Covid-19 kini telah memasuki tahun ketiganya, perubahan drastis kian dirasakan masyarakat diberbagai penjuru dunia. Adaptasi secara menyeluruh menjadi fokus pemerintah dan tak terkecuali organisasi intenasional. Dilansir dari World Health Organization (WHO), pandemi yang berkepanjangan ternyata berdampak kepada kesehatan mental seseorang. Berbagai aturan yang diterapkan untuk menekan penyebaran Covid-19 seperti lockdown dan isolasi diri berkontribusi terhadap krisis kesehatan mental khususnya kecemasan dan stres.
Maraknya informasi di media sosial terkait statistika angka kematian yang diakibatkan Covid-19 menimbulkan rasa takut dan kecemasan di masyarakat, takut akan dirinya terkena Covid-19, dan takut akan kehilangan anggota keluarga serta teman terdekat. Sehingga tingkat kecemasan dan stres pada saat pandemi menjadi berlebih dibandingkan sebelum pandemi.
Krisis Kesehatan Mental Orang Dewasa
Aturan lockdown atau pembatasana sosial bagi orang dewasa menjadi kekhawatiran yang serius dan berdampak kepada stres dan kecemasan berkepanjangan, hal ini dikarenakan tanggung jawab yang dipikul tidak hanya pada diri sendiri namun juga terhadap keluarga yang perlu dipenuhi kebutuhannya. Namun dikala pandemi marak dijumpai pemutusan hubungan kerja/PHK, sehingga meningkatnya angka pengguran serta krisis dalam berbagai bisnis bahkan berdampak pada penutupan bisnis tersebut.
Survei online diakhir bulan Mei 2020 oleh SurveyMETER memperlihatkan bahwa, terjadi peningkatan kecemasan sebesar 55% dan depresi sebesar 58% terhadap orang dewasa yang berumur 31-40 tahun, hal ini dipengaruhi oleh faktor perubahan status bekerja serta perubahan pendapatan selama pandemi COVID-19 yang meliputi lokasi di wilayah dengan jumlah kasus tinggi.
Krisis Kesehatan Mental Anak-anak dan Remaja
Krisis Kesehatan mental yang dirasakan anak-anak dan remaja berdasarkan laporan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) terjadi peningkatan di masa pandemi Covid-19. Dalam laporan The State of the World’s Children 2021 terhadap survie anak-anak dan orang dewasa di 21 negara menunjukkan anak muda pada usia 15-24 tahun sering merasa depresi dan rendah minatnya untuk berkegiatan. Adapun gejala yang ditimbulkan ketika kesehatan mental remaja tertekan yaitu, tidak bersemangat, nafsu makannya berkurang, pola tidurnya terganggu/susah tidur, dan juga khawatir yang berlebihan.
Hal yang melatar belakangi gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja kala pandemi yaitu, terhentinya proses belajar mengajar secara tatap muka yang kemudian merubah rutinitas anak. Keberadaanya yang lebih dominan dirumah dan terbatasnya sosialisasi terhadap guru maupun teman, sedangkan sosialisasi pada usia dini diperlukan untuk membangun intelektual dan emosional anak.
Kurangnya rekreasi dan berkegiatan diluar rumah karena ditutupnya semua akses pariwisata juga mempengaruhi kesehatan mental anak dan remaja, karena sarana pengalihan akan stres menjadi terbatas, tak jarang gadget menjadi alternatif penghilang stres guna mencari berbagai hiburan di media sosial, namun dampak baru yang muncul dari penggunaan gadget tidak dapat dipungkiri.
Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan gadget bagi anak-anak dan remaja tentu saja menghawatirkan jika tidak didampingi secara saksama oleh orang tua. Berbagai informasi yang buruk dan provokatif dapat dengan mudah ditiru dan diaktualisasikan anak-anak dan remaja. Sedangkan pembentukan akhlak dan budi pekerti yang luhur sangat diperlukan diusia mereka. Informasi terkait Covid-19 secara berlebihan juga dapat menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan pada anak.
Pandemi juga menghambat anak dan remaja untuk mengekspresikan serta mengembangkan berbagai kemampuannya, terkhusus yang membutuhkan kegiatan di luar ruangan, seperti olahraga, kursus musik, kursus bahasa asing, dan kemampuan lainnya.
Orang tua kini memiliki peran ekstra disamping mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, juga berperan dalam mendampingi anak belajar, mengasah keahlian anak, serta menjaga kesehatan mental anak dari stres berkepanjangan yang diakibatkan oleh pandemi.
Upaya Pemulihan Kesehatan Mental
Gangguan kesehatan mental yang berkepanjangan akibat pandemi dapat menimbulkan kerugian signifikan, tidak hanya terhadap kesehatan tetapi juga terhadap pendidikan dan masa depan anak, dimana kedepannya generasi muda akan berkonstribusi terhadap perekonomian negara.
Maka diperlukan upaya serius untuk memulihkan kembali kesehatan mental baik dari kalangan anak-anak, remaja dan dewasa. Salah satu upaya yang dapat diterapkan pemerintah melalui Kementerian yang bersangkutan yaitu, memberikan informasi terkait masalah kesehatan mental berupa buku pedoman, poster serta hotline service untuk berkonsultasi.
Penyedian jasa konsultasi gratis pada tingkat kelurahan, kota maupun sektor swasta sangat dibutuhkan terlebih saran dari ahlinya sehingga kecemasan, depresi dan stres tidak menumpuk dan mengganggu aktifitas lainnya.
Mengurangi mencari informasi terkait Covid-19 yang dapat menimbulkan stres serta memulai untuk hidup sehat dengan berolahraga secara teratur, memperhatikan asupan makanan yang bergizi dan tinggi nutrisi, melakukan relaksasi seperti yoga ataupun meditasi.
Referensi
- Wayan Suriasni, Bondan Sikoki dan Lisono. Gangguan Kesehatan Mental Meningkat Tajam :Sebuah Panggilan Meluaskan Layanan Kesehatan Jiwa. Research Brief Juli 2020. SurveyMETER. https://www.surveymeter.org/id/node/576.
- Dampak COVID-19 terhadap rendahnya kesehatan mental anak-anak dan pemuda hanyalah ‘puncak gunung es’ – UNICEF. 5 Oktober 2021. https://www.unicef.org/indonesia/id/press-releases/dampak-covid-19-terhadap-rendahnya-kesehatan-mental-anak-anak-dan-pemuda-hanyalah.
- Rosi Oktari. Perhatikan Kesehatan Mental Remaja Saat Pandemi COVID-19. https://indonesiabaik.id/infografis/perhatikan-kesehatan-mental-remaja-saat-pandemi-covid-19.