Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Cyberbullying Sosmed (Sosial Media) : Perlukah De-active Sementara??

Kemajuan teknologi di era modern ini telah banyak mengantarkan manusia untuk menciptakan bentuk baru dalam berinteraksi dan berkomunikasi, inovasi teknologi tersebut yakni dengan adanya bantuan komunikasi berupa media sosial. Sebagai sarana komunikasi yang efektif dan simple, media sosial berperan dalam kehidupan manusia sehari-harinya. Dengan adanya media sosial ini dapat memudahkan orang-orang untuk bertukar informasi dengan orang lain baik dalam situasi jangka dekat maupun yang jauh.

Keberadaan teknologi yang diciptakan tentunya memiliki sisi negatifnya apalagi dilihat dari kondisi sekarang hampir seluruh manusia menggunakan media sosial tak terkecuali dari anak-anak sampai orang tua, namun paling dominan yakni para remaja yang menggunakannya sebagai sistem komunikasi serta mengupdate info di account sosial medianya masing-masing. Jika dilihat sejauh ini ternyata masih banyak dari remaja yang menyalahgunakan dalam bermedia sosial. Munculnya situs-situs pertemanan di media sosial yang kian digandrungi jutaan penduduk dunia ternyata juga mampu memicu pergeseran nilai-nilai sosial dan etika dalam masyarakat khususnya remaja, media sosial telah menjadi bagian dari pengalaman tumbuh dewasa untuk para remaja.

Membicarakan tentang masalah remaja rasanya tak akan lepas dari beberapa aspek yang melekat pada mereka yang rata-rata masih berusia belasan tahun. Mulai dari kondisi emosi yang masih labil, smngat berkarya yang sangat tinggi serta keinginan untuk bisa tampil eksis dan ingin diakui oleh lingkungannya. Siapa yang tak ingin eksistensinya diakui oleh orang lain?. Semua orang pasti mau dan bahkan berusaha untuk mewujudkannya, begitu pula dengan remaja mreka yang dalam usia masih belia itu lebih suka ketika memiliki sebuah hal yang dapat dibanggakan. Sementara itu dalam ruang lingkup media sosial mendapat perhatian dan menumbuhkan citra dapat dikategorikan dengan ke-eksistensian diri.

Peningkatan waktu dalam menggunakan internet memungkinkan remaja untuk memiliki pengalaman yang lebih luas, namun juga mengakibatkan adanya kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh remaja tersebut misalnya pada cyberbullying. Perilaku cyerbullying dapat memberikan dampak negative antara lain korban mengalami depresi, kecemasan, ketidaknyamanan, prestasi menurun, anti sosial, bunuh diri, dan sebagainya. Perilaku bullying ini lebih parah saat pelaku membully korban melalui media sosial dibandingkan membully langsung dihadapannya, karena bullying di media sosial dapat mudah tersebar dan dilihat oleh banyak public figure lainnya dan hal itu dapat mengganggu mental psikis seseorang.

Kekerasan bullying pada remaja apabila tidak segera diselesaikan dengan baik dikhawatirkan akan muncul perilaku negative yang berakibat fatal. Maka harus adanya tindakan-tindakan yang dimulai dari diri sendiri misalnya dengan melakukan de-active untuk sementara waktu dengan begitu dapat menambah wawasan tentang penggunaan teknologi, meningkatkan kreatifitas, menemukan jati diri sendiri, serta dapat dapat merasakan damainya hidup tanpa media sosial.

Tujuan dilakukannya de-active media sosial yakni untuk berdamai dengan diri sendiri, karena sejak mengenal media sosial banyak orang yang selalu membandingkan dirinya sendiri terhadap kelebihan orang lain di dalam postingannya. Hal itu memicu adanya body shaming dan rasa insecure yang berlebihan yang mengundang rasa iri sehingga terjadinya bullying. Dari beberapa orang yang telah melakukan de-active media sosial, mereka merasa menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena banyak perubahan yang ia peroleh seperti mengembangkan bakat, mampu mengenal dan memahami diri sendiri serta dapat berdamai dengan kondisi sekitar.

Namun disamping itu, dukungan orang-orang sekitar juga perlu terutama orang tua yang menjadi support sistem paling utama. Agar bullying ini tidak terus terjadi maka kita harus bisa menjaga etika dan ketikan saat ingin berkomentar terhadap orang lain, jangan sampai nantinya ketikan kita dapat menyinggung perasaan orang lain karena mental tiap orang pasti berbeda-beda.

Referensi
Griggs, Asa (2009) Sejarah Sosial Media (Daeri Gutenberg Sampai Internet), Jakarta : 2009.

Nasrulloh, Rulli (2016) Pengaruh Kemajuan Teknologi Bagi Remaja Dan eksitensi-ebook.

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jipt/article/download/2003/2105. Diakses 16 Oktober 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *