala yang paling mudah disalahartikan.

Seseorang yang mengalami depresi mungkin menjadi jauh lebih mudah tersinggung daripada biasanya. Kritik kecil terasa sangat mengganggu. Kesalahan sederhana memicu reaksi yang lebih besar. Konflik di rumah atau tempat kerja menjadi semakin sering.

Namun, kemarahan bukan berarti selalu disebabkan oleh depresi.

Kemarahan dapat memiliki banyak penyebab, termasuk stres, masalah hubungan, gangguan tidur, penggunaan zat, kondisi medis, gangguan kecemasan, atau berbagai kondisi psikologis lainnya.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan pola dan konteksnya.

Jika seseorang yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi sangat mudah marah sekaligus kehilangan minat, sulit tidur, menarik diri, kehilangan energi, atau mulai menggunakan alkohol untuk mengatasi tekanan, perubahan tersebut layak diperhatikan secara lebih menyeluruh.

Ketika Tubuh Mengatakan Sesuatu yang Tidak Diucapkan

Depresi tidak hanya memengaruhi pikiran dan emosi. Gejalanya dapat muncul dalam tubuh.

Gangguan tidur merupakan salah satu contohnya. Seseorang dapat mengalami insomnia, sering terbangun, tidur terlalu lama, atau tetap merasa lelah meskipun sudah tidur.

Keluhan lain dapat berupa nyeri tubuh, sakit kepala, masalah pencernaan, perubahan nafsu makan, atau berkurangnya energi.

HelpGuide mencatat bahwa keluhan fisik seperti sakit punggung, sakit kepala, masalah tidur, gangguan seksual, dan gangguan pencernaan dapat menjadi tanda yang sering terlewatkan pada depresi pria.

Karena gejala fisik tersebut dapat memiliki banyak penyebab, evaluasi medis tetap penting. Depresi tidak boleh dijadikan penjelasan otomatis untuk semua keluhan tubuh.

Hubungan antara Depresi, Alkohol, dan Perilaku Berisiko

Salah satu pola yang membuat depresi pada pria lebih sulit dikenali adalah penggunaan perilaku tertentu sebagai cara menghadapi tekanan.

Alkohol mungkin digunakan untuk membuat pikiran lebih tenang. Aktivitas berisiko dapat memberikan sensasi sementara yang mengalihkan perhatian. Bekerja berlebihan dapat membuat seseorang tidak memiliki waktu untuk memikirkan apa yang sedang dirasakan.

Penelitian mengenai gejala eksternal pada pria memasukkan penggunaan alkohol atau zat, kemarahan, dan perilaku mengambil risiko sebagai domain yang relevan dalam memahami pola depresi pada sebagian pria.

Namun, hubungan tersebut tidak selalu satu arah.

Depresi dapat meningkatkan penggunaan alkohol, sementara penggunaan alkohol juga dapat memperburuk suasana hati, tidur, hubungan, dan kemampuan mengendalikan perilaku.

Tekanan Menghindar Konsekuensi Isolasi
Tekanan emosional dapat diikuti perilaku menghindar atau coping yang tidak sehat, yang kemudian dapat memperburuk masalah.

Apa yang Menyebabkan Depresi pada Pria?

Tidak ada satu penyebab tunggal depresi.

Depresi biasanya berkembang dari kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, pengalaman hidup, dan kondisi lingkungan. Faktor genetik dapat berperan. Begitu pula perubahan biologis, penyakit tertentu, trauma, kehilangan, tekanan pekerjaan, masalah hubungan, kesepian, atau perubahan besar dalam kehidupan.

HelpGuide menyebut beberapa faktor yang dapat meningkatkan kerentanan pria terhadap depresi, termasuk kesepian dan kurangnya dukungan sosial, kesulitan menghadapi stres, riwayat penyalahgunaan alkohol atau obat, trauma masa kanak-kanak, serta penuaan dalam kondisi terisolasi.

Yang penting, memiliki satu faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami depresi. Faktor risiko hanya menunjukkan kondisi yang dapat meningkatkan kerentanan.

Kesepian dan Hilangnya Dukungan Sosial

Hubungan sosial merupakan salah satu faktor penting dalam kesehatan mental.

Bagi sebagian pria, jaringan sosial dapat menyempit seiring bertambahnya usia. Waktu yang dahulu digunakan untuk bertemu teman dapat digantikan pekerjaan, keluarga, tanggung jawab finansial, atau aktivitas rutin.

Masalahnya muncul ketika seseorang mengalami tekanan tetapi tidak memiliki tempat yang aman untuk membicarakannya.

HelpGuide menyarankan membangun kembali koneksi sosial sebagai salah satu langkah penting dalam menghadapi depresi. Dukungan tidak harus selalu berbentuk percakapan mendalam. Kehadiran orang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi juga dapat menjadi titik awal.

Penelitian mengenai pengalaman pria dengan depresi juga menemukan bahwa sebagian pria menggunakan penghindaran, kemarahan, atau distraksi daripada mencari bantuan secara langsung.

Depresi dan Masalah Seksual

Masalah seksual merupakan aspek yang sering tidak dibicarakan ketika membahas depresi pada pria.

HelpGuide mencatat adanya hubungan dua arah antara depresi dan erectile dysfunction atau disfungsi ereksi. Masalah fungsi seksual dapat menjadi sumber tekanan psikologis, sementara depresi sendiri dapat meningkatkan risiko masalah seksual. Beberapa obat antidepresan juga dapat memiliki efek samping seksual.

Karena itu, masalah seksual tidak seharusnya langsung dipandang sebagai persoalan “kejantanan” atau kegagalan pribadi.

Masalah seksual merupakan persoalan kesehatan yang layak dibicarakan secara profesional.

Evaluasi juga penting karena disfungsi seksual dapat memiliki berbagai penyebab, termasuk kondisi medis, obat-obatan, stres, kecemasan, masalah hubungan, dan depresi.

Depresi dan Risiko Bunuh Diri pada Pria

Bagian ini penting karena depresi berat dapat berkaitan dengan pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Data CDC menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, angka bunuh diri pada pria secara konsisten jauh lebih tinggi daripada perempuan. Pada 2023, angka bunuh diri yang disesuaikan usia adalah 22,7 per 100.000 penduduk pada pria dibandingkan 5,9 per 100.000 pada perempuan—sekitar empat kali lebih tinggi.

22,7 vs 5,9 Pria memiliki angka bunuh diri sekitar empat kali lebih tinggi daripada perempuan di Amerika Serikat pada 2023, berdasarkan angka yang disesuaikan usia.

Angka tersebut merupakan data Amerika Serikat dan tidak dapat secara langsung digunakan untuk menggambarkan situasi Indonesia atau negara lain. Namun, data tersebut memperlihatkan mengapa pengenalan masalah kesehatan mental pada pria dan akses terhadap bantuan perlu menjadi perhatian serius.

Penelitian tentang depresi pada pria juga menunjukkan perhatian khusus terhadap gejala eksternal. Dalam sebuah studi validasi Male Depression Risk Scale versi pendek, pria yang menunjukkan kombinasi gejala depresi klasik dan gejala eksternal memiliki risiko lebih tinggi terhadap indikator suicidalitas dibandingkan kelompok dengan gejala depresi klasik saja. Temuan ini merupakan hasil penelitian skrining dan bukan berarti gejala tertentu dapat digunakan untuk mendiagnosis risiko bunuh diri secara mandiri.

Jika seseorang mengatakan ingin mati, merasa hidup tidak berarti, berbicara tentang bunuh diri, mencari cara untuk menyakiti diri, atau menunjukkan perubahan perilaku yang sangat mengkhawatirkan, jangan menganggapnya sekadar luapan emosi. Dengarkan dengan serius, jangan biarkan orang tersebut sendirian bila ada risiko segera, dan hubungi layanan darurat atau layanan krisis setempat.

Bagaimana Mengetahui Kapan Saatnya Mencari Bantuan?

Merasa sedih setelah kehilangan, mengalami stres pekerjaan, atau melewati masa sulit merupakan bagian dari kehidupan. Tidak setiap kesedihan berarti depresi.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika perubahan suasana hati, pikiran, tubuh, atau perilaku menjadi menetap dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Perubahan Suasana Hati

Merasa sedih, kosong, putus asa, sangat mudah marah, atau terus-menerus merasa tertekan.

Perubahan Aktivitas

Tidak lagi tertarik pada hobi, olahraga, teman, pekerjaan, atau aktivitas yang sebelumnya bermakna.

Perubahan Fungsi

Konsentrasi menurun, produktivitas turun, tidur terganggu, atau tanggung jawab sehari-hari mulai terbengkalai.

Jika pola tersebut berlangsung atau semakin berat, pemeriksaan oleh dokter atau profesional kesehatan mental dapat membantu menentukan apa yang sebenarnya terjadi.

Mengapa Banyak Pria Enggan Mencari Bantuan?

Mencari bantuan tidak selalu mudah.

Sebagian pria mungkin merasa bahwa mengakui masalah berarti kehilangan kendali. Ada pula yang menganggap mereka seharusnya dapat menyelesaikan semuanya sendiri.

Penelitian kualitatif terhadap pria dengan pengalaman depresi menemukan bahwa sebagian peserta menggambarkan kecenderungan untuk menghindari pembicaraan tentang masalah, menggunakan distraksi, atau mengekspresikan tekanan melalui kemarahan. Penelitian tersebut bersifat eksploratif dengan jumlah peserta yang kecil, tetapi memberikan gambaran mengenai bagaimana hambatan mencari bantuan dapat muncul dalam pengalaman pria.

Karena itu, pendekatan terhadap pria yang dicurigai mengalami depresi sebaiknya tidak selalu dimulai dengan pertanyaan yang sangat abstrak.

“Belakangan kamu kelihatannya jauh lebih mudah marah dan tidak menikmati hal-hal yang biasanya kamu suka. Aku khawatir. Bagaimana sebenarnya keadaanmu?”

Contoh pembuka percakapan yang berfokus pada perubahan yang terlihat, bukan memberikan label.

Pendekatan seperti ini tidak bermaksud mendiagnosis seseorang. Tujuannya adalah membuka ruang agar percakapan dapat dimulai.

Bagaimana Membantu Pria yang Mengalami Depresi?

Jika seorang pasangan, teman, saudara, atau ayah menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan, dukungan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: hadir dan mendengarkan.

HelpGuide menyarankan agar orang terdekat menunjukkan perubahan yang mereka lihat tanpa menghakimi, mendorong pemeriksaan kesehatan, menawarkan untuk menemani kunjungan pertama, dan memperhatikan komentar mengenai bunuh diri secara serius.

Dengarkan

Berikan ruang untuk berbicara tanpa langsung memberikan ceramah atau solusi.

Amati Perubahan

Sampaikan perubahan yang konkret, seperti tidur, pekerjaan, hubungan, alkohol, atau aktivitas sosial.

Tawarkan Bantuan

Bantu mencari dokter atau profesional kesehatan mental dan, bila diperlukan, tawarkan untuk menemani.

Yang perlu dihindari adalah kalimat seperti “jangan lemah”, “lupakan saja”, “kamu harus kuat”, atau “semua orang juga punya masalah”.

Kalimat seperti itu mungkin dimaksudkan untuk menyemangati, tetapi dapat membuat seseorang semakin enggan berbicara.

Dukungan bukan berarti menyelesaikan depresi orang lain. Peran orang terdekat adalah membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman untuk mencari pertolongan.

Pengobatan Depresi pada Pria

Depresi merupakan kondisi yang dapat ditangani. Pilihan penanganan bergantung pada tingkat keparahan, gejala, kondisi kesehatan, riwayat pengobatan, preferensi pasien, dan faktor lainnya.

Penanganan dapat mencakup psikoterapi, obat antidepresan, perubahan gaya hidup, atau kombinasi beberapa pendekatan.

NIMH menyatakan bahwa depresi dapat ditangani dan dokter layanan primer dapat menjadi salah satu tempat awal untuk mencari bantuan. Evaluasi profesional juga membantu memastikan apakah gejala yang dialami memang berkaitan dengan depresi atau memiliki penyebab lain.

HelpGuide juga menempatkan terapi dan, pada kondisi tertentu, pengobatan sebagai bagian dari pilihan penanganan.

Yang penting, seseorang tidak perlu menunggu sampai kondisinya sangat berat untuk mendapatkan bantuan.

Perubahan Gaya Hidup Dapat Menjadi Bagian dari Pemulihan

Perubahan gaya hidup bukan pengganti pengobatan profesional ketika depresi sudah membutuhkan penanganan klinis. Namun, beberapa kebiasaan dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan.

HelpGuide merekomendasikan perhatian terhadap tidur, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dukungan sosial, relaksasi, serta mengurangi pola pikir negatif yang tidak realistis.

Tidur Teratur

Bangun dan tidur pada jadwal yang relatif konsisten dapat membantu menjaga ritme harian.

Aktivitas Fisik

Mulai dari aktivitas yang realistis, seperti berjalan kaki, olahraga ringan, atau aktivitas fisik yang disukai.

Hubungan Sosial

Mempertahankan hubungan dengan orang yang aman dan suportif dapat mengurangi isolasi.

Untuk seseorang yang sedang mengalami depresi, langkah-langkah tersebut mungkin terasa terlalu sederhana. Bahkan bangun dari tempat tidur dapat menjadi tantangan.

Karena itu, targetnya tidak harus langsung besar.

Dalam pemulihan, konsistensi kecil sering lebih realistis daripada perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Menantang Pikiran Negatif

Depresi dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Kesalahan kecil dapat berubah menjadi kesimpulan “Saya gagal”. Penolakan dalam satu situasi dapat berubah menjadi “Tidak ada yang menyukai saya”. Masalah pekerjaan hari ini dapat terasa seperti bukti bahwa masa depan tidak akan pernah berubah.

HelpGuide menyebut pola seperti all-or-nothing thinking, overgeneralization, mental filter, jumping to conclusions, emotional reasoning, dan labeling sebagai bentuk cognitive distortions yang dapat memperkuat pola pikir negatif.

Pendekatan yang digunakan dalam terapi seperti cognitive behavioral therapy membantu seseorang memeriksa hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku serta mengembangkan cara berpikir yang lebih seimbang.

Pertanyaannya bukan “Bagaimana saya memaksa diri berpikir positif?”

Pertanyaannya dapat menjadi:

“Apa bukti bahwa pikiran ini benar? Apa bukti bahwa pikiran ini mungkin tidak sepenuhnya benar? Apakah ada penjelasan lain yang lebih seimbang?”

Contoh pertanyaan reflektif yang digunakan untuk memeriksa pola pikir negatif.

Depresi Tidak Mengurangi Nilai Seseorang

Mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Dukungan sosial dan profesional dapat menjadi bagian dari perjalanan pemulihan.

Depresi bukan ukuran kekuatan atau kelemahan seseorang.

Seorang pria dapat tetap menjadi ayah yang baik, pasangan yang penuh perhatian, profesional yang kompeten, teman yang dapat diandalkan, dan seseorang yang kuat sekaligus mengalami depresi.

Masalahnya bukan bahwa seseorang “kurang kuat”. Depresi dapat mengubah cara seseorang berpikir, merasa, tidur, bekerja, berhubungan dengan orang lain, dan melihat masa depan.

Karena itu, meminta bantuan tidak bertentangan dengan kemandirian.

Meminta bantuan adalah salah satu cara untuk mengambil kembali kendali ketika masalah sudah mulai mengendalikan kehidupan.

Yang Perlu Diingat tentang Depresi pada Pria

Tidak Selalu Terlihat Sedih

Depresi dapat muncul bersama iritabilitas, kemarahan, penarikan diri, masalah tidur, atau perubahan perilaku.

Bukan Diagnosis Terpisah

“Male depression” digunakan untuk membahas pola tertentu pada pria, tetapi bukan diagnosis klinis terpisah dari depresi.

Perlu Dilihat Secara Utuh

Gejala emosional, fisik, perilaku, hubungan, pekerjaan, penggunaan zat, dan perubahan fungsi perlu dipertimbangkan bersama.

Bantuan Tersedia

Terapi, obat-obatan pada kondisi tertentu, dukungan sosial, dan perubahan gaya hidup dapat menjadi bagian dari penanganan.

Jangan Abaikan Bunuh Diri

Pernyataan atau tanda yang berkaitan dengan bunuh diri harus dianggap serius dan membutuhkan respons segera.

Pemulihan Memungkinkan

Depresi dapat ditangani. Mendapatkan evaluasi dan bantuan lebih awal dapat menjadi langkah penting.

Kesimpulan

Depresi pada pria dapat terlihat berbeda dari gambaran depresi yang selama ini paling sering dikenal. Kesedihan dan kehilangan minat tetap merupakan gejala penting, tetapi sebagian pria juga dapat menunjukkan iritabilitas, kemarahan, menarik diri, penggunaan alkohol atau zat, keluhan fisik, kesulitan tidur, perilaku berisiko, atau penurunan fungsi di tempat kerja dan rumah.

Penelitian tentang “male depression” memberikan alasan untuk memperhatikan gejala eksternal tersebut, tetapi konsep tersebut tetap perlu dipahami secara hati-hati karena belum merupakan diagnosis depresi yang terpisah.

Yang paling penting adalah melihat perubahan secara menyeluruh. Jika seseorang mulai berbeda dari dirinya yang biasanya—lebih mudah marah, kehilangan minat, mengisolasi diri, tidur terganggu, menggunakan alkohol lebih banyak, tidak mampu berkonsentrasi, atau merasa hidup tidak lagi memiliki harapan—perubahan tersebut layak diperhatikan.

Depresi tidak harus disembunyikan sampai menjadi krisis. Berbicara dengan orang yang dipercaya, melakukan pemeriksaan kesehatan, atau mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah awal yang berarti.

Dan ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri atau mengakhiri hidup, persoalannya harus diperlakukan sebagai keadaan serius yang membutuhkan bantuan segera.

Pada akhirnya, memahami depresi pada pria bukan tentang membuat satu definisi baru mengenai bagaimana pria “seharusnya” mengalami depresi. Tujuannya adalah memperluas cara kita mengenali penderitaan psikologis sehingga seseorang tidak harus terlihat benar-benar hancur sebelum orang lain menyadari bahwa ia sedang membutuhkan bantuan.

Rujukan Utama dan Sumber Tepercaya

  • HelpGuide — Depression in Men: Signs, Symptoms, Causes, and Help for Male Depression.
  • National Institute of Mental Health (NIMH) — Men and Mental Health.
  • National Institute of Mental Health (NIMH) — Depression.
  • Harvard Health Publishing — Men: Don’t Ignore Signs of Depression.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Suicide Data and Statistics.
  • Rice, S. M., dkk. — Men’s Depression, Externalizing, and DSM-5-TR: Primary Signs and Symptoms or Co-occurring Symptoms?, Harvard Review of Psychiatry.
  • Rice, S. M., dkk. — Development and Preliminary Validation of the Male Depression Risk Scale.
  • Scholz, B., Crabb, S., & Wittert, G. — “Males Don’t Wanna Bring Anything Up To Their Doctor”: Men’s Discourses of Depression.
  • Review terbaru mengenai gender-sensitive depression scales yang membahas Gotland Male Depression Scale, Male Depression Risk Scale, dan instrumen terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *