Telapak tangan berkeringat dan lutut gemetar adalah hal biasa ketika berbicara atau tampil di depan sekelompok orang. Banyak yang bisa dipertaruhkan pada saat tampil atau berbicara di depan sekolompok orang, karena pertunjukan publik yang baik dapat memajukan karir seseorang. Namun, ketakutan dapat membuat siapa pun mengalami peningkatan detak jantung dan pikiran yang tiba – tiba kosong.
Demam panggung dapat terjadi bahkan kepada seseorang yang memiliki pengalaman profesional, contohnya penyanyi besar, Adele. Ketakutan ekstrim dalam berbicara di depan umum adalah subtipe gangguan kecemasan sosial. Di Amerika terdapat sekitar 7 persen dari populasi orang dewasa Amerika menderita kondisi tersebut.
Apakah demam panggung adalah fobia?
Demam panggung dapat menghancurkan baik secara profesional maupun pribadi, tetapi itu tidak dianggap sebagai sepenuhnya fobia. Namun, ketakutan ekstrim berbicara di depan umum adalah fobia yang disebut glossophobia. Glossophobia adalah bagian dari fobia sosial atau takut akan situasi sosial di mana seseorang diawasi atau dinilai oleh orang lain.
Apa yang terjadi selama demam panggung?
Seseorang yang mengalami demam panggung, mereka mungkin merasa merasa tegang, gelisah, atau pusing; Tangan atau suara mereka bisa bergetar. Jantung mereka mungkin berdebar lebih cepat, dan mereka mungkin berkeringat lebih banyak. Mereka mungkin mengalami gejala gastrointestinal, seperti mual dan sakit perut, dengan jenis kecemasan sosial yang umum ini.
Apa yang menyebabkan demam panggung?
Rasa takut berbicara atau tampil di depan umum sering didorong oleh rasa malu atau khawatir tentang bagaimana seseorang akan dirasakan dan dinilai oleh orang lain. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk seberapa baik seseorang tahu materi mereka, banyaknya audiens atau penonton, apakah anggota audiens adalah teman dan keluarga atau orang asing, dll. Secara rinci terdapat beberapa aspek yang dapat menyebabkan demam panggung:
- Fisiologi: Ketakutan dan kecemasan melibatkan gairah sistem saraf otonom dalam menanggapi stimulus yang berpotensi mengancam. Ketika dihadapkan dengan ancaman, tubuh kita bersiap untuk menghadapi. Hiperarousal ini mengarah pada pengalaman emosional ketakutan, dan itu mengganggu kemampuan kita untuk tampil nyaman di depan penonton. Akhirnya, itu mencegah orang mengejar peluang untuk berbicara di depan umum.
- Pikiran: Faktor lain melibatkan keyakinan orang tentang berbicara di depan umum dan tentang diri mereka sebagai pembicara. Ketakutan sering muncul ketika orang melebih – lebihkan taruhannya mengkomunikasikan ide – ide mereka di depan orang lain, melihat acara berbicara sebagai ancaman potensial terhadap kredibilitas, citra, dan kesempatan mereka untuk menjangkau audiens. Pandangan negatif tentang diri sendiri sebagai pembicara (saya tidak pandai berbicara di depan orang banyak, saya bukan pembicara publik yang baik, saya membosankan, dll) juga dapat meningkatkan kecemasan dan menambah rasa takut berbicara di depan umum. Beberapa teori membuat perbedaan antara orientasi kinerja dan orientasi komunikasi. Orientasi kinerja seseorang memandang berbicara di depan umum sebagai sesuatu yang membutuhkan keterampilan khusus, dan seseorang melihat peran audiens sebagai juri yang menilai seberapa baik seseorang sebagai presenter. Sebaliknya, orientasi komunikasi berarti bahwa fokus utamanya adalah mengekspresikan ide – ide yang dimiliki, menyajikan informasi, atau menceritakan kisah/atau materi. Bagi orang – orang dengan orientasi ini, tujuannya adalah untuk menyampaikan kepada audiens mereka dengan cara yang sama seperti yang mereka sampaikan kepada orang – orang selama percakapan sehari-hari.
- Situasi: Meskipun ada orang yang secara alami cenderung lebih cemas, atau orang yang merasa tidak pandai berbicara di depan umum, ada situasi tertentu yang cenderung membuat sebagian besar dari kita lebih cemas saat melakukan presentasi di forum publik.
- Kurang pengalaman: Seperti hal lainnya, pengalaman membangun kepercayaan diri. Ketika pembicara tidak memiliki banyak waktu untuk tampil di panggung, pembicara cenderung mengalami ketakutan berbicara di depan umum.
- Perbedaan status: Jika pembicara akan berbicara di depan orang-orang dengan status yang lebih tinggi (misalnya, orang-orang di tempat kerja dengan posisi yang lebih tinggi, atau kelompok profesional yang cakap di bidang pekerjaan pembicara), pembicara mungkin merasakan rasa takut yang lebih tinggi di sekujur tubuhnya.
- Ide baru: Jika pembicara berbagi ide yang belum bagikan di depan umum sebelumnya, pembicara mungkin lebih khawatir tentang bagaimana orang akan menerimanya.Audiens baru: Pembicara mungkin sudah memiliki pengalaman berbicara di depan umum dan presentasi kepada audiens yang sudah dikenal. Pembicara mungkin, misalnya, terbiasa berbicara di depan para profesional di bidang keahlian pembicara. Namun, ketakutan mungkin muncul ketika target audiens bergeser. Jika pembicara berdiri di depan audiens yang sangat berbeda dari orang yang biasanya pembicara ajak bicara, kepercayaan diri pembicara mungkin sedikit goyah.
- Keterampilan (skill): rasa takut berbicara di depan umum adalah seberapa terampil pembicara dalam bidang ini. Peningkatan kompetensi mengarah pada peningkatan kepercayaan diri, yang merupakan penangkal rasa takut yang efektif.
Mengapa orang struggle dengan berbicara di depan umum?
Ketika individu takut berbicara di depan umum, ketakutan mereka membangkitkan sistem saraf otonom, memicu reaksi fight-flight-or-freeze. Selain itu, keyakinan negatif tentang berbicara di depan umum dan pikiran negatif tentang diri sendiri sebagai pembicara dapat menyebabkan kinerja yang buruk. Faktor situasional, seperti lokasi baru atau audiens yang berbeda juga bisa merugikan. Dan kenyakinan pembicara pada tingkat keterampilannya dapat memainkan peran kunci seberapa baik kinerja mereka saat berbicara di depan umum.
Apakah ketakutan berbicara di depan umum itu wajar dan sering terjadi?
Ya, ketakutan berbicara didepan umum hal yang umum dan sering terjadi. Sekitar 1 dari 4 orang melaporkan merasa cemas karena harus mempresentasikan ide mereka di depan audiens. Namun, ada banyak teknik yang dapat membantu orang mengatasi ketakutan mereka berbicara di depan umum.
Apakah demam panggung adalah bentuk kecemasan?
Demam panggung, juga dikenal sebagai kecemasan kinerja, umumnya dianggap sebagai subtipe kecemasan sosial, karena melibatkan ketakutan akan situasi sosial. Namun, orang yang memiliki demam panggung tidak selalu memiliki masalah dengan jenis kecemasan sosial umum lainnya, seperti bertemu orang baru atau makan di depan umum.
Cara mengatasi demam panggung
Ada beberapa tips praktis untuk mengatasi kecemasan yang terkait dengan demam panggung yaitu memiliki pegangan yang kuat seperti menguasai materi yang akan disampaikan dan memahami situasi yang akan dihadapi; latihan berbicara dapat membantu mengatasi demam panggung, seperti berlatih berbicara di depan cermin atau teman; Mempersiapkan kemungkinan hal yang akan terjadi, seperti pentingnya untuk mempersiapkan pertanyaan yang mungkin saja ditanyakan oleh audiens; Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, dan yoga juga dapat menenangkan pikiran sebelum melakukan pembicaraan di depan audiens. Dengan adanya perawatan yang tepat, seseorang dapat mengatasi demam panggung dan unggul dalam berbagai pertunjukan publik.
Bagaimana seseorang bisa bersantai atau tidak mengalami demam panggung sebelum naik ke atas panggung/berbicara didepan audiens?
Seseorang akan tidak mengalami demam panggung sebelum berbicara didepan audien, dengan cara mencari tahu siapa audiens saat menjadi pembicara dan apa yang audiens inginkan saat menjadi pembicara. Memiliki materi yang pembicara tahu memberikan nilai tambah untuk mengatasi demam panggung, karema akan membantu membangun kepercayaan diri pembicara dan mengurangi rasa takut saat berbicara di depan umum. Identifikasi apa yang secara khusus membuat pembicara takut tentang kinerja yang akan datang dan mencara solusi untuk itu.
Bagaimana pembicara tetap tenang selama presentasi?
Saat pembicaraan di depan audiens berlangusng, diperlukan kecerdasan emosional yang dapat membantu pembicara mengelola kecemasan berbicara di depan umum. Hal tersebut dapat dilakukan yang pertama adalah mengakui bahwa ketakutan itu adalah emosional, tidak rasional (Anda telah berlatih dan siap, dan Anda siap untuk hadir). Gunakan self – talk dan jiwa positif sebelum melakukan pembicara, misalnya dengan mendengarkan musik atau bermeditasi, serta rileks.
Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa demam panggung dapat terjadi oleh siapa saja, dan dapat di atas melalui:
- Memposisi diri tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi fokus kepada audience.
Karenasangat fokus untuk mendapatkan segalanya dengan benar di dalam diri pembicara, mungkin juga pada menenangkan kecemasan diri sendiri. Menyebabkan pembicara tidak dapat memahami audiens yang dimana hal tersebut sangat penting untuk berbicara di depan umum. Secara spesifik seperti: sebelum berbicara di atas panggung, harus memikirkan audiens jika mendengarkan materi yang akan disampaikan (Apa yang mereka ketahui tentang topik saya? Di mana saya kemudian harus mulai dalam menyampaikan materi? Dan bagaimana dan apa yang saya katakan ketika terdapat pertantaan untuk memecahkan masalah mereka? Atau membantu menjawab pertanyaan mereka? Atau memberikan sesuatu yang berguna bagi mereka?). Hal tersebutlah, harus menjadi fokus pendorong saat melakukan pembicaan di depan audiens yang dimana hal yang sampaikan dengan cara yang benar – benar memberikan nilai kepada audiens dan dengan cara yang dapat mereka pahami dan hargai dengan mudah.
- Dapatkan umpan balik (feedback) yang jujur dan pastikan bersedia menerima feedback
Berbicara di depan umum adalah keterampilan — dan seperti keterampilan apa pun, pembicara perlu berlatih dan mendapatkan umpan balik untuk ditingkatkan. Jadi, terutama sebagai pembicara yang baru memulai, itu merupakan kunci untuk menemukan cara untuk berlatih di depan audiens, bahkan audiens kecil, dan untuk mendapatkan umpan balik, baik tentang konten/materi bagikan dan juga tentang pembicara sebagai presenter. Dalam hal konten: Pembicara ingin memastikan audiens menerima apa yang pembicara coba berikan. Apakah mereka memahami pesan dan kerangka kerja pembicara? Apakah mereka mendapatkan dua atau tiga poin penting yang benar – benar pembicara inginkan? Dan kemudian, dalam hal gaya sebagai presenter: Apakah pembicara terlibat? Apakah pembicara menjaga perhatian penonton? Dapatkah pembicara membawa unsur-unsur kepribadian pembicara ke dalam situasi saat pembicaraan.
- Identifikasi apa yang paling mengkhawatirkan saat berbicara didepan audiens dan mencari solusi untuk kekhawatiran itu.
Tidak semua ketakutan berbicara di depan umum sama. Bagi sebagian orang, itu adalah gagasan untuk berbicara dengan ruangan orang asing. Bagi yang lain, mungkin rasa takut melupakan apa yang ingin dikatakan saat pembicaraan didepan audiens, atau ketakutan bahwa apa yang disajikan akan jatuhnya datar dan tidak menarik. Misalnya, jika saya khawatir bahwa presentasi saya akan jatuh datar/tidak menarik, dengan berlatih di depan teman atau orang tepercaya untuk memberikan umpan balik. Jika saya khawatir bahwa saya akan melupakan konten/materi saya, maka membawa catatan, atau membuat slide yang memandu melalui presentasi. Intinya adalah bahwa pembicara memiliki kekuatan lebih dari yang pembicara mungkin berpikir untuk membuat solusi yang membuat berbicara di depan umum sedikit lebih mudah dan bisa dilakukan untuk pembicara.
References:
Molinsky, Andy. (2018). Conquer Your Fear of Public Speaking With These 5 Tips. https://www.psychologytoday.com/us/blog/adaptation/201811/conquer-your-fear-public-speaking-these-5-tips-0
Today, Psychology. Stage Fright. https://www.psychologytoday.com/us/basics/stage-fright
Tsaousides, Theo. (2017). Why Are We Scared of Public Speaking?. https://www.psychologytoday.com/us/blog/smashing-the-brainblocks/201711/why-are-we-scared-public-speaking
Sumber gambar: https://ahaslides.com/blog/conquering-stage-fright-mission-possible/