Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Cara Berhenti Konsumsi Obat-obatan Anti Depresi, Kecemasan dan Stres: Memutus Siklus Coping yang Tidak Sehat Menurut Ahli

Kadang-kadang kita tidak benar-benar ingin mabuk, merokok, tidur seharian, atau minum obat tanpa resep. Kita hanya ingin berhenti merasa tidak nyaman untuk sementara. Masalahnya, cara yang memberi rasa lega paling cepat justru dapat membuat depresi, kecemasan, dan stres semakin sulit ditangani.

Ketika “Mencari Kelegaan” Berubah Menjadi Self-Medication

Bayangkan seseorang pulang setelah hari yang sangat berat. Kepalanya penuh dengan pekerjaan, hubungan yang bermasalah, tagihan, atau kekhawatiran tentang masa depan. Ia tidak ingin memikirkan semua itu malam ini.

Satu atau dua gelas alkohol terasa membantu. Pikiran menjadi lebih tenang. Tubuh terasa lebih rileks. Untuk beberapa jam, masalah seolah menjauh.

Atau seseorang yang merasa sangat cemas menggunakan obat tertentu tanpa pengawasan dokter karena pernah merasakan bahwa obat tersebut membuatnya lebih tenang. Orang lain mungkin merokok ketika stres, menggunakan cannabis untuk meredakan kecemasan, makan berlebihan ketika sedih, atau mengandalkan obat tertentu agar dapat tidur.

Pola tersebut dikenal sebagai self-medication atau self-medicating: menggunakan alkohol, narkotika, obat, atau perilaku tertentu untuk mengubah suasana hati atau meredakan gejala psikologis.

HelpGuide menjelaskan bahwa self-medication dapat terjadi ketika seseorang menggunakan alkohol atau obat untuk menghadapi depresi, kecemasan, stres, emosi yang menyakitkan, kenangan traumatis, atau situasi yang menimbulkan ketakutan. Kelegaan tersebut dapat terasa nyata dalam jangka pendek, tetapi penggunaan berulang dapat memperburuk masalah yang ingin diatasi.

Inilah bagian yang membuat self-medication berbahaya: yang terasa seperti solusi dapat perlahan berubah menjadi bagian dari masalah.

Self-medication sering dimulai dari keinginan sederhana: mengurangi rasa tidak nyaman secepat mungkin.

Mengapa Self-Medication Terasa Efektif?

Ada alasan mengapa seseorang mengulangi perilaku tersebut.

Ketika sebuah zat atau perilaku menghasilkan perubahan suasana hati yang cepat, otak dapat belajar bahwa tindakan tersebut merupakan cara untuk mendapatkan kelegaan. Kecemasan turun. Ketegangan berkurang. Pikiran menjadi lebih lambat. Kesedihan terasa lebih jauh.

Masalahnya, kelegaan jangka pendek tidak sama dengan penyelesaian masalah.

Depresi tetap ada. Sumber stres belum selesai. Kecemasan mungkin kembali ketika efek zat menghilang. Bahkan, pada beberapa kondisi, penggunaan zat dapat memperburuk gejala yang sebelumnya ingin diredakan.

National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism menjelaskan bahwa alkohol dapat memperburuk depresi dari waktu ke waktu. Penggunaan alkohol juga dapat mengganggu tidur dan berinteraksi dengan sejumlah obat, termasuk obat yang digunakan untuk kondisi kesehatan mental.

WHO juga menyebut adanya hubungan antara konsumsi alkohol dengan depresi, kecemasan, dan gangguan penggunaan alkohol. Namun, hubungan tersebut kompleks dan tidak berarti bahwa setiap orang yang mengonsumsi alkohol akan mengalami gangguan mental.

Self-Medication Dapat Membentuk Siklus yang Sulit Diputus

Pola yang sering terjadi dapat digambarkan secara sederhana.

1. Muncul Tekanan

Stres, kecemasan, kesedihan, kesepian, trauma, atau tekanan kehidupan membuat seseorang merasa tidak nyaman.

2. Mencari Kelegaan

Seseorang menggunakan alkohol, obat, rokok, cannabis, makanan, atau perilaku tertentu untuk mengubah perasaannya.

3. Merasa Lebih Baik

Ketegangan atau emosi terasa berkurang untuk sementara sehingga perilaku tersebut dianggap berhasil.

4. Efek Menghilang

Ketika efeknya berkurang, kecemasan, stres, gangguan tidur, atau emosi negatif dapat kembali.

5. Masalah Bertambah

Muncul masalah kesehatan, hubungan, pekerjaan, finansial, atau ketergantungan terhadap zat.

6. Mengulanginya Lagi

Karena masalah terasa semakin berat, seseorang kembali mencari kelegaan dengan cara yang sama.

Inilah yang disebut sebagai self-medication cycle.

Penelitian longitudinal terhadap lebih dari 34.000 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa self-medication terhadap gejala kecemasan dengan alkohol atau obat dikaitkan dengan peningkatan risiko munculnya gangguan penggunaan zat di kemudian hari.

Penelitian lain terhadap individu dengan gangguan kecemasan menemukan bahwa mereka yang menggunakan alkohol untuk mengendalikan gejala kecemasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami ketergantungan alkohol pada masa tindak lanjut.

Seberapa Umum Self-Medication?

Self-medication bukan fenomena yang hanya terjadi pada orang dengan kecanduan berat.

Sebuah tinjauan literatur mengenai self-medication dengan alkohol atau obat pada gangguan mood dan kecemasan menemukan bahwa prevalensinya di antara individu dengan gangguan mood atau kecemasan berada sekitar 21,9% hingga 24,1% dalam studi-studi yang ditinjau. Penulis juga menemukan bukti longitudinal yang mendukung hubungan antara self-medication dan perkembangan gangguan penggunaan zat.

21,9%–24,1% Kisaran prevalensi self-medication dengan alkohol dan/atau obat pada individu dengan gangguan mood atau kecemasan dalam sebuah narrative review epidemiologis.

Angka tersebut bukan berarti satu dari empat orang secara umum melakukan self-medication. Populasi yang diteliti adalah orang dengan gangguan mood atau kecemasan, dan hasilnya berasal dari berbagai penelitian dengan metode berbeda.

Pesannya adalah bahwa self-medication merupakan pola yang cukup relevan untuk diperhatikan ketika membahas hubungan antara kesehatan mental dan penggunaan zat.

Tanda-Tanda Bahwa Anda Mungkin Sedang Self-Medicating

Salah satu cara paling penting untuk mengenali self-medication adalah melihat motif di balik penggunaan, bukan hanya jenis zat atau seberapa sering penggunaannya.

Minum alkohol saat makan malam tidak otomatis berarti self-medication. Menggunakan obat yang diresepkan dokter sesuai petunjuk juga bukan self-medication.

Pertanyaannya adalah: “Apa yang sebenarnya sedang saya coba ubah ketika saya melakukan ini?”

“Saya Butuh Ini untuk Tenang”

Anda merasa sulit menghadapi situasi tertentu tanpa alkohol, obat, rokok, atau zat tertentu.

“Saya Butuh Ini untuk Tidur”

Anda mulai mengandalkan zat atau obat tertentu sebagai syarat agar dapat tertidur.

“Saya Butuh Ini untuk Berani”

Anda menggunakan sesuatu sebelum menghadapi situasi sosial, pekerjaan, atau keadaan yang memicu kecemasan.

Dosis atau Jumlah Bertambah

Jumlah yang dahulu cukup untuk mendapatkan efek tertentu tidak lagi terasa cukup.

Mulai Khawatir Jika Tidak Punya

Anda merasa gelisah ketika persediaan habis atau ketika mengetahui Anda tidak dapat mengaksesnya.

Orang Terdekat Mulai Khawatir

Pasangan, keluarga, atau teman mulai memperhatikan perubahan perilaku atau penggunaan Anda.

HelpGuide juga mencantumkan beberapa tanda seperti menggunakan alkohol atau obat ketika merasa cemas, stres, atau depresi; membutuhkan jumlah lebih banyak untuk mendapatkan efek yang sama; masalah hidup yang semakin bertambah; serta merasa khawatir ketika tidak memiliki akses terhadap zat yang digunakan.

Self-Medication Tidak Sama dengan Pengobatan Mandiri yang Aman

Istilah self-medication kadang membingungkan karena seseorang memang dapat melakukan langkah mandiri yang sehat untuk menjaga kesehatan mental.

Berjalan kaki, melakukan latihan pernapasan, menulis jurnal, berbicara dengan teman, tidur cukup, atau melakukan meditasi merupakan bentuk self-care yang berbeda dari menggunakan zat untuk mengubah kondisi psikologis.

Demikian pula, penggunaan obat yang diresepkan dokter sesuai dosis dan petunjuk bukan self-medication dalam pengertian yang dibahas dalam artikel ini.

Masalah muncul ketika seseorang menggunakan zat atau obat berdasarkan kebutuhan emosionalnya sendiri tanpa evaluasi dan pengawasan yang memadai.

Risikonya semakin besar jika obat tersebut memiliki potensi ketergantungan, digunakan bersama alkohol, digunakan melebihi dosis, atau diperoleh tanpa resep.

Bahaya Menggabungkan Alkohol dengan Obat Tertentu

Salah satu risiko yang sering diremehkan adalah interaksi antara alkohol dan obat.

NIAAA memperingatkan bahwa alkohol dapat berinteraksi dengan berbagai obat. Kombinasi alkohol dengan obat penenang tertentu, obat kecemasan, opioid, dan beberapa obat lain dapat meningkatkan risiko efek samping serius.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya menganggap bahwa “sedikit alkohol” selalu aman hanya karena obat tersebut diresepkan dokter.

Jangan menghentikan, mengganti, atau menaikkan dosis obat psikiatri atau obat lain secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter. Risiko penghentian mendadak berbeda-beda tergantung jenis obat, dosis, lama penggunaan, dan kondisi seseorang.

Langkah Pertama: Jangan Hanya Menghentikan Zatnya, Cari Tahu Fungsinya

Jika seseorang menggunakan alkohol untuk tidur, sekadar mengatakan “berhenti minum” belum tentu menyelesaikan persoalan tidur.

Jika seseorang menggunakan cannabis untuk menghadapi kecemasan sosial, menghentikan cannabis tanpa mencari strategi lain untuk menghadapi situasi sosial juga dapat membuat kecemasan terasa kembali.

Jika seseorang makan berlebihan ketika mengalami kesepian, menghilangkan makanan tersebut tanpa menghadirkan sumber koneksi sosial baru mungkin tidak menyentuh masalah utama.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apa fungsi perilaku ini bagi saya?”

“Perasaan apa yang sedang saya coba hindari?”

“Apa yang saya dapatkan beberapa menit setelah melakukannya?”

“Apa yang terjadi beberapa jam kemudian?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu menemukan kebutuhan yang sebenarnya sedang dicari: ketenangan, tidur, keberanian, energi, pelarian, rasa diterima, atau sekadar jeda dari pikiran yang melelahkan.

Catat Pola: Kapan, Mengapa, dan Apa yang Terjadi Setelahnya?

HelpGuide menyarankan membuat catatan mengenai penggunaan zat dan kondisi emosional untuk mengenali pola. Catatan sederhana dapat membantu seseorang melihat hubungan antara pemicu, penggunaan, dan akibatnya.

Tidak perlu membuat jurnal yang rumit.

Sebelum

Apa yang terjadi? Apa yang saya rasakan? Misalnya cemas, bosan, marah, sedih, kesepian, atau kewalahan.

Saat Melakukan

Apa yang saya gunakan atau lakukan? Apa tujuan saya? Ingin tenang, tidur, melupakan masalah, atau merasa lebih percaya diri?

Sesudah

Apa yang terjadi 30 menit, beberapa jam, atau keesokan harinya? Apakah masalah benar-benar membaik?

Setelah beberapa minggu, pola yang sebelumnya tidak terlihat dapat menjadi lebih jelas.

Mungkin penggunaan selalu muncul setelah rapat dengan atasan. Mungkin terjadi setiap kali pulang ke rumah dalam keadaan sendirian. Mungkin selalu muncul menjelang tidur. Atau mungkin terjadi setelah konflik dengan pasangan.

Menemukan pemicu adalah langkah penting karena pemicu dapat ditangani secara langsung.

Ganti Fungsi, Bukan Sekadar Menghilangkan Kebiasaan

Jika suatu perilaku memiliki fungsi tertentu, penggantinya perlu memberikan fungsi yang masuk akal.

Untuk Menenangkan Diri

Coba latihan pernapasan perlahan, relaksasi otot, berjalan santai, mandi hangat, atau aktivitas yang menurunkan stimulasi.

Untuk Menghadapi Kecemasan

Gunakan strategi grounding, mindfulness, persiapan bertahap, atau terapi yang sesuai dengan jenis kecemasan.

Untuk Mengatasi Kesepian

Hubungi orang yang aman, bergabung dalam aktivitas sosial, komunitas, olahraga, atau kelompok dukungan.

Untuk Tidur

Bangun rutinitas menjelang tidur, kurangi stimulasi malam hari, dan evaluasi penyebab gangguan tidur bila menetap.

Untuk Mengatasi Stres

Pecah masalah menjadi langkah kecil, beristirahat secara terencana, bergerak secara fisik, dan mencari dukungan.

Untuk Menghindari Pikiran

Belajar menghadapi emosi secara bertahap melalui journaling, terapi, mindfulness, atau percakapan yang aman.

SAMHSA merekomendasikan sejumlah langkah sederhana untuk menghadapi masalah kesehatan mental dan penggunaan zat, termasuk tidur yang cukup, aktivitas fisik, latihan pernapasan, menulis atau menggambar perasaan, menjaga rutinitas, dan terhubung dengan orang yang dapat memberikan dukungan.

Depresi, Kecemasan, dan Stres Membutuhkan Pendekatan yang Berbeda

Tidak semua rasa tidak nyaman memiliki penyebab yang sama.

Depresi dapat melibatkan kehilangan minat, energi rendah, perasaan tidak berharga, dan pandangan negatif terhadap masa depan. Kecemasan dapat ditandai oleh kekhawatiran berlebihan, ketakutan, ketegangan, atau gejala fisik. Stres sering berkaitan dengan tuntutan atau tekanan tertentu dalam kehidupan, meskipun stres kronis dapat berdampak luas terhadap kesehatan.

Karena itu, strategi untuk mengatasinya juga tidak selalu sama.

WHO menyatakan bahwa gangguan kecemasan dapat ditangani dan beberapa pendekatan psikologis, termasuk terapi berbasis paparan, dapat membantu. WHO juga menyarankan mengurangi alkohol dan menghindari obat terlarang karena keduanya dapat memperburuk kecemasan.

Artinya, mengganti self-medication dengan pendekatan yang berbasis bukti bukan berarti sekadar “berpikir positif”. Ada berbagai bentuk intervensi psikologis dan medis yang dapat disesuaikan dengan kondisi seseorang.

Tujuan pemulihan bukan sekadar menghilangkan satu kebiasaan, tetapi membangun cara baru untuk memenuhi kebutuhan emosional yang sebelumnya dicari melalui self-medication.

Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan Profesional?

Self-medication tidak selalu berarti seseorang sudah mengalami gangguan penggunaan zat. Namun, pola tersebut patut mendapat perhatian ketika mulai sulit dikendalikan atau menimbulkan konsekuensi.

Beberapa tanda yang perlu menjadi alasan untuk mencari bantuan antara lain:

Sulit Berhenti

Anda sudah ingin mengurangi penggunaan tetapi berkali-kali gagal atau merasa tidak mampu mengendalikan penggunaannya.

Masalah Semakin Banyak

Penggunaan mulai mengganggu pekerjaan, studi, hubungan, kesehatan, atau kondisi finansial.

Gejala Mental Menetap

Depresi, kecemasan, stres berat, gangguan tidur, atau gejala lain tetap berlangsung atau semakin berat.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan gangguan kecemasan yang melakukan self-medication memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan penggunaan zat.

Jika kedua persoalan sudah muncul sekaligus, pendekatan yang hanya menangani penggunaan zat tanpa memperhatikan masalah mental yang mendasarinya dapat menjadi kurang memadai.

SAMHSA menyebut bahwa kesehatan mental dan penggunaan zat memiliki hubungan erat, dan seseorang dapat mengalami keduanya pada saat yang sama. Faktor seperti stres, trauma, genetika, dan perubahan kimia otak dapat berperan dalam hubungan tersebut.

Dual Diagnosis: Ketika Dua Masalah Harus Ditangani Bersamaan

Ketika seseorang mengalami kondisi kesehatan mental sekaligus gangguan penggunaan zat, istilah yang sering digunakan adalah co-occurring disorders atau dual diagnosis.

Contohnya adalah seseorang dengan depresi yang juga mengalami alcohol use disorder, atau seseorang dengan gangguan kecemasan yang mengalami ketergantungan terhadap zat tertentu.

Dalam kondisi seperti ini, menghentikan zat tanpa menangani depresi atau kecemasan dapat membuat orang tersebut kembali mencari cara lama untuk menghadapi emosinya.

Sebaliknya, menangani depresi tanpa memperhatikan penggunaan zat juga dapat membuat proses pemulihan menjadi lebih kompleks.

Review epidemiologis mengenai self-medication pada gangguan mood dan kecemasan menyimpulkan bahwa penanganan secara bersamaan terhadap masalah mental dan penggunaan zat merupakan pendekatan penting dalam kondisi komorbid.

Jangan Menghentikan Alkohol atau Obat Tertentu Secara Mendadak Tanpa Pertimbangan Medis

Ada satu hal yang sangat penting dalam membahas “berhenti self-medicating”: tidak semua zat aman untuk dihentikan secara mendadak.

Seseorang yang sudah menggunakan alkohol dalam jumlah besar dan secara rutin dapat mengalami gejala withdrawal yang serius ketika berhenti secara tiba-tiba. Demikian pula, beberapa obat yang bekerja pada sistem saraf pusat dapat membutuhkan pengurangan dosis secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis.

Karena itu, “berhenti” tidak selalu berarti berhenti mendadak sendirian di rumah.

Jika terdapat penggunaan alkohol berat, obat penenang, opioid, atau zat lain yang telah digunakan secara rutin, evaluasi medis dapat diperlukan untuk menentukan cara penghentian yang aman.

NIAAA menjelaskan bahwa withdrawal alkohol dapat membutuhkan penanganan medis dan bahwa beberapa obat dapat digunakan dalam terapi gangguan penggunaan alkohol.

Bagaimana Membantu Orang yang Sedang Self-Medicating?

Jika yang mengalami masalah adalah pasangan, teman, orang tua, saudara, atau rekan kerja, pendekatan yang menghakimi biasanya tidak membantu.

HelpGuide menyarankan berbicara ketika orang tersebut dalam kondisi sadar dan relatif tenang, menyampaikan kekhawatiran berdasarkan perubahan yang terlihat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mendorong pemeriksaan profesional.

“Aku tidak ingin menghakimi kamu. Aku hanya melihat akhir-akhir ini kamu kelihatannya semakin berat menjalani semuanya. Aku khawatir dan ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan bersama.”

Kalimat seperti ini membuka percakapan tanpa langsung memberikan label seperti “pecandu”, “lemah”, atau “tidak punya kontrol diri”.

Namun, dukungan juga membutuhkan batasan.

Anda tidak harus menyediakan uang untuk membeli alkohol atau zat, menutupi masalah di tempat kerja, berbohong kepada anggota keluarga lain, atau menerima perilaku yang membahayakan diri sendiri.

Mendukung seseorang tidak berarti harus ikut menanggung seluruh konsekuensi dari perilakunya.

Yang Perlu Dihindari Ketika Mencoba Berhenti

Jangan Mengandalkan Kemauan Saja

Self-medication dapat berkaitan dengan kondisi mental dan gangguan penggunaan zat. Jika sudah sulit dikendalikan, bantuan profesional dapat diperlukan.

Jangan Mengganti dengan Zat Lain

Menghentikan satu zat tetapi menggantinya dengan alkohol, obat, atau zat lain dapat mempertahankan pola yang sama.

Jangan Mengabaikan Penyebab

Jika akar masalahnya adalah depresi, kecemasan, trauma, atau stres kronis, masalah tersebut juga perlu ditangani.

Tujuannya bukan sekadar membuat seseorang “tidak menggunakan sesuatu”. Tujuannya adalah membantu seseorang memiliki cara yang lebih aman dan efektif untuk menghadapi kehidupan tanpa harus terus-menerus melarikan diri dari emosinya.

Self-Care yang Bisa Menjadi Alternatif Awal

Langkah mandiri tidak menggantikan terapi atau pengobatan ketika kondisi sudah berat, tetapi dapat menjadi bagian dari perubahan.

Gerakkan Tubuh

Berjalan, melakukan olahraga ringan, atau aktivitas fisik yang disukai dapat menjadi cara untuk memutus siklus pikiran negatif dan ketegangan.

Bangun Rutinitas Tidur

Jadwal tidur dan bangun yang lebih konsisten dapat membantu memperbaiki pola harian dan kesehatan tidur.

Hubungi Orang Lain

Berbicara dengan orang yang aman dan suportif dapat mengurangi kecenderungan menghadapi semua masalah sendirian.

SAMHSA merekomendasikan tidur yang cukup, aktivitas fisik, latihan pernapasan, menjaga rutinitas, menulis atau menggambar perasaan, melakukan aktivitas yang diminati, dan mencari dukungan sosial sebagai beberapa langkah yang dapat membantu menghadapi masalah kesehatan mental dan penggunaan zat.

Tujuan Akhirnya Bukan Sekadar “Berhenti”

Kalimat “Saya harus berhenti minum” atau “Saya harus berhenti menggunakan obat ini” memang dapat menjadi awal yang penting.

Tetapi perubahan yang lebih mendalam membutuhkan pertanyaan berikutnya:

“Kalau saya tidak lagi menggunakan cara lama ini untuk merasa lebih baik, bagaimana saya akan menghadapi perasaan tersebut?”

Di sinilah proses pemulihan sebenarnya dimulai.

Seseorang belajar mengenali kecemasan sebelum kecemasan menjadi sangat besar. Belajar menghadapi kesedihan tanpa langsung menekannya. Belajar beristirahat tanpa harus menggunakan zat. Belajar mengatakan kepada orang lain bahwa dirinya sedang kewalahan. Belajar menyelesaikan masalah satu per satu.

Dan jika masalahnya terlalu berat untuk dilakukan sendiri, seseorang belajar mencari bantuan.

Pemulihan berarti membangun cara baru untuk menghadapi tekanan, bukan sekadar menghilangkan satu perilaku.

Kesimpulan

Self-medication sering berawal dari kebutuhan yang sangat manusiawi: seseorang ingin merasa lebih baik.

Masalahnya bukan pada keinginan untuk mendapatkan kelegaan. Masalah muncul ketika alkohol, obat, narkotika, rokok, atau perilaku tertentu menjadi satu-satunya cara yang dirasakan mampu membuat seseorang menghadapi depresi, kecemasan, stres, kesepian, atau emosi yang menyakitkan.

Bukti penelitian menunjukkan bahwa self-medication dengan alkohol atau obat berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap gangguan penggunaan zat, terutama pada orang yang mengalami gangguan kecemasan atau mood.

Karena itu, langkah untuk berhenti sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “Bagaimana saya mengurangi penggunaan zat?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Masalah apa yang sedang saya coba obati dengan cara ini?”

Jawabannya mungkin depresi. Mungkin kecemasan. Mungkin stres kronis. Mungkin trauma yang belum terselesaikan. Mungkin kesepian. Atau mungkin beberapa masalah sekaligus.

Setelah masalah tersebut dikenali, seseorang dapat mulai membangun alternatif yang lebih sehat: dukungan sosial, aktivitas fisik, tidur yang lebih baik, teknik relaksasi, perubahan rutinitas, terapi psikologis, atau pengobatan yang diberikan dan dipantau oleh profesional.

Dan jika penggunaan alkohol atau zat sudah sulit dikendalikan, mencari bantuan bukan berarti gagal mengatasi masalah sendiri. Justru itulah langkah untuk mendapatkan cara yang lebih aman dalam menghadapinya.

Self-medication memberi kelegaan yang cepat. Pemulihan mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Tetapi tujuan pemulihan bukan hanya merasa lebih baik selama beberapa jam. Tujuannya adalah mampu menghadapi kehidupan tanpa harus terus-menerus melarikan diri dari apa yang sedang dirasakan.

Jika seseorang mengalami pikiran untuk bunuh diri, merasa tidak mampu menjaga keselamatan dirinya, mengalami overdosis, atau menunjukkan kondisi medis darurat setelah menggunakan alkohol atau zat, cari bantuan darurat medis segera. Jangan menghadapi situasi darurat tersebut sendirian.

Sumber Utama dan Referensi Tepercaya

  • HelpGuide — How to Stop Self-Medicating Depression, Anxiety, and Stress.
  • Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA) — Substance Use and Mental Health.
  • SAMHSA — How to Cope With Mental Health, Drug, and Alcohol Issues.
  • World Health Organization — Alcohol.
  • World Health Organization — Anxiety Disorders.
  • National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA) — Alcohol-Medication Interactions.
  • National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism — Alcohol Use Disorder and Common Co-occurring Conditions.
  • PubMed — Self-medication with alcohol or drugs for mood and anxiety disorders: narrative review.
  • PubMed — Role of self-medication in the development of comorbid anxiety and substance use disorders.
  • PubMed — Reports of drinking to self-medicate anxiety symptoms and subsequent alcohol dependence.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *